Puisi Sukmawati Soekarnoputri ‘Sudutkan’ Syariat Islam, Cadar, dan Adzan Dinilai Menyinggung SARA

"Aku tak tahu Syariat Islam Yang kutahu sari konde ibu Indonesia sangatlah indah Lebih cantik dari cadar dirimu," penggalan puisi Sukmatawi Soekarnoputri.

Puisi Sukmawati Soekarnoputri ‘Sudutkan’ Syariat Islam, Cadar, dan Adzan Dinilai Menyinggung SARA
youtube
Sukmawati Soekarnoputri saat membacakan puisi 'menyudutkan' syariat Islam di JCC, Senayan, Jakarta, Maret 2018.

Terkait

Hidayatullah.com– Putri Proklamator Indonesia, Sukmawati Soekarnoputri, membuat dan membacakan puisi kontroversial pada acara 29 Tahun Anne Avantie Berkarya di Indonesia Fashion Week 2018, Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Kamis lalu.

Pada kesempatan itu, Sukmawati diberi kesempatan maju ke panggung dan membacakan puisi berjudul ‘Ibu Indonesia’ karyanya.

Lewat puisinya itu, Sukmawati dinilai menyinggung hal-hal yang berbau suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) karena terkesan menyudutkan syariat Islam, cadar, dan adzan.

Baca: Aroma Mitos dalam Pidato Megawati [1]

“Aku tak tahu Syariat Islam
Yang kutahu sari konde ibu Indonesia sangatlah indah
Lebih cantik dari cadar dirimu.

Aku tak tahu syariat Islam
Yang kutahu suara kidung ibu Indonesia, sangatlah elok
Lebih merdu dari alunan adzan mu
Gemulai gerak tarinya adalah ibadah
Semurni irama puja kepada Ilahi.”

Demikian di antara penggalan puisi yang dibacakannya.

“Dia ini (Sukmawati) seolah tidak bisa menyelami perasaan publik terutama umat Islam dengan menyampaikan soal keyakinan umat beragama,” ujar Wakil Ketua Majelis Hukum dan HAM PP Muhammadiyah Maneger Nasution kepada hidayatullah.com saat dihubungi terkait puisi itu, Senin (02/04/2018).

Baca: Muhammadiyah: Pidato Megawati Ahistoris dan Berbahaya bagi NKRI

Warganet pun menilai, Sukmawati lewat puisinya itu telah menyinggung SARA. Masyarakat sangat menyayangkan pembacaan puisi tersebut.

Pengguna media sosial bernama Anis Anisah menyebutkan, acara menampilkan kecantikan wanita-wanita Indonesia tersebut dirusak oleh pembacaan puisi yang menyinggung masalah SARA.

“Ibu Sukma, silakan ibu dan teman-teman ibu berkebaya dan berkonde, tapi mohon dengan sangat untuk tidak membandingkannya dengan syariat Islam. Biarkan kami memakai pakaian yang kami yakini sebagai bentuk ketundukan kepada Rabb kami, Dzat yang telah menganugerahi negeri yang indah ini. Dzat yang telah menciptakan tubuh-tubuh molek kami.

Ibu Sukma, juga mohon dengan sangat untuk tidak melecehkan suara adzan. Tahukah anda, sejelek apa pun suara adzan di telinga anda, dia adalah pertanda bumi ini masih berputar di porosnya. Jika sudah tak ada lagi terdengar adzan di atas bumi Allah ini, itu artinya saya dan anda sudah digulung oleh kiamat yang dahsyat,” tulis Anisah di akun Facebooknya, Senin (02/04/2018).

Baca: Islam dan Tafsir Pancasila: Di Antara Teori Keberagaman

Hal tersebut ditanggapi oleh para netizen lainnya, di antaranya pemilik akun bernama Zaianal Afandi. Ia merasa yakin, Soekarno tidak sependapat dengan pandangan anaknya tersebut, Sukmawati, jika Soekarno masih hidup saat ini.

“Istaghfirlahum…. berilah hidayah mereka ya Allah…. agar mereka tahu mana yg benar mana yang salah…. amiiin,” tulis akun lainnya, Triyadi, menanggapi puisi tersebut.

Berikut transkrip lengkap puisi Sukmawati tersebut:

“Ibu Indonesia

Aku tak tahu syariat Islam
Yang kutahu sari konde ibu Indonesia sangatlah indah
Lebih cantik dari cadar dirimu
Gerai tekukan rambutnya suci
Sesuci kain pembungkus ujudmu
Rasa ciptanya sangatlah beraneka
Menyatu dengan kodrat alam sekitar
Jari jemarinya berbau getah hutan
Peluh tersentuh angin laut

Lihatlah ibu Indonesia
Saat penglihatanmu semakin asing
Supaya kau dapat mengingat
Kecantikan asli dari bangsamu
Jika kau ingin menjadi cantik, sehat, berbudi, dan kreatif
Selamat datang di duniaku, bumi Ibu Indonesia

Aku tak tahu syariat Islam
Yang kutahu suara kidung Ibu Indonesia, sangatlah elok
Lebih merdu dari alunan adzan mu
Gemulai gerak tarinya adalah ibadah
Semurni irama puja kepada Ilahi
Nafas doanya berpadu cipta
Helai demi helai benang tertenun
Lelehan demi lelehan damar mengalun
Canting menggores ayat ayat alam surgawi

Pandanglah ibu Indonesia
Saat pandanganmu semakin pudar
Supaya kau dapat mengetahui kemolekan sejati dari bangsamu
Sudah sejak dahulu kala riwayat bangsa beradab ini cinta dan hormat kepada ibu Indonesia dan kaumnya.”* Zulkarnain

Baca: Siapa Menebar Isu SARA akan Menuai Badai

Rep: Admin Hidcom

Editor: Muhammad Abdus Syakur

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , , , , , , , , , , , , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !