frontpage hit counter

Perjuangan Buya Hamka Memajukan Umat dan Bangsa

Hamka membentuk Badan Pembela Negara dan Kota (BPNK), barisan perlawanan gerilya terbesar di wilayah Sumatera Barat.

Perjuangan Buya Hamka Memajukan Umat dan Bangsa
BUYA HAMKA

Terkait

Hidayatullah.com– Dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan, Buya Hamka bergerilya di hutan sekitar Medan. Kiprah Hamka dalam perjuangan nasional sepanjang 1945-1949 kian meningkat berbarengan dengan terjadinya perang revolusi menentang kembalinya penjajah Belanda yang terus kian merebak di seluruh Tanah Air.

Demikian dituturkan Guru Besar UIN Jakarta, Prof Azyumardi Azra dalam seminar nasional tentang Buya Hamka. Ia mengungkapkan, jasa-jasa Buya Hamka melewati batas-batas perjuangan politik dalam kehidupan umat dan bangsa Indonesia.

“Buya Hamka berjuang untuk memajukan umat dan negara-bangsa dalam berbagai lapangan kehidupan sejak dari kesusastraan, pemikiran keagamaan (terutama tasawwuf dan tafsir), pendidikan modern Islam, dakwah, politik, dan perjuangan melawan kebatilan kolonialisme pra dan pasca kemerdekaan,” tuturnya pada acara di Aula Buya Hamka, Masjid Agung Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta, Kamis (15/02/2018) itu.

Baca: Azra: Buya Hamka Merintis Perubahan Sekolah Islam lewat Al-Azhar

Azra menceritakan, pada tahun 1947, Hamka diangkat menjadi Ketua Barisan Pertahanan Nasional dengan anggota Chatib Sulaeman, Udin, Rangkayo Rasuna Said, dan Karim Halim.

Selain itu, lanjut Azra, Hamka juga diangkat Wakil Presiden Mohammad Hatta sebagai Sekretaris Front Pertahanan Nasional yang merupakan gabungan dari berbagai partai politik. Ketua Front ini adalah Bung Hatta sendiri.

Selanjutnya, Hamka membentuk Badan Pembela Negara dan Kota (BPNK) yang merupakan barisan perlawanan gerilya terbesar di wilayah Sumatera Barat. Hamka sendiri sangat aktif bergerilya dan hampir tidak pernah bisa ditemui di satu tempat tetap.

Baca: Politisi Perlu Mencontoh Buya Hamka Tiga Hal ini

Sebagai sastrawan, kata Azra, Hamka memiliki intelektualisme yang kosmopolitan melalui bacaannya atas karya sastrawan, filsuf, sejarawan, ideolog, dan lain-lain seperti Zaki Mubarak, Jurji Zaidan, Abbas al-Akkad, Mustafa al-Manfaluti, Hussain Haykal, Albert Camus, William James, Sigmud Freud, Arnold Toynbee, Jean Paul Sartre, Karl Marx, Pierre Loti, dan banyak lagi.

“Hamka dengan demikian memberikan contoh tentang keluasan bacaan, tanpa prasangka yang kemudian dia refleksikan secara kritis,” ucapnya.

Sikap intelektual Hamka seperti ini, menurutnya, sangat relevan dan sesuai dengan konteks tantangan kaum intelektual dan ulama Indonesia masa kini dan mendatang, yang harus terus membuka perspektif dan horizon intelektualisme kritis mereka di tengah lingkungan yang terus berubah dan berkembang sangat cepat.* Andi

Baca: Kisah 15 Hari Buya Hamka ‘Disiksa’ Penguasa

Rep: Admin Hidcom

Editor: Muhammad Abdus Syakur

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !