Prof Wisnu Gardjito: “Emas Hijau” Harusnya Picu Ekonomi Masyarakat

"Di Indonesia kok masih banyak orang miskin. Padahal (lahan) kelapa 3,8 juta hektare. (Jika digarap) jadi 4 ribu triliun."

Prof Wisnu Gardjito: “Emas Hijau” Harusnya Picu Ekonomi Masyarakat
Zakhi Hidayatullah
Profesor Wisnu Gardjito pada acara Dialog Forum Ekonomi Dakwah (D'FED) di Ar-Rahman Qur'anic Learning (AQL) Islamic Center, Tebet, Jakata Selatan, Rabu (07/11/2018) malam.

Terkait

Hidayatullah.com– Berdikari dalam ekonomi, sehingga izzah umat Islam terpatri. Setidaknya gagasan tersebut menjadi salah satu poin penting pada acara Dialog Forum Ekonomi Dakwah (D’FED) yang digelar di Ar-Rahman Qur’anic Learning (AQL) Islamic Center, Tebet, Jakata Selatan, Rabu (07/11/2018) malam.

Membangun kemandirian ekonomi, terlebih jika memiliki atribusi ‘Islam’ di dalamnya tentu bukan pekerjaan semalaman. Dibutuhkan orang-orang yang tidak hanya memiliki semangat, namun juga profesional dalam bidangnya.

Pada acara malam itu, D’FED menghadirkan Profesor Wisnu Gardjito, seorang akademisi sekaligus praktisi yang sangat mengetahui selak-beluk bisnis kelapa.

Baca: Berjihad dengan Cara Hidupkan Ekonomi Umat

Dia menyebut kelapa sebagai “emas hijau” Indonesia. Jika betul-betul dimaksimalkan, masyarakat Indonesia semestinya tidak lagi perlu bergantung dengan produk-produk yang bertengger di supermarket.

“Kelapa ini banyak orang tahu tapi tidak mau tahu, termasuk Muslim. Dianggapnya paling jadi santen, minyak goreng, kelapa muda. Mereka tidak sadar kelapa itu kalau diproses turunannya bisa (jadi) 1.600 produk. Bisa lebih,” ujar Prof Gardjito, melansir INA News Agency.

Baca: Bangkitkan Ekonomi Umat Walau dengan Keripik Singkong

Dengan potensi besar yang dimiliki komoditi tersebut, Prof Gardjito mengaku heran. Menurutnya, luas perkebunan kelapa di Indonesia yang mencapai 3,8 juta hektare seharusnya sudah mampu memacu denyut ekonomi masyarakat.

Setidaknya cukup untuk membangun industri kecil rumahan seperti produksi kecap, minyak VCO, sabun, sirup, bumbu rendang dan banyak lagi.

“Di Indonesia kok masih banyak orang miskin. Padahal (lahan) kelapa 3,8 juta hektare. (Jika digarap) jadi 4 ribu triliun,” ucap lulusan IPB tersebut.

Baca: Kemandirian Ekonomi Umat dengan Masjid yang Berdaya

Prof Gardjito tak takut berkompetisi secara sehat dengan produk-produk besar yang menjadikan kelapa sebagai bahan bakunya. Hanya saja, dibutuhkan resources lebih memadai dari yang dia miliki saat ini untuk membesarkan bisnis yang menurutnya mesti digarap secara berjamaah.

Dalam forum itu, inisiator D’FED sekaligus pimpinan AQL Islamic Center, Ustadz Bachtiar Nasir (UBN), mengajak para peserta untuk saling kolaborasi dalam proyek tersebut. Beruntung, sebagian besar peserta adalah pengusaha Muslim yang sangat mendukung gagasan Prof Gardjito.

“Inilah yang sedang kami gagas. Duduk bersama orang-orang yang concern dengan ekonomi, tetapi pada akhirnya untuk dakwah,” jelas UBN menerangkan visi ekonominya.

Baca: Muhammadiyah: Sangat Bagus Spirit 212 Kembangkan Ekonomi Umat

Menurut UBN, Prof Gardjito menjalankan dakwah dengan apa yang dia kuasai. Cita-cita profesor lulusan universitas di Jepang dan Amerika Serikat itu salah satunya adalah mengangkat derajat umat Islam melalui ekonomi.

“Karena tujuan (bisnisnya) bukanlah kekuasaan dan kekayaan, tapi mengajak manusia kepada Allah, maka pada akhirnya juga harus dakwah,” pungkas UBN.* (SF/INA)

Rep: Admin Hidcom

Editor: Muhammad Abdus Syakur

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , , , , , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !