Selasa, 23 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Nasional

Agar Tak Bubar, Bangsa Indonesia Harus Introspeksi

skr/hidayatullah.com
[Ilustrasi] Bendera Merah Putih berkibar.
Bagikan:

Hidayatullah.com– Pernyataan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto bahwa ada scenario writing pihak asing yang menyatakan Indonesia tidak ada lagi atau bubar tahun 2030, harus menjadi ajang introspeksi semua elemen bangsa atas kondisi Indonesia dulu, sekarang, dan di masa depan.

Introspeksi utamanya, kata Ketua Komite III DPD RI Fahira Idris, adalah apakah Pancasila yang merupakan penyatu, penguat, dan amanat besar bangsa ini benar-benar sudah diamalkan atau masih cuma sebatas diteriakkan.

“Selama lima dasar kebenaran dalam Pancasila konsisten diamalkan, wilayah Indonesia akan tetap dari Sabang sampai Merauke dan dari Sangir Talaud sampai Rote. Tapi kalau lima sila Pancasila cuma diteriakkan dan dijadikan jargon semata, mungkin saja Indonesia bubar,” ujar Fahira dalam pernyataannya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (27/03/2018).

Baca: UBN: Kita Tatap Masa Depan Islam yang Baru di Indonesia

Menurut Fahira, masa depan republik ini pada akhirnya akan tentukan sejauh mana para pemimpinnya menjadikan Pancasila sebagai rujukan utama dalam mengelola negeri ini.

Menurutnya, selama Pancasila tidak dikooptasi sedemikian rupa untuk kepentingan pengusaha atau kelompok-kelompok tertentu atau dijadikan alat untuk menekan kelompok lain, maka masa depan negeri ini bisa cerah.

Ia menilai, selama kebijakan dan tindakan para pemimpin negeri, siapapun itu, mengandung harmonisasi dengan kehendak Tuhan, tidak menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan, memandang perbedaan dan pertentangan sebagai sebuah keniscayaan, dan mampu menyalurkan dan memeliharanya sebagai penguat persatuan, negara tetap berkedaulatan rakyat atau dijadikan alat bagi keperluan rakyat untuk menggapai cita-cita demokrasi sosial-ekonomi serta terpenuhinya hakekat keadilan, maka bangsa ini boleh optimis ke depan akan mencapai masa keemasannya.

Baca: Ketum NU-Muhammadiyah Jalin Silaturahim “Menuju Indonesia Berkeadilan”

Namun, jika ternyata kebijakan dan tindakan para pemimpin belum mencerminkan hal-hal ini, maka bangsa ini harus bekerja keras memperbaiki keadaan.

“Cara paling efektir agar Pancasila menjadi ruh dan jiwa setiap individu yang ada di negeri ini adalah siapapun pemimpinnya, siapapun Presidennya mempunyai kemampuan untuk membuat rakyatnya benar-benar menikmati kehidupan sesuai lima dasar kebenaran yang ada dalam Pancasila.

Menjalankan lima sila Pancasila itu, artinya menjalankan kebenaran. Jika kebenaran sudah dirasakan, maka rakyat tidak perlu ditanya lagi apakah hapal Pancasila atau belum, karena otomatis rakyat sudah menjalankannya,” pungkas Senator Jakarta ini.*

Baca: Ulama dan Umara Serukan Persatuan Umat untuk Indonesia

Rep: SKR
Editor: Muhammad Abdus Syakur

Bagikan:

Berita Terkait

KPU Bolehkan Jokowi Pakai Pesawat Kepresidenan untuk Kampanye Dikritisi

KPU Bolehkan Jokowi Pakai Pesawat Kepresidenan untuk Kampanye Dikritisi

25 Tahun Golput, Emak di Balikpapan mengaku akan Memilih ke Sandi

25 Tahun Golput, Emak di Balikpapan mengaku akan Memilih ke Sandi

Kak Seto Seru Orang Tua Berlomba dengan Predator Seksual Beri Perhatian Anak

Kak Seto Seru Orang Tua Berlomba dengan Predator Seksual Beri Perhatian Anak

Hizbut Tahrir Tolak Outlet Kondom

Hizbut Tahrir Tolak Outlet Kondom

BPJPH – LPPOM MUI Bersinergi Fasilitasi Sertifikasi Halal Pelaku UMK

BPJPH – LPPOM MUI Bersinergi Fasilitasi Sertifikasi Halal Pelaku UMK

Baca Juga

Berita Lainnya