Kamis, 4 Maret 2021 / 20 Rajab 1442 H

Nasional

“Jika Tuntutan Buruh Semakin Banyak dan Kritis, Artinya Rakyat Makin Susah”

M Agung Rajasa
[Ilustrasi] Ribuan buruh saat berunjuk rasa memperingati Hari Buruh Sedunia di Jalan MH Thamrin, Jakarta, Kamis (01/05/2016).
Bagikan:

Hidayatullah.com– Menurut senator Fahira Idris, May Day atau Hari Buruh Internasional yang jatuh tiap tanggal 1 Mei, bukanlah seremoni belaka.

Namun dinilai merupakan momentum refleksi terutama bagi Presiden Joko Widodo untuk mengevaluasi, sudah sejauh mana kebijakan dan programnya menyejahterakan kehidupan rakyatnya dirasakan dampaknya.

Buruh atau kaum pekerja menjadi patakon tingkat kesejahteraan. Kalau, jelasnya, di sebuah negara yang buruhnya sudah sejahtera, dapat dipastikan lapisan masyarakat lainnya, apapun profesinya juga sejahtera.

“Itulah kenapa isu Peringatan May Day dari tahun ke tahun, bukan hanya soal upah dan sistem ketenagakerjaan saja. Tetapi isu-isu lain mulai dari pendidikan, pelayanan kesehatan, jaminan sosial, ketimpangan sosial dan ekonomi, penggusuran, pelestarian lingkungan hidup hingga menggugat berbagai kebijakan Pemerintah yang mempersulit kehidupan rakyat.

Jika setiap May Day, tuntutan buruh semakin kritis dan banyak, artinya kehidupan rakyat makin susah,” ujar Ketua Komite III DPD RI yang membidangi persoalan tenaga kerja Fahira Idris dalam pernyataannya di Jakarta, Senin (30/04/2018).

Baca: Mogok Nasional 25 November, 500 Ribu Massa Buruh akan Demo Istana

Fahira mengungkapkan, setiap ada kebijakan negara yang tidak berpihak kepada rakyat, misalnya kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL), kelangkaan BBM subsidi, atau ketidakmampuan negara mengelola ekonomi yang mengakibatkan harga kebutuhan pokok meroket dan banyak usaha yang gulung tikar sehingga daya beli menurun, pasti berdampak langsung dan menyengsarakan buruh.

“Buruh, petani, nelayan, pelaku UMKM, dan kaum pekerja lainnya yang paling merasakan dampaknya jika Pemerintah tidak mampu mengelola ekonomi dengan baik dan benar.

Sendi-sendi kehidupan mereka akan terganggu bahkan lumpuh jika pertumbuhan dan pemerataan ekonomi terus stagnan begini,” tukas Senator DKI Jakarta ini.

Baca: Indonesia Diserbu Buruh Asing, KAMMI Tuntut Mosi Tidak Percaya pada Jokowi

Sebagai informasi, ungkapnya, selain menolak Peraturan Presiden Nomor 20 Tahun 2018 tentang Penggunaan Tenaga Kerja Asing (TKA), menolak buruh kasar TKA, menolak upah murah dan mencabut Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2015 tentang Pengupahan, dan merealisasikan 84 item Kebutuhan Hidup Layak (KHL), May Day tahun ini juga menyoroti kenaikan harga-harga kebutuhan pokok (beras), TDL, BBM, dan menuntut pemerintah serius membangun ketahanan pangan dan ketahanan energi.*

Rep: SKR
Editor: Muhammad Abdus Syakur

Bagikan:

Berita Terkait

Umat Islam Diimbau “Bangun Tidur”

Umat Islam Diimbau “Bangun Tidur”

5 Pertanyaan Mencerdaskan Menanggapi Fenomena ISIS

5 Pertanyaan Mencerdaskan Menanggapi Fenomena ISIS

Menristekdikti akan Tempatkan Rektor Asing di Perguruan Tinggi Swasta

Menristekdikti akan Tempatkan Rektor Asing di Perguruan Tinggi Swasta

Jika Memang Naskah Final UU Ciptaker Belum Selesai, Kenapa Terburu-buru Disahkan?

Jika Memang Naskah Final UU Ciptaker Belum Selesai, Kenapa Terburu-buru Disahkan?

Soal Idul Adha, Ahok Ngotot Akan Turunkan Petugas RPH

Soal Idul Adha, Ahok Ngotot Akan Turunkan Petugas RPH

Baca Juga

Berita Lainnya