Warga Lombok Utara Tolak Bantuan Asing Berunsur Propaganda Agama

Tokoh Kristen di KLU Lalu Fauzen membenarkan adanya bantuan dari organisasi yang berpusat di Boone, North Carolina, Amerika Serikat tersebut.

Warga Lombok Utara Tolak Bantuan Asing Berunsur Propaganda Agama
INA

Terkait

Hidayatullah.com– Di tengah kesulitan akibat musibah gempa, warga Lombok, NTB, kian diresahkan dengan munculnya dugaan propaganda agama. Sebagaimana telah ramai di jagad maya, dan telah ditangani aparat berwenang, praktek itu dilancarkan melalui modus bantuan kemanusiaan.

Bantuan yang diberikan di antaranya berupa buku-buku, tikar, mainan anak-anak hingga pendampingan psikologis dengan sekaligus menyisipkan ajaran agama yang berlainan dengan keyakinan yang dianut para korban.

Selama sepekan (15 – 21 September), jurnalis INA News Agency terjun langsung ke Kabupaten Lombok Utara (KLU) -lokasi yang diduga menjadi target sasaran- untuk memperoleh keterangan dari berbagai pihak.

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), KLU merupakan lokasi yang mengalami dampak kerusakan paling parah.

Baca: Pengakuan Dewi Handayani soal Video Dugaan Bantuan Berkedok Misi Agama Tertentu

Selama menyusuri jalan di KLU, memang sebagian besar bangunan tampak rata dengan tanah. Hal ini mengindikasikan bahwa para korban gempa di KLU yang saat ini lemah secara ekonomi sangat membutuhkan uluran tangan para donatur. Sehingga, lembaga-lembaga kemanusiaan pun menjadikan KLU sebagai wilayah utama pendistribusian bantuan.

Guna memperoleh informasi awal, penelusuran dimulai dengan mendatangi Iqbal (nama disamarkan), Koordinator Posko di salah satu dusun di Kecamatan Gangga, Lombok Utara.

Berdasarkan pengakuannya, dusun ini sempat didatangi sejumlah orang yang mendistribusikan bantuan berupa buku, mainan, serta pengobatan gratis. Namun, dia sangat menyesalkan atas apa yang dia lihat pada isi bantuan-bantuan tersebut.

“Mohon maaf kami di sini kan mayoritas Muslim. Ketika pembagian mainan anak-anak kemarin itu (26/08/2018), ada mainan yang tidak sesuai dengan budaya kami di sini. Mainan yang disangkutkan dengan agama seperti (tulisan) merry christmas,” ungkap Iqbal, Ahad (16/09/2018) lalu.

Baca: MUI NTB: Usut Dugaan Bantuan Berkedok Misi Agama Tertentu

Pada buku dan mainan-mainan yang dibagikan, lanjutnya, terdapat lambang organisasi kekristenan yang bergerak di bidang kemanusiaan. “Namanya Operation Christmas Child. Katanya mainan-mainan itu dari seluruh dunia,” tutur dia.

Pada video yang sempat viral di media sosial, lambang itu nampak jelas terlihat pada kardus-kardus bantuan yang didistribusikan ke dusun tempat Iqbal tinggal pada Ahad 26 Agustus lalu.

Operation Christmas Child disingkat OCC, dalam situs resminya menyatakan sebagai organisasi non-pemerintah Kristen evangelis internasional yang memiliki aktivitas berupa pengiriman bantuan fisik dan spiritual kepada anak-anak yang mengalami musibah di seluruh dunia.

Tokoh Kristen di KLU Lalu Fauzen membenarkan adanya bantuan dari organisasi yang berpusat di Boone, North Carolina, Amerika Serikat tersebut. Bahkan, Lalu mengakui, sebagian arus bantuan yang berasal dari sejumlah organisasi kekristenan telah melakukan koordinasi dengan dirinya.

Baca: Din: Jangan Lakukan Pemurtadan Pengungsi Lombok

Khusus soal OCC, Pendeta dari Gereja Bethel Indonesia (GBI) di Mataram itu menjelaskan, mainan dan buku-buku tersebut sengaja diminta oleh instansi tertentu untuk didistribusikan ke Lombok.

“Barang-barang ini dari Amerika, Belanda, dibagikan ke semua (pemeluk) agama. Mereka tahu saya di Lombok dan minta tolong untuk dibantu memberikannya ke anak-anak. OCC itu menghubungi saya dari Bali, datang ke sini,” ungkap Lalu kepada INA, Jumat (21/09/2018).

Kendati demikian, pendeta yang dahulu merupakan seorang Muslim ini menegaskan, pihaknya beserta instansi terkait telah melakukan penyortiran sebelum didistribusikan ke posko pengungsian.

“Yang tidak sesuai dengan budaya, akidah, kepercayaan, pokoknya yang tidak berkenan dengan keyakinan (masyarakat Muslim) itu kami tarik. Semua hadiah itu diseleksi baru boleh dibawa pulang. Kan yang diberikan itu apa yang mereka (OCC) senangi, seperti Al-Kitab (Injil), salib, emas. Itu yang mereka berikan untuk orang-orang di seluruh dunia,” paparnya.

“Yang lolos itu berarti pencuri. Dia mencuri dan mengambil tanpa seizin kita,” lanjut Lalu.

Lebih lanjut dia menambahkan, meski dirinya mengaku membuka jalan bagi sebagian bantuan dari luar ke Lombok, namun, dia tak mampu mengontrol semua arus distribusi bantuan yang berasal dari organisasi kekristenan.

Baca: Menag Tegaskan Misi Kemanusiaan Agar Steril dari Upaya Pemurtadan

Menjaga Agama

Sementara, Iqbal tidak ingin mengambil resiko. Mengetahui bantuan tersebut berpotensi mengancam keyakinan warga di dusunnya, dengan segera dia mengembalikan sejumlah bantuan yang mengandung unsur propaganda agama.

“Anak-anak jika dikasih (pilihan) daging dengan mainan mereka akan pilih mainan. Jadi paket mainan yang tidak sesuai itu kami kembalikan, kita enggak buang,” ucapnya.

Kepala Dusun Mukhlis (juga nama samaran) mengimbau agar warga tidak mudah menerima begitu saja bantuan yang didistribusikan ke posko-posko warga di KLU.

“Dalam menerima bantuan itu harus cerdas. Jadi, kita ini korban dan butuh bantuan. Tetapi jangan sampai kita dikorbankan. Ketika ada bantuan kita juga memilah. Kalau ada unsur agama kita bisa saring,” pungkas Mukhlis.

Baca: MUI: Ada Penyebaran Agama Lain kepada Pengungsi Lombok

Menurut Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KLU Tuan Guru Abdul Karim, propaganda agama di Lombok Utara telah mereda. Umat Islam beserta berbagai elemen masyarakat telah melakukan penyisiran ke tempat-tempat yang rawan menjadi target sasaran.

“Bisa saja (propaganda agama) masuk dengan musibah gempa sekarang ini. Begitu kita mencium itu, langsung kita turun dan mengingatkan. Sejak isu itu muncul, yang kami ketahui itu tidak berlanjut. Kalau itu sampai terjadi (kembali), kita kejar betul dia,” tegas Abah Karim di pondok pesantren binaannya di daerah Bayan, pada Selasa (18/09/2018).

Ketua MUI Provinsi NTB Tuan Guru Syaiful Muslim menambahkan, umat Islam di NTB terkenal memegang tradisi keislaman dengan kuat. Sehingga, menurutnya tidak mudah menggoyahkan keyakinan mereka.

“Orang Sasak itu identik dengan Islam. Bahkan, walaupun mereka datang bertubi-tubi, umat Islam tidak akan terpengaruh. Kami di NTB, walaupun dia maling, kemudian dia menyatakan Islam, kemudian Islam itu disindir orang, ngamuk dia,” ujarnya di Kantor MUI NTB, di Mataram, pada Senin (17/09/2018).* (T/INA News Agency)

Rep: Admin Hidcom

Editor: Muhammad Abdus Syakur

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , , , , , , , , , , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !