Sabtu, 4 Desember 2021 / 29 Rabiul Akhir 1443 H

Nasional

FPKS Mengaku Tak Pernah Setuju Miras Dijual Bebas di Minimarket

ilustrasi
Bagikan:

Hidayatullah.com– Anggota Pansus RUU Larangan Minuman Beralkohol (minol) dari Fraksi PKS, Abdul Fikri Faqih menegaskan, pihaknya tidak pernah menyetujui miras (minol) dijual bebas di warung atau di minimarket.

“Di Pansus RUU Minol, Fraksi PKS komitmen dan konsisten tidak pernah menyetujui miras dijual bebas di warung atau minimarket. Dalam draf pembahasan terakhir, bahkan semua fraksi menyetujui pembatasan distribusi miras,” jelas Fikri dalam siaran persnya diterima hidayatullah.com Jakarta, Senin (22/01/2018).

Baca: 50 Nyawa Melayang Tiap Hari, Baleg Himpun Masukan Bahas RUU Miras

Fikri menambahkan, dalam RUU tersebut juga ditegaskan adanya syarat dan izin untuk menjual miras. Seperti, harus jauh dari lingkungan pendidikan, tempat ibadah, dan fasilitas publik lainnya. Juga untuk pembeli, ada syarat mengenai umur, status kewarganegaraan, bahkan agama yang hingga kini masih didiskusikan.

“Karena penjualan etanol sebagai minuman termasuk pengecualian. Tapi, secara umum dilarang,” tegas Wakil Ketua Komisi X yang salah satunya membidangi persoalan pendidikan ini.

Dari sisi nomenklatur, ungkapnya, hingga saat ini masih terjadi perdebatan antar fraksi. Fraksi PKS, bersama PAN dan PPP, tegas Fikri, masih mempertahankan penggunaan kata ‘Larangan’ dalam judul RUU tersebut, yaitu RUU Larangan Minuman Beralkohol.

Baca: Lembaga Perlindungan Anak Dorong Pengesahan RUU Pelarangan Miras

Meskipun demikian, dalam perkembangan pembahasan, menurutnya terdapat titik temu jalan keluar antar fraksi, yaitu semua sepakat ada substansi larangan dalam batang tubuh di RUU tersebut.

“Judul RUU bisa dibuat lebih netral, yakni tanpa menyebut perintah tapi hanya menyebut obyeknya saja seperti UU tentang Narkotika. Tentang hal ini masih dalam proses pembahasan. Jadi belum final,” papar wakil rakyat dari Dapil Jawa Tengah IX ini.

Dari sisi pembatasan, pengawasan, industri, dan mekanisme peredarannya, sebagian sudah diatur dalam peraturan perundang-undangan lain. Seperti, UU tentang Bea Cukai, tentang Makanan dan Obat, tentang Kesehatan, dan sebagainya.

“Lebih teknis tentu harus diatur lebih lanjut dalam peraturan perundangan di bawah UU ini,” jelas Fikri.

Baca: API Bandung Desak DPR Segera Buat UU Larangan Miras

Oleh karena itu, untuk mempercepat penyelesaian pengesahan RUU ini, FPKS mendesak pemerintah untuk kooperatif membahas aturan krusial ini bersama dengan DPR.

“Pansus RUU Minol ini mengalami hambatan karena pihak eksekutif (pemerintah), beberapa kali tidak bisa hadir dalam rapat dengan Pansus RUU Minol di DPR,” tutup Fikri.*

Rep: SKR
Editor: Muhammad Abdus Syakur

Bagikan:

Berita Terkait

Menag Ajak Umat Bijak Sikapi Perbedaan Tanggal Hari Raya Idul Adha

Menag Ajak Umat Bijak Sikapi Perbedaan Tanggal Hari Raya Idul Adha

Wamenag RI Tutup IBF 2013

Wamenag RI Tutup IBF 2013

Kekerasan Anak Marak, Penegak Hukum Jangan Ragu Jatuhkan Hukuman Maksimal

Kekerasan Anak Marak, Penegak Hukum Jangan Ragu Jatuhkan Hukuman Maksimal

Belanja di Swalayan, Konsumen: “Mana Label Halalnya?”

Belanja di Swalayan, Konsumen: “Mana Label Halalnya?”

Tokoh NU dan Warga akan Gelar Doa Bersama Kelancaran Penutupan Dolly

Tokoh NU dan Warga akan Gelar Doa Bersama Kelancaran Penutupan Dolly

Baca Juga

Berita Lainnya