Selasa, 2 Maret 2021 / 18 Rajab 1442 H

Nasional

Jurnalis Muslim Dinilai Tak Mungkin Memproduksi Hoax

Zakhi Hidayatullah
Anggota Dewan Syuro Jurnalis Islam Bersatu (JITU) Mahladi dalam diskusi "War on Hoax" di Cawang, Jakarta, Sabtu (10/03/2018).
Bagikan:

Hidayatullah.com– Seorang jurnalis Muslim tidak mungkin memproduksi berita palsu atau hoax. Hal itu, kata Anggota Dewan Syuro Jurnalis Islam Bersatu (JITU) Mahladi, karena jurnalis Muslim terikat dengan kode etik.

“Saya mau menegaskan bahwa itu tidak mungkin. Dan semua organisasi jurnalis punya kode etik, PWI, AJI punya, dan JITU juga punya,” ujarnya dalam diskusi bertema “War on Hoax” di Aula Masjid Abu Bakar Ash-Shidiq, Jl Otista Raya, Cawang, Jakarta, Sabtu (10/03/2018).

Mahladi mengungkapkan, jika seorang jurnalis tidak mengikuti kode etik tersebut, maka dia bisa dikenakan sanksi dari organisasi profesi kejurnalistikannya.

Baca: Kasus-kasus Hoax yang Dilaporkan Fadli Zon Diakui Tak Ada Kejelasan

Di JITU, jelasnya, kode etik mengenai larangan memproduksi berita bohong atau hoax tercantum dalam poin nomor 4, dimana disebutkan wartawan Muslim tidak dibenarkan mempublikasikan berita bohong.

Sedangkan dalam kode etik nomor 5, sambung Mahladi, jurnalis Muslim harus melakukan konfirmasi atau tabayun sebelum mempublikasikan suatu informasi terkait kepentingan umum, harkat martabat umat Islam, dan belum jelas kebenarannya.

“Jika seandainya melakukan publikasi berita hoax, karena kita juga manusia yang tidak luput kesalahan, dalam kode etik nomor 7, maka wartawan Muslim harus mengupayakan tempat dia bekerja agar segera mencabut, meralat, dan memperbaiki berita yang keliru dan tidak akurat disertai pemberitahuan atau permintaan maaf kepada pihak-pihak yang mengajukan keberatan atas kesalahan tersebut,” paparnya.

Baca: Fadli Zon Bersyukur Wakapolri Serukan Tak Sebut “Muslim Army” terkait Hoax

“Dari 8 poin kode etik JITU, tiga butirnya membahas soal hoax. Itu artinya kita menganggap ini penting,” tambah Direktur situs berita hidayatullah.com ini.

Mahladi menambahkan, bagaimana jika terdapat juga jurnalis atau media yang berlabel Islam tapi membesar-besarkan sesuatu?

“Jawabnya mungkin wartawannya belum masuk ke organisasi kejurnalistikan, sehinggga dia tidak masuk dalam pembinaan ini,” pungkasnya.*

Baca: War On Hoax: Kritis Tanpa Hoax

Rep: Yahya G Nasrullah
Editor: Muhammad Abdus Syakur

Bagikan:

Berita Terkait

FUI Demo Kedubes AS, Kecam Sikap Politik AS

FUI Demo Kedubes AS, Kecam Sikap Politik AS

Sejak 2004-2011 Ada 1190 Pernikahan Beda Agama

Sejak 2004-2011 Ada 1190 Pernikahan Beda Agama

PP Persis Dukung Aksi Kesiagaan Waspadai Komunisme

PP Persis Dukung Aksi Kesiagaan Waspadai Komunisme

Tanggapi Laporan BPN dugaan Kecurangan, Bawaslu Gelar Sidang Ajudikasi Senin

Tanggapi Laporan BPN dugaan Kecurangan, Bawaslu Gelar Sidang Ajudikasi Senin

Hukuman Cambuk di Aceh Tak Melanggar HAM

Hukuman Cambuk di Aceh Tak Melanggar HAM

Baca Juga

Berita Lainnya