Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Nasional

Perjuangan Buya Hamka Memajukan Umat dan Bangsa

BUYA HAMKA
Bagikan:

Hidayatullah.com– Dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan, Buya Hamka bergerilya di hutan sekitar Medan. Kiprah Hamka dalam perjuangan nasional sepanjang 1945-1949 kian meningkat berbarengan dengan terjadinya perang revolusi menentang kembalinya penjajah Belanda yang terus kian merebak di seluruh Tanah Air.

Demikian dituturkan Guru Besar UIN Jakarta, Prof Azyumardi Azra dalam seminar nasional tentang Buya Hamka. Ia mengungkapkan, jasa-jasa Buya Hamka melewati batas-batas perjuangan politik dalam kehidupan umat dan bangsa Indonesia.

“Buya Hamka berjuang untuk memajukan umat dan negara-bangsa dalam berbagai lapangan kehidupan sejak dari kesusastraan, pemikiran keagamaan (terutama tasawwuf dan tafsir), pendidikan modern Islam, dakwah, politik, dan perjuangan melawan kebatilan kolonialisme pra dan pasca kemerdekaan,” tuturnya pada acara di Aula Buya Hamka, Masjid Agung Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta, Kamis (15/02/2018) itu.

Baca: Azra: Buya Hamka Merintis Perubahan Sekolah Islam lewat Al-Azhar

Azra menceritakan, pada tahun 1947, Hamka diangkat menjadi Ketua Barisan Pertahanan Nasional dengan anggota Chatib Sulaeman, Udin, Rangkayo Rasuna Said, dan Karim Halim.

Selain itu, lanjut Azra, Hamka juga diangkat Wakil Presiden Mohammad Hatta sebagai Sekretaris Front Pertahanan Nasional yang merupakan gabungan dari berbagai partai politik. Ketua Front ini adalah Bung Hatta sendiri.

Selanjutnya, Hamka membentuk Badan Pembela Negara dan Kota (BPNK) yang merupakan barisan perlawanan gerilya terbesar di wilayah Sumatera Barat. Hamka sendiri sangat aktif bergerilya dan hampir tidak pernah bisa ditemui di satu tempat tetap.

Baca: Politisi Perlu Mencontoh Buya Hamka Tiga Hal ini

Sebagai sastrawan, kata Azra, Hamka memiliki intelektualisme yang kosmopolitan melalui bacaannya atas karya sastrawan, filsuf, sejarawan, ideolog, dan lain-lain seperti Zaki Mubarak, Jurji Zaidan, Abbas al-Akkad, Mustafa al-Manfaluti, Hussain Haykal, Albert Camus, William James, Sigmud Freud, Arnold Toynbee, Jean Paul Sartre, Karl Marx, Pierre Loti, dan banyak lagi.

“Hamka dengan demikian memberikan contoh tentang keluasan bacaan, tanpa prasangka yang kemudian dia refleksikan secara kritis,” ucapnya.

Sikap intelektual Hamka seperti ini, menurutnya, sangat relevan dan sesuai dengan konteks tantangan kaum intelektual dan ulama Indonesia masa kini dan mendatang, yang harus terus membuka perspektif dan horizon intelektualisme kritis mereka di tengah lingkungan yang terus berubah dan berkembang sangat cepat.* Andi

Baca: Kisah 15 Hari Buya Hamka ‘Disiksa’ Penguasa

Rep: Admin Hidcom
Editor: Muhammad Abdus Syakur

Bagikan:

Berita Terkait

Relawan Pertanyakan Pengangkatan Putra Hendropriyono jadi Staf Khusus Presiden

Relawan Pertanyakan Pengangkatan Putra Hendropriyono jadi Staf Khusus Presiden

Dokter Spesialis Kelamin: Cara Cegah HIV/AIDS Ya Jangan Melakukan Zina

Dokter Spesialis Kelamin: Cara Cegah HIV/AIDS Ya Jangan Melakukan Zina

Jerry D Gray: AS Tidak Akan Bersikap Tegas Terhadap Israel

Jerry D Gray: AS Tidak Akan Bersikap Tegas Terhadap Israel

Hakekok PBNU

Soal Hakekok, PBNU: Tidak Ada Agama yang Punya Ritual Mandi Bareng Pria-Wanita

Raih ISO 9001: 2008, Masjid Al-Ikhlash Jatipadang Rasakan Manfaatnya

Raih ISO 9001: 2008, Masjid Al-Ikhlash Jatipadang Rasakan Manfaatnya

Baca Juga

Berita Lainnya