Jum'at, 21 Januari 2022 / 17 Jumadil Akhir 1443 H

Nasional

Sejarawan: Konsep Berkorban Tak Pernah Lekang oleh Zaman

hafiezagam.WP
Alwi Alatas dalam bedah bukunya 'Shalahuddin Al-Ayyubi dan Perang Salib III' di AQL Islamic Center, Jakarta
Bagikan:

Hidayatullah.com– Sejarawan Alwi Alatas mengatakan, esensi penyembelihan Ismail oleh ayahnya -Nabi Ibrahim, adalah mengorbankan sesuatu yang dicintai karena Allah Subhanahu Wata‘ala.

Bayangkan, sudah puluhan tahun Nabi Ibrahim tidak memiliki anak, tapi ketika mendapatkan seorang anak, ia malah harus menyembelihnya. Ini, menurut Alwi, menggambarkan satu puncak pengorbanan.

“Hal ini juga mengajarkan pada kita bahwa apa-apa yang kita cintai di dunia ini (harta, keluarga, dan lain-lain), seberapa pun tinggi nilainya, bukanlah apa-apa di hadapan Allah. Semua hanya sarana menuju Allah. Kalau tidak begitu, maka semua itu justru menjadi penghalang kepada Allah,” ujar dosen sejarah Islam International Islamic University Malaysia (IIUM) ini saat dihubungi hidayatullah.com Jakarta di Hari Raya Idul Adha, Rabu (22/08/2018).

Ajaran berkorban, tutur Alwi, sudah setua sejarah itu sendiri. Sudah dimulai oleh anak-anak Nabi Adam. Tapi walaupun tua, menurutnya, konsep berkorban sama sekali tak pernah lekang oleh zaman.

“Semodern apa pun peradaban, pengorbanan tetap menjadi tema penting kemanusiaan. Justru melalui pengorbanan itulah, dengan melepas, bukan sebaliknya dengan mendekap kuat-kuat apa-apa yang dimiliki, manusia mempertahankan nilai-nilai kemanusiaannya. Bahkan membuatnya naik ke derajat kemanusiaan yang lebih tinggi,” ucapnya.

Pengorbanan ini bisa juga dalam konteks mengatasi masalah kelaparan dan kemiskinan.

Caranya, kata Alwi, dengan memberi sebagian harta yang dimiliki kepada yang membutuhkan.

Selain itu, tambahnya, bisa dengan berkorban waktu dan pikiran dengan membuat prioritas dan strategi secara jama’i (bersama-sama) untuk mengangkat ekonomi masyarakat yang susah.

“(Juga) berkorban untuk mendahulukan membeli produk dan dagangan saudaranya yang Muslim untuk memperkuat ekonomi umat,” tutup penulis disertasi “Economy of the Pribumi in Late Colonial Java 1900-1942 C.E.: Continuity and Change in Priangan” ini.* Andi

Rep: Admin Hidcom
Editor: Muhammad Abdus Syakur

Bagikan:

Berita Terkait

WNI Kazakhstan

Situasi Kazakhstan Memanas, WNI Diminta Tetap Dirumah

Kapolri Tegaskan Tak Ada Perusakan dan Pembakaran Gereja

Kapolri Tegaskan Tak Ada Perusakan dan Pembakaran Gereja

PUSHAMI Desak Komisi III Segera Bentuk Panja terkait Tindakan Densus

PUSHAMI Desak Komisi III Segera Bentuk Panja terkait Tindakan Densus

OKI Menyampaikan Belasungkawa Indonesia

Komisi I Dorong Kemlu Minta OKI Gelar Sidang Darurat soal Palestina

Pemuda Muhammadiyah: Kriminalisasi Ranu Potret Ketidakadilan yang Menyayat Hati

Pemuda Muhammadiyah: Kriminalisasi Ranu Potret Ketidakadilan yang Menyayat Hati

Baca Juga

Berita Lainnya