DDII Kirim 67 Peserta Kafilah Dakwah Ramadhan 1439 H

Dai harus mampu merekatkan NKRI yang sudah menjadi konsensus para founding father, dimana salah satu pencetus NKRI adalah Mohammad Natsir melalui Mosi Integral pada 3 April 1950.

DDII Kirim 67 Peserta Kafilah Dakwah Ramadhan 1439 H
ist.
Pelepasan dai dan daiyah (tidak terlihat) DDII di Gedung Menara Da'wah, Kramat Raya, Jakarta Pusat, Kamis (03/05/2018).

Terkait

Hidayatullah.com– Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII) melakukan pelepasan puluhan dai dan daiyah Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) Mohammad Natsir untuk diterjunkan ke pelosok negeri di bulan Ramadhan 1439 H.

Sekretaris Umum Dewan Da’wah, Avid Sholihin, menuturkan, tantangan teritorial dakwah ke depan sangat kompleks. Terlebih, Indonesia terdiri dari 17.000 pulau dengan 34 provinsi memiliki daerah terluar, terisolir, termaginalkan, dan pedalaman. Sehingga, memerlukan pembinaan intensif dari para dai.

“Kerawanan pendangkalan aqidah (pemurtadan) tidak hanya terjadi di perkotaan, tetapi juga daerah pedalaman dan terasing. Karena itu, sejak awal didirikan, Dewan Da’wah mengambil porsi perjuangan untuk dakwah di wilayah terpencil,” ujar Avid di Gedung Menara Da’wah, Kramat Raya, Jakarta Pusat, Kamis (03/05/2018) dalam rilis yang sampai ke redaksi.

Baca: BAZNAS-DDII Terus Cetak “Kader Seribu Ulama”

Hal itu selaras dengan fungsi Dewan Da’wah yaitu mengawal aqidah, menegakkan syariah, menguatkan ukhuwah, mendukung solidaritas, dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Kami berharap para dai dapat melakukan fungsi Dewan Da’wah. Nah, menegakkan syariat bukan hanya potong tangan dan hukum cambuk. Tetapi syariah adalah tata cara kehidupan yang diatur oleh Allah Subhanahu Wata’ala dan dicontohkan oleh Rasulullah dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi,” jelasnya.

Selain itu, kata Avid, dai Dewan Da’wah juga harus mampu merekatkan pluralitas masyarakat.

“Yang namanya perbedaan itu masih bisa dikompromikan, tetapi kalau sudah penyimpangan, nah itu yang tidak dapat ditoleransi,” ungkap dia.

Dai, lanjut Avid, harus mampu merekatkan NKRI yang sudah menjadi konsensus para founding father, dimana salah satu pencetus NKRI adalah Mohammad Natsir melalui Mosi Integral pada 3 April 1950.

Guna mengimbangi gerakan mahasiswa Sekolah Tinggi Teologi (STT) Apostolos yang mewajibkan mahasiswa semester 6 untuk memiliki 10 masyarakat binaan sebagai syarat naik ke tingkat selanjutnya, Avid mengimbau setiap da’i dan daiyah memiliki 100 jamaah binaan.

“Permintaan umat (terhadap dai) ini sangat luar biasa. Sehingga, jika ditangani oleh STID, tentu belum dapat mencukupi kebutuhan. Maka, kami membutuhkan dukungan dari berbagai elemen,” katanya.

Ia berharap, dukungan dari para muzakki terutama lembaga zakat terus digulirkan guna mensukseskan kerja-kerja dakwah.

“Dewan Da’wah sangat berterima kasih atas dukungan BAZNAS. Salah satu program kerja sama Dewan Da’wah (dengan BAZNAS) adalah program Kaderisasi Seribu Ulama (KSU). Kami berharap program ini tetap berkelanjutan untuk mencetak generasi-generasi dai ilaAllah,” pungkasnya.

Direktur Pendayagunaan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), Nasir Tajang, berpesan kepada 67 dai dan daiyah itu, agar dapat mewujudkan ekonomi kerakyatan di tempat tugasnya masing-masing.

Menurutnya, tantangan dakwah saat ini adalah kerja keras dan keikhlasan. Jika hal ini dapat dikerjakan, maka Allah yang akan menggerakkan hati masyarakat untuk menerima seruan para dai.

“Kami targetkan daerah-daerah yang membutuhkan dapat dipenuhi. Sebab, Indonesia masih tertinggal jauh dari kesejahteraan layak. Karenanya, dai juga dituntut untuk dapat mewujudkan pemberdayaan ekonomi,” ujar dia.

Baca: DDII Minta Pemerintah Hentikan “Kriminalisasi” atas Tokoh-tokoh Islam

Para dai dan daiyah, setelah lulus, kata Nasir, dapat melanjutkan jenjang pendidikan S-2 dan S-3 melalui program KSU yang selama ini digulirkan BAZNAS bekerja sama dengan Dewan Da’wah.

“Tentu (dai dan daiyah) menjadi aset dan jaringan kami ke depan. Jika kebutuhan umat menuntut mereka sekolah lagi, ini menjadi hal strategis untuk dilakukan BAZNAS. Kita upayakan tahun 2019 (program KSU) dapat berjalan kembali,” pungkasnya.

Ketua STID Mohammad Natsir, Dwi Budiman, mengatakan kafilah dakwah adalah salah satu program STID Jakarta sejak tahun 2004, dalam rangka berdakwah dan membina masyarakat pedalaman, selama 2 bulan atau lebih pada bulan Ramadhan.

Kala itu, tahun 2004 program ini bernama duta dakwah dan baru diikuti 9 orang dari setiap angkatan. Sebelum diberangkatkan, para peserta diberikan materi pelatihan meliputi orientasi dan pemetaan dakwah, komunikasi massa, penyusunan progress and reporting, dan pelatihan lifeskill praktis.

“Keseriusan dan komitmen dalam dakwah merupakan kunci keberhasilan. Mudah-mudahan adik-adik dapat melanjutkan ke jenjang S-2 dan S-3 setelah lulus nanti,” harapnya.

Para peserta kafilah dakwah tahun ini dikirim ke 5 provinsi. Di antaranya NTT, Sulawesi Tengah, Riau, Sumatera Utara, dan Jawa Tengah.*

Rep: Niesky Abdullah

Editor: Muhammad Abdus Syakur

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , , , , , , , , , , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !