Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Nasional

168 Orang Meninggal Korban Tsunami Selat Sunda

ist.
Bagikan:

Hidayatullah.com– Tsunami yang terjadi pada Sabtu (22/12/2018) malam menimpa sejumlah daerah di sepanjang pesisir pantai Selat Sunda, yaitu Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Serang (Banten), dan Lampung Selatan.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan bahwa daerah yang paling terdampak parah adalah Pandeglang. Hingga Ahad (23/12/2018) siang total korban jiwa mencapai 168 orang dan akan terus bertambah.

Dengan rincian, 126 korban jiwa di Pandeglang, 9 orang di Serang, dan 33 di Lampung Selatan, berdasarkan informasi dari Sutopo diterima redaksi sekitar pukul 14.00 WIB. Bangunan rusak sebanyak 558 rumah, 9 hotel, dan 30-an kios.

Baca: BMKG: Tsunami Selat Sunda Tidak Dipicu Gempa

Data-data tersebut terus ada pembaharuan. Dalam laporan Sutopo sebelumnya, data sementara pada pukul 11.00 WIB, sebanyak 62 orang meninggal dunia, luka-luka 584 orang, 20 orang hilang, 430 unit rumah rusak berat, 9 unit hotel rusak berat, 10 kapal rusak berat.

“Dan data ini akan terus bergerak naik, artinya data korban jiwa maupun kerusakan, ekonomi, akan bertambah mengingat belum semua wilayah dapat didata,”  ujar Sutopo dalam laporannya melalui video diterima hidayatullah.com.

Evakuasi korban tsunami di Selat Sunda terus dilakukan oleh tim gabungan. Alat berat dikerahkan untuk evakuasi.

“Daerah yang paling terdampak parah adalah Kabupaten Pandeglang yaitu kawasan wisata dan permukiman sepanjang pantai dari Tanjung Lesung, Sumur, Teluk Lada, Panimbang, dan Carita,” sebutnya.

Baca: Kena Tsunami, Kru Seventeen Band Meninggal, Banyak Belum Ketemu

Sutopo membantah adanya peringatan tsunami susulan dari BMKG yang sempat beredar.

“Tidak ada peringatan dini tsunami susulan dari BMKG. Adanya sirine tsunami di Teluk Labuhan, Kecamatan Labuhan, Kabupaten Pandeglang yang tiba-tiba bunyi sendiri bukan dari aktivasi BMKG, BPBD. Kemungkinan ada kerusakan teknis sehingga bunyi sendiri. Masyarakat mengungsi mendengar sirine,” ungkap Sutopo lewat akun Twitternya @Sutopo_PN.

Menurutnya, fenomena tsunami di Selat Sunda termasuk langka. Letusan Gunung Anak Krakatau juga tidak besar. “Tremor menerus namun tidak ada frekuensi tinggi yang mencurigakan. Tidak ada gempa yang memicu tsunami saat itu. Itulah sulitnya menentukan penyebab tsunami di awal kejadian,” ungkapnya.*

Baca: Konser di Pantai, Grup Band Seventeen Diterjang Tsunami

Rep: SKR
Editor: Muhammad Abdus Syakur

Bagikan:

Berita Terkait

Hasyim Muzadi: “Buat Klinik, Bukan Buat Undang-undang”

Hasyim Muzadi: “Buat Klinik, Bukan Buat Undang-undang”

PKS: UU Anti Kejahatan Seksual Lebih Penting

PKS: UU Anti Kejahatan Seksual Lebih Penting

Anies Siapkan Hotel untuk Tenaga Medis Covid-19

Anies Siapkan Hotel untuk Tenaga Medis Covid-19

Izin PIHK Penelantar CJH Diancam Dicabut

Izin PIHK Penelantar CJH Diancam Dicabut

Gus Solah: Menolak Komunisme Masa Radikal

Gus Solah: Menolak Komunisme Masa Radikal

Baca Juga

Berita Lainnya