Jum'at, 21 Januari 2022 / 17 Jumadil Akhir 1443 H

Nasional

Perlindungan Remaja, Perlu Keterlibatan Keluarga dan Masyarakat

Antara
Remaja dalam kegiatan Gerakan Cinta al-Quran di Bogor (ilustrasi)
Bagikan:

Hidayatullah.com– Gerakan Peduli Remaja (GPR), organisasi yang peduli dan fokus pada dunia remaja, mengungkapkan keprihatinan atas kasus-kasus negatif yang menimpa remaja.

Salah satunya seperti yang baru-baru ini terjadi di Bekasi, Jawa Barat, dimana 6 orang pelajar memperkosa 2 gadis yang juga di bawah umur.

Ketua GPR Suci Susanti mengatakan, ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan kasus-kasus asusila terjadi di kalangan anak dan remaja.

Suci menjelaskan bahwa anak tidak menemukan rasa nyaman di rumah. Mereka merasa tidak aman di rumah dan merasa orangtua tidak bisa memberikan perlindungan. Kondisi ini membuat anak mencari rasa nyaman versi mereka itu di luar rumah.

“Semuanya kembali kepada pengokohan keluarga. Ketika sebuah keluarga tidak bisa memberikan kenyamanan, keamanan, dan perlindungan kepada seorang anak, maka anak akan mencari tiga hal tersebut di luar rumah,” ujarnya kepada hidayatullah.com Jakarta, Senin (26/02/2018).

Baca: Pendidikan Al-Qur’an dan Penyelamatan Remaja Muslim

Alih-alih menemukan kenyamanan, sambung Suci, ketika berada di luar rumah anak malah menemukan ketiga kebutuhan rasa nyaman yang mereka cari itu pada beragam genk kejahatan. Seperti genk narkoba, begal, yang suka melakukan tawuran, dan lain sebagainya.

Sehingga, menurutnya, orangtua hendaknya harus mampu memberikan keamanan, kenyamanan, dan perlindungan pada anak-anak mereka. Sehingga anak tidak mencari ketiga hal tersebut di luar rumah.

Kemudian, lanjut Suci, faktor lingkungan itu sendiri yang menjadi penyebab anak bisa terjerumus pada perilaku yang melanggar hukum agama dan hukum negara.

“Dari sini, GPR juga berharap agar orangtua atau keluarga bisa memberikan perhatian maksimal pada anak agar mereka tidak terjerumus pada perilaku yang melanggar,” jelasnya.

Meskipun, tambah Suci, kini sudah saatnya masyarakat di lingkungan setempat juga hendaknya ikut bekerja sama dalam melindungi lingkungannya masing-masing. Misalnya, dengan menghidupkan kembali Karang Taruna yang bisa mewadahi remaja untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat.

Baca: Kisah Remaja Labil, Habis Gelap Terbitlah Terang

Atau masyarakat juga bisa mengaktifkan kembali sistem kemanan lingkungan (siskamling) dalam bentuk ronda yang saat ini sudah tergantikan tanggung jawabnya oleh petugas keamanan atau satpam lingkungan.

“Siskamling atau ronda ini sebenarnya bisa dimaksimalkan dalam urusan menegur, membubarkan, bahkan lebih jauh lagi mampu menasihati anak-anak yang bergerombol di satu tempat pada jam-jam tertentu,” paparnya.

Suci mengimbau, agar masyarakat jangan terlalu lama terlena dan tidak peduli dengan kejadian-kejadian di sekitar, apalagi yang melibatkan anak dan kaum remaja.

“Sebab mereka adalah penerus negeri. Mulailah membuka mata dan telinga serta ikut berupaya untuk mencegah dan memperbaiknya,” pungkasnya.*

Rep: Ibnu Sumari
Editor: Muhammad Abdus Syakur

Bagikan:

Berita Terkait

KH Ma’ruf Amin: Tidak Boleh Ada Keegoisan Kelompok dalam MUI

KH Ma’ruf Amin: Tidak Boleh Ada Keegoisan Kelompok dalam MUI

Kapolri Tegaskan Tak Ada Pengumulan Sidik Jari

Kapolri Tegaskan Tak Ada Pengumulan Sidik Jari

MUI: Praktik Ritual yang Viral di DPR Mendekati Syirik

MUI: Praktik Ritual yang Viral di DPR Mendekati Syirik

Gempa 6,9 SR di Sulteng Berpotensi Tsunami, Warga Panik

Gempa 6,9 SR di Sulteng Berpotensi Tsunami, Warga Panik

Mahfud MD: Gratifikasi Seksual Lebih Dahsyat Dibanding Uang

Mahfud MD: Gratifikasi Seksual Lebih Dahsyat Dibanding Uang

Baca Juga

Berita Lainnya