Minuman Keras dan LGBT

DPD Ajak Semua Pihak Awasi Pembahasan RUU Miras dan RUU KUHP

Masyarakat harus terus bersuara untuk mengingatkan DPR dan Pemerintah agar tidak main-main dalam membahas kedua RUU ini.

DPD Ajak Semua Pihak Awasi Pembahasan RUU Miras dan RUU KUHP
zulkarnain/hidayatullah.com
Fahira Idris pada aksi peduli Rohingya di arena CFD, Bundaran HI, Jakarta, Ahad (03/09/2017).

Terkait

Hidayatullah.com– Pernyataan dinilai mengejutkan disampaikan Ketua MPR, Zulkifli Hasan, yang menyatakan delapan fraksi di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) telah menyetujui minuman beralkohol atau minuman keras dijual di warung-warung dalam pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) Larangan Minuman Beralkohol (LMB).

Tidak hanya itu, kata Ketua Komite III DPD RI, Fahira Idris, perluasan makna zina termasuk kepada hubungan intim sesama jenis juga terancam tidak diakomodir dalam pemidanaan di RUU KUHP.

Fahira mengungkapkan, sebenarnya informasi soal kedua isu ini tidak terlalu mengejutkan.

Baca: FPKS Mengaku Tak Pernah Setuju Miras Dijual Bebas di Minimarket

Menurut Fahira, RUU LMB yang sudah dibahas bertahun-tahun oleh Pansus ditargetkan disahkan pada Juni 2016. Namun, hingga detik ini tidak jelas perkembangannya.

Senada dengan desakan perluasan pidana zina diberlakukan merata tidak hanya bagi mereka yang sudah terikat perkawinan, tetapi juga untuk mereka yang belum terikat perkawinan serta bagi mereka yang melakukan hubungan intim sesama jenis, lanjutnya, masih mendapat tantangan dari beberapa fraksi.

“Jika benar nanti undang-undang membolehkan miras dijual di warung-warung dan hubungan intim sesama jenis tidak dipidana, yang bisa kita lakukan selain melawan secara konstitusional adalah ‘menghukum’ mereka yang mendukung.

Jangan pilih parpol yang dalam pembahasan kedua RUU ini pro miras dan menolak perluasan pidana zina dalam RUU KUHP, termasuk caleg-calegnya dan calon presidennya pada Pemilu 2019,” tegas Fahira yang juga Ketua Gerakan Nasional Anti Miras (Genam), di Jakarta, Ahad (21/01/2018).

Baca: PAHAM: Buka Lima Fraksi Yang Pro LGBT

Bagi Fahira, pengesahan RUU LMB yang molor bertahun-tahun, sudah membuktikan bahwa banyak fraksi yang tidak sepakat miras menjadi barang terlarang.

Begitu juga perluasan pemidanaan zina yang hingga detik ini masih ada fraksi yang menginginkan hanya untuk mereka yang sudah terikat perkawinan atau sama dengan yang diatur dalam KUHP yang ada saat ini.

“Jika ada anggota atau fraksi DPR yang setuju miras dijual di warung-warung, mungkin perlu dicek kesehatan jiwa dan pikirannya. Selain itu, menganggap perzinaan sesama jenis dan mereka yang belum terikat perkawinan tidak bisa dipidana, sama saja Anda melegalkan hubungan intim sesama jenis, kumpul kebo dan seks bebas. Ini sama saja mengajak ‘perang’ umat,” tukas Senator Jakarta ini.

Baca: Maneger: Publik Perlu Mencatat Parpol yang Setuju LGBT

Fahira mengharapkan semua elemen bergerak mengawasi pembahasan RUU LMB dan RUU KUHP, dengan memusatkan perhatiannya tidak hanya kepada DPR, tetapi juga kepada Pemerintah.

Masyarakat harus terus bersuara untuk mengingatkan DPR dan Pemerintah agar tidak main-main dalam membahas kedua RUU ini.

“Sekali saya mau ingatkan DPR dan Pemerintah untuk bijak dalam membahas kedua RUU ini, terlebih ini menjelang Pemilu 2019. Jangan membuat kegaduhan baru dengan memutuskan pasal-pasal yang kontraproduktif di kedua RUU ini,” pungkas Fahira.*

Rep: SKR

Editor: Muhammad Abdus Syakur

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !