Rumah Hasil Menabung 10 Tahun, Ambruk dalam 15 Detik

Namun ia menyadari bahwa apa yang menimpanya adalah ketentuan terbaik dari Allah.

Rumah Hasil Menabung 10 Tahun, Ambruk dalam 15 Detik
Hilman/INA
Taufik berdiri di depan rumahnya yang hancur akibat gempa 7 SR di Dusun Jorong, Desa Sembalun Bumbung, Sembalun, Lombok Timur, NTB, Agustus 2018.

Terkait

Hidayatullah.com– Manusia tak bisa mengira apa yang terjadi di masa mendatang. Banyak yang tak terprediksi, dan itu terjadi.

Banyak hal yang direncanakan jauh-jauh hari, tapi tak kunjung terealisasi. Atau bahkan ada pula yang baru saja meraih bahagia, sirna seketika.

Itulah yang dialami Taufik (31), pengungsi korban gempa NTB di Dusun Jorong, Desa Sembalun Bumbung, Sembalun, Lombok Timur.

Baca: Gempa NTB Belum Dijadikan Bencana Nasional: 436 Orang Meninggal, Kerugian > Rp 5 Triliun

Selama 10 tahun Taufik bekerja di sebuah restoran di Legian, Bali. Mulai 2005 hingga 2015, ia bekerja keras mengumpulkan uang demi rumah idaman keluarga.

Namun nahas, rumah hasil menabung 10 tahun, ambruk dalam 15 detik akibat gempa Lombok.

Taufik membangun rumah secara berangsur. Hasil gajinya setiap bulan ia kirim ke Lombok untuk membangun rumah.

Bahkan ia terpaksa berutang ke toko bangunan agar rumahnya cepat selesai.

Baca: Kisah Ibu Selamatkan Bayi Berusia Sehari dari Reruntuhan Gempa

“Setiap bulan saya kirim Rp 1 juta, kadang Rp 2 juta untuk bangun rumah. Dan selama 10 tahun saya terus nyicil untuk bayar utang bangunan,” ungkap Taufik pada INA News Agency (INA), Kamis (16/08/2018).

Rumah Taufik roboh. Sedangkan gerai pulsa miliknya pun rusak parah. Sebagian dindingnya roboh, sedangkan lantai atasnya retak-retak. Sehingga gerai pulsa yang menjadi mata pencahariannya tak lagi bisa digunakan.

“Sedih saya kalau mengingatnya, kerja selama 10 tahun terasa tidak ada artinya,” ungkap Taufik menahan tangis.

Baca: Dilanda Gempa Berkali-kali, Rumah Guru Ngaji Ini Utuh

Namun ia menyadari bahwa apa yang menimpanya adalah ketentuan terbaik dari Allah. Ia mengatakan bahwa gempa yang menimpanya membuatnya merenung.

“Saya ambil hikmahnya, mungkin kita banyak salah,” ungkapnya (12/08/2018).

Meski ditimpa bencana, Taufik tetap bersyukur. Ia mengungkapkan meski saat ini rumah dan mata pencahariannya tidak ada, tapi ia tetap bersyukur karena masih diberi kesempatan hidup. Dan karena alasan itulah, ia merasa masih banyak orang yang di bawahnya yang lebih layak untuk ditolong.

“Masih banyak yang di bawah kita, jadi kita masih punya banyak alasan untuk bersyukur,” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.

Baca: Kesaksian Kakek Selamat dari Reruntuhan Masjid Saat Gempa

Hal serupa dialami Hadri (36), warga Dusun Reguar, Desa Bilopetung, Sembalun, Lombok Timur. Rumah yang baru dibangun, ambruk dalam hitungan detik.

Hadri membangun rumah hasil jerih payahnya merantau selama 6 tahun di Samarinda, Kalimantan Timur. Di rumah yang baru saja ia tempati selama dua bulan, ia tinggal bersama anaknya, Erik Pramanagandi (11), mertua, dan anak yatim yang ia asuh sejak kecil.

Rumah Hadri rata dengan tanah. Yang tersisa hanya puing-puing yang berserakan. Kini ia tinggal di tenda sebelah reruntuhan dengan keadaan serba kekurangan.

“Kami tinggal di sini seadanya. Ndak ada selimut sama kekurangan air,” ungkap Hadri.* Hilman/INA News Agency

Baca: Pengungsi Sembalun Sumbang 45 Ton Sayuran ke Korban Gempa Lombok

Rep: Admin Hidcom

Editor: Muhammad Abdus Syakur

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !