Rabu, 20 Januari 2021 / 7 Jumadil Akhir 1442 H

Nasional

Muhammadiyah: Indonesia Harus jadi Milik Semua

liputan6
Bagikan:

Hidayatullah.com– Sehubungan dengan pernyataan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj yang menjadi polemik di ruang publik, Ketua Umum PP Muhammadiyah, Dr Haedar Nashir, berharap agar warga Persyarikatan dan umat Islam bijak dan tidak terbawa suasana polemik.

“Tetap ciptakan suasana tenang dan ukhuwah, tidak perlu bereaksi melebihi takaran. Tunjukkan warga Persyarikatan cerdas dan dewasa,” jelas Haedar dalam siaran persnya di Yogyakarta, pada Senin (28/01/2019) diterima hidayatullah.com.

Haedar menuturkan bahwa Muhammadiyah tentu sangat berharap dan berpandangan tegas bahwa negara dan instansi pemerintahan Indonesia harus menjadi milik bersama sebagaimana amanat konstitusi, jangan menjadi milik golongan.

Baca: NU-Muhammadiyah Tingkatkan Kerja Sama Konstruktif

“Pemerintahan harus berasaskan meritokrasi atau dasar kepantasan dan karir, jangan di atas kriteria primordialisme atau sektarianisme. Jika Indonesia ingin menjadi negara modern yang maju, maka bangun good governance dan profesionalisme, termasuk di Kementerian Agama,” tegas Haedar.

Jangan berdasarkan kriteria golongan, apalagi dijadikan milik golongan tertentu. Jika primordialisme dibiarkan masuk dan dominan dalam institusi pemerintahan maka akan menghilangkan objektivisme dan prinsip negara milik semua.

“Bahayanya jika hal itu dibiarkan akan menjadi preseden buruk bagi demokrasi, bahkan dapat memicu konflik atau perebutan antargolongan di Indonesia,” imbuh Haedar.

Baca: Sekjen PBNU Klarifikasi Pernyataan KH Said Soal ‘Selain NU Salah Semua’

Haedar menegaskan, Indonesia jangan didominasi oleh satu golongan apalagi bermazhab golongan tertentu. Apalagi jika pandangan golongan itu menegasikan komponen bangsa lainnya, dengan menganggap diri paling benar, hal itu merupakan bentuk dari fatanisme dan menjurus ke radikalisme. Mau dikemanakan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika?

Haedar mengimbau, hendaknya semua tokoh umat dan bangsa penting mengedepankan ukhuwah secara autentik untuk merajut kebersamaan nan tulus dan tidak mengedepankan egoisme golongan.

“Di tahun politik ini bahkan jauhi ujaran-ujaran yang berpotensi menumbuhkan retak di tubuh umat dan bangsa, jika ingin Indonesia rukun dan utuh sebagaimana sering disuarakan dengan penuh gelora,” tutur Haedar.

Baca: PBNU Silaturahim ke PP Muhammadiyah

Para pemimpin agama niscaya menampilkan uswah hasanah dan tidak menebar resah agar umat makin santun dan bijaksana.

“Mari ciptakan suasana damai dan keadaban mulia dalam berbangsa,” ajak Haedar.

Namun demikian, Haedar berharap pidato Ketum PBNU tidak perlu ditanggapi berlebihan.

“Hendaknya pernyataan Kiai Aqil Siroj jangan jadi polemik di lingkungan umat Islam dan masyarakat, lebih-lebih di tahun politik. Semua pihak diharapkan bijak dan tidak memperpanjang masalah ini. Kita lebih baik mengedepankan ukhuwah dan mengerjakan agenda-agenda yang positif bagi kemajuan umat dan bangsa,” pungkas Haedar.*

Baca: NU-Muhammadiyah Serukan Pemerintah Serius Atasi Kesenjangan Ekonomi-Sosial

Rep: SKR
Editor: Muhammad Abdus Syakur

Bagikan:

Berita Terkait

Cegah Virus Corona, LPPOM MUI Terapkan Prosedur Pengecekan Pengunjung

Cegah Virus Corona, LPPOM MUI Terapkan Prosedur Pengecekan Pengunjung

Eep: Quick Count Tak Bisa Dipakai untuk Rumuskan Konklusi

Eep: Quick Count Tak Bisa Dipakai untuk Rumuskan Konklusi

Advokat Muslim Protes Keras Pendzaliman Terhadap HRS

Advokat Muslim Protes Keras Pendzaliman Terhadap HRS

Ketua MPR: Mosi Integral M Natsir Bukti Umat Islam Cinta NKRI

Ketua MPR: Mosi Integral M Natsir Bukti Umat Islam Cinta NKRI

Jumatan Pertama Pengungsi Korban Gempa di Masjid Darurat

Jumatan Pertama Pengungsi Korban Gempa di Masjid Darurat

Baca Juga

Berita Lainnya