Senin, 5 Juli 2021 / 25 Zulqa'dah 1442 H

Nasional

Hafizhah 30 Juz Santri Terbaik Meninggal Tertimpa Bangunan Saat Gempa

ist.
Fauziyatul Khaeriyah, alumnus MA Ponpes Darul Dakwah wal Irsyad (DDI) Mangkoso, Kabupaten Barru, korban gempa Palu, Jumat (28/09/2018).
Bagikan:

Hidayatullah.com– Fauziyatul Khaeriyah, lulusan terbaik Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Darul Dakwah wal Irsyad (DDI) Mangkoso, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan, ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa di bawah reruntuhan bangunan, pada Ahad (30/09/2018).

Khaeriyah adalah korban gempa yang melanda Palu dua hari yang lalu, Jumat (28/09/2018).

Selain berperetasi dalam bidang akademik, di usianya yang baru memasuki 18 tahun, Khaeriyah juga merupakan seorang penghafal Al-Qur’an (hafizhah) 30 juz dan seorang qari’ah bersuara merdu.

Baca: Palu Masih Mencekam, Mayat-mayat Bergelimpangan Belum Dievakuasi

Dia adalah santriwati asal Sulawesi Tengah, putri Muhammad Alwi S.Ag dan Hasna. Kedua orang tuanya juga merupakan lulusan dari pesantren DDI Mangkoso.

“Khaeriyah adalah santriwati yang taat, sopan, dan alim. Selama di pesantren tidak pernah sekalipun dia melanggar aturan,” kata kepala sekolah Madrasah Aliyah DDI Mangkoso, Herman Tabi, kepada INA News Agency.

Herman mengungkapkan, Khaeriyah mulai mondok di pesantren DDI Mangkoso sejak Madrasah Tsanawiyah, kemudian melanjutkan belajarnya di Madrasah Aliyah yang terletak di bukit Bulu Lampang.

“Dia mulai menghafal saat kelas satu Aliyah dan berhasil menyelesaikan hafalannya 30 Juz pada tahun 2018,” tutur Herman.

Baca: Tsunami Palu dan Donggala, Sejumlah Korban Meninggal, Kondisi Darurat

Sejak duduk di Madrasah Tsanawiyah, lanjut Herman, Khaeriyah selalu menempati rangking 10 besar. Dia lulus Aliyah tahun ini dengan menyabet sebagai lulusan terbaik.

Selama mondok dan menyelesaikan hafalannya di pesantren, dia baru pulang setelah khatam dan penamatan pondok bulan Juli lalu.

Fauziyatul Khaeriyah (dilingkari), alumnus MA Ponpes Darul Dakwah wal Irsyad (DDI) Mangkoso, Kabupaten Barru. [Foto: Ist.]

“Ketika saat terakhir meninggalkan pesantren di Kampus Bululampang, almarhum(ah) sempat tersenyum bersama kedua orangtuanya dengan penuh kebahagiaan sambil melambaikan tangan dan berkata semoga bisa bertemu kembali kampusku,” kenangnya.

Khaeriyah belum berniat kuliah, kata Herman, karena masih mau mendaras hafalannya di Palu. Ketika gempa datang dia sedang mendaras hafalannya.

Sampai saat ini, kabar kedua orangtua Khaeriyah belum diketahui.*/Ameera

Baca: Korban Meninggal di Sulteng Jadi 832 Orang, Diperkirakan Bertambah

Rep: Admin Hidcom
Editor: Muhammad Abdus Syakur

Bagikan:

Berita Terkait

RUU Cipta Kerja Segera Jadi Undang-Undang, LBH: Mereka yang di DPR Bukan Wakil Rakyat

RUU Cipta Kerja Segera Jadi Undang-Undang, LBH: Mereka yang di DPR Bukan Wakil Rakyat

Perusahaan “Yahudi” Terbukti Lakukan Monopoli

Perusahaan “Yahudi” Terbukti Lakukan Monopoli

KMKI dan Yayasan Al Khansa Sentuh Korban Banjir Karawang

KMKI dan Yayasan Al Khansa Sentuh Korban Banjir Karawang

Sekitar 10 Ribu Dai-daiyah akan Bersilaturahim di Balikpapan

Sekitar 10 Ribu Dai-daiyah akan Bersilaturahim di Balikpapan

Bantah Dakwaan Jaksa, Kuasa Hukum Buni Yani Beberkan 9 Poin Eksepsi

Bantah Dakwaan Jaksa, Kuasa Hukum Buni Yani Beberkan 9 Poin Eksepsi

Baca Juga

Berita Lainnya