Selasa, 19 Januari 2021 / 6 Jumadil Akhir 1442 H

Nasional

Ketua Umum Hidayatullah Raih Doktor Syariah

imam nawawi/hidayatullah.com
Ketua Umum DPP Hidayatullah, Nashirul Haq
Bagikan:

Hidayatullah.com– Rasa syukur menyelimuti hari Nashirul Haq. Pria yang menjabat Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah ini dengan gemilang mempertahankan desertasinya di depan dewan penguji di Universitas Islam Internasional Malaysia (UIIM) pertengahan Oktober ini.

Atas keberhasilannya itu, Nashirul berhak menyandang gelar Ph.D atau doktor bidang syariah

Bertindak sebagai penguji adalah Assoc. Prof. Dr. Fouad Mahmoud Mohammed Rawash (UIIM), Prof. Dr. Muhammad Al-Zuhayli dari Universitas Syariah Uni Emirat Arab, dan Prof. Dr. Salih Kadir al Zinki dari Universitas Qatar serta penguji internal Prof. Dr. Muhammad Amanullah dari UIIM.

Desertasi Nashirul berjudul: “Atsar Maqashid As Syariah Fil Al Ifta: Dirasah Tahliliyah Muqaranah Baina Fatawa As Syaikh Muhammad Shalih Al Utsaimin wa As Syekh Yusuf Al Qaradhawi”. Artinya, pengaruh teori maqashid syariah dalam fatwa: studi analisis komparatif fatwa Syeikh Muhammad Shaleh Al-Utsaimin dan Syeikh Yusuf Al-Qaradhawi.

Baca: Nashirul Haq: Tahun Baru 1440 H Momen Perkuat Ukhuwah

Dalam menulis desertasi, pria yang kini berusia 45 tahun ini dibimbing Assoc. Prof. Dr. Bouhedda Ghalia asal Al-Jazair, pakar di bidang maqashid syariah yang menjadi dosen di jurusan Fiqh dan Ushul Fiqh, Kulliyyah of Islamic Knowledge and Human Sciences IIUM.

Syeikh Muhammad ibn Salih Al-Utsaimin dan Syeikh Yusuf Al-Qaradhawi adalah ulama besar nan masyhur. Dua ulama ini banyak dipakai umat Islam di dunia, juga Indonesia.

Kedua ulama itu, kata Nashirul, punya pemikiran yang berbeda bahkan bertolak belakang. Syeikh Al-Utsaimin sangat teguh memegang teks atau dalil, sementara Syeikh Al-Qaradhawi lebih melihat konteks dan spirit teks.

Baca: Buku Al Utsaimin Ditengarai Ikut Dilarang di Aljazair

Kedua metode itu, kata Nashirul dibolehkan dalam Islam. Perbedaan di antara mereka justru memberi hikmah.

“Perbedaan di antara keduanya memberi ruang kepada umat untuk memilih fatwa yang sesuai dengan kondisi dan situasi yang dihadapi. Di sinilah terasa elastisitas syariat Islam,” jelas Nashirul, yang juga lulusan Universitas Islam Madinah, Arab Saudi ini.

Meski berbeda, lanjut Nashirul, mereka berdua tetap menjaga adab dan etika saat berpendapat.

“Mereka tidak pernah menyerang pribadi,” katanya.

Ingin tahu lebih jauh desertasi dan pemikiran Nashirul, ikuti di majalah Suara Hidayatullah edisi November 2018 mendatang.*

Baca: Saudi Larang Buku Hasan Al Banna, Al Qaradhawi serta Sayyid Quthb di Perpustakaan Sekolah

Rep: Bambang S
Editor: Muhammad Abdus Syakur

Bagikan:

Berita Terkait

KNRP Desak DPR Tidak ‘Masuk Angin’ dalam Memilih Anggota KPI Baru

KNRP Desak DPR Tidak ‘Masuk Angin’ dalam Memilih Anggota KPI Baru

Haedar Ajak Para Pemimpin Ikhlas Berkhidmat, Kasih Teladan

Haedar Ajak Para Pemimpin Ikhlas Berkhidmat, Kasih Teladan

Dai Papua: Umat Islam Harus Pegang Akidah yang Kuat Dalam Berdakwah

Dai Papua: Umat Islam Harus Pegang Akidah yang Kuat Dalam Berdakwah

SAR Hidayatullah akan Lepas Penyu dan Tanam Pohon

SAR Hidayatullah akan Lepas Penyu dan Tanam Pohon

Kemenag – Turki Beri Beasiswa Tahfidz Al-Quran

Kemenag – Turki Beri Beasiswa Tahfidz Al-Quran

Baca Juga

Berita Lainnya