Senin, 6 Desember 2021 / 2 Jumadil Awwal 1443 H

Nasional

Mandiri Menurut Bendri

Mahladi/hidayatullah.com
Konselor keluarga, Bendri Jaisyurrahman, pada acara Seminar Parenting yang diselenggarakan SDIT Al Muqorrobin, di Masjid Nurussalam, Beji, Depok, Jawa Barat, Sabtu (04/03/2018).
Bagikan:

BANYAK orangtua yang bangga melihat anaknya mampu membiayai keperluannya sendiri. Ada yang sanggup mencari uang untuk keperluan sekolahnya. Ada juga yang telah bekerja dan tidak lagi meminta uang jajan kepada orangtuanya.

Para orangtua yang bangga ini lalu berkata, anak saya sudah mandiri. Padahal, kata konselor keluarga, Bendri Jaisyurrahman, mereka keliru.

“Bagi saya, mandiri bukan sekadar mampu membiayai keperluannya sendiri. Bukan itu,” jelas Bendri pada acara Seminar Parenting yang diselenggarakan SDIT Al Muqorrobin, di Masjid Nurussalam, Beji, Depok, Jawa Barat, Sabtu (04/03/2018).

Baca: Orangtua Penting Mengenali Kapan Anak Mencapai Tamyiz

Anak yang mandiri adalah anak yang sanggup bangun sendiri saat shalat subuh, lalu pergi ke masjid tanpa harus disuruh, kata Direktur Kokoh Keluarga Indonesia ArRahman Quranic Learning (KKI AQL) ini lagi.

Menurut Bendri, anak yang sanggup mencari uang untuk keperluannya sendiri memang bagus. Anak memang harus dididik agar memiliki kemampuan bisnis atau tanggung jawab finansial.

Namun, jangan buru-buru menilai mereka telah mandiri jika bangun subuh saja masih susah. Sebab, anak yang masih sulit bangun sendiri saat menjelang shalat subuh sebetulnya masih abai dengan tanggung jawab pribadinya, sekaligus tak memiliki kemampuan untuk meraih begitu banyak keutamaannya.

Di sisi lain, kata Bendri lagi, banyak orangtua yang salah kaprah dalam mendidik anak-anaknya yang masih remaja.

Baca: Anak Perlu Belajar Mandiri

Para orangtua menganggap wajar bila anak remajanya belum serius menjalankan syariat atau menunaikan kewajibannya selaku Muslim. “Maklumlah, masih remaja!” kata Bendri meniru alasan para orangtua tersebut.

Padahal, jika seseorang sudah masuk usia baligh, tak ada bedanya di mata Allah Subhanahu Wata’ala antara remaja, anak muda, atau orangtua. Bila mereka melakukan kesalahan, maka telah berlaku dosa atas mereka sebagaimana para orangtua. Jadi, tak ada lagi pemakluman kepada mereka.

Karena itu, kata Bendri, persiapkanlah anak sebaik mungkin sebelum mereka menginjak masa baligh. Jangan menganggap remeh jika mereka masih malas bangun subuh. Jangan katakan, “Ah, maklum. Mereka kan masih remaja.” Ini berbahaya!*

Baca: Orang Tua Muslim Harus Pahami Fase Penting Perkembangan Anak

Rep: Mahladi
Editor: Muhammad Abdus Syakur

Bagikan:

Berita Terkait

Anggota DPD RI: Jokowi Menanggung Beban Ganda

Anggota DPD RI: Jokowi Menanggung Beban Ganda

Warga Tagih Janji Ahok Keluarkan Aturan Larang Jual Miras

Warga Tagih Janji Ahok Keluarkan Aturan Larang Jual Miras

Soal Kuliner Halal, Indonesia Tertinggal dari Negara Tetangga

Soal Kuliner Halal, Indonesia Tertinggal dari Negara Tetangga

NU, Muhammadiyah, dan JK Bahas Ahmadiyah di DPR

NU, Muhammadiyah, dan JK Bahas Ahmadiyah di DPR

Surat Dakwaan Dinilai Tak Jelas, Ranu Muda akan Ajukan Eksepsi

Surat Dakwaan Dinilai Tak Jelas, Ranu Muda akan Ajukan Eksepsi

Baca Juga

Berita Lainnya