Kamis, 4 Maret 2021 / 20 Rajab 1442 H

Nasional

Senator DKI Ajak Warga Jakarta Dukung Penuh Hentikan Reklamasi

ist.
Ketua Komite III DPD RI yang juga Senator DKI Jakarta, Fahira Idris.
Bagikan:

Hidayatulah.com– Senator DKI Jakarta, Fahira Idris, menyatakan, harus diakui menghentikan reklamasi Teluk Jakarta yang didukung mayoritas warga DKI Jakarta menjadi janji kampanye paling berani dan berat yang harus ditunaikan Gubernur-Wakil Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan-Sandiaga Uno.

Sudah menjadi rahasia umum ada kekuatan luar biasa yang menginginkan proyek reklamasi terus berjalan walau berbagai aturan diterabas, dipenuhi berbagai kebijakan yang dipaksakan, dan berbagai kontroversi yang tiada henti menyertai mega proyek penimbunan laut untuk kepentingan komersil ini.

Ketua Komite III DPD RI ini mengharapkan, warga Jakarta terus memberikan dukungan penuh kepada Anies-Sandi agar tidak surut selangkahpun untuk terus berjuang menghentikan proyek reklamasi.

Kata Fahira, ikhtiar menghentikan reklamasi bukan hanya pekerjaan berat, tetapi juga pekerjaan besar. Sehingga dukungan penuh warga DKI Jakarta akan sangat berarti untuk menghentikan proyek penuh kontroversi ini.

“Reklamasi itu seperti ular, sudah melilit Jakarta. Cara menghentikannya memang harus melepas satu persatu lilitan yang cukup kuat ini. Ada semacam ‘skenario’ mengunci semua sisi agar reklamasi tidak bisa dihentikan. Permintaan Gubernur Anies agar BPN menarik dan membatalkan penerbitan HGB di atas HPL Pulau-Pulau Reklamasi adalah salah satu upaya untuk melepaskan berbagai lilitan ini,” ujar Fahira Idris, di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta (15/01/2018).

Baca: Gubernur Anies Minta BPN Batalkan Sertifikat HGB Pulau Reklamasi

Fahira mengungkapkan, jika saja Kementerian Agraria dan Tata Ruang (ATR)/Badan Pertanahan Nasional (BPN) mau mengkaji lebih mendalam permintaan Gubernur Anies, sebenarnya ada celah hukum pembatalan Hak Guna Bangunan (HGB) Pulau-Pulau Reklamasi.

Peraturan Menteri (Permen) Agraria atau Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Nomor 9 Tahun 1999 tentang Tata Cara Pemberian dan Pembatalan Hak Atas Tanah Negara dan Hak Pengelolaan, jelasnya, memberi hak sepenuhnya kepada BPN untuk menganulir pemberian hak atas tanah negara jika terdapat cacat administrasi dalam prosesnya.

Dalam prosesnya penerbitan HGB, lanjut Fahira, terdapat tahapan yang dilompati, karena berlangsung saat dua Raperda Reklamasi yaitu Rancangan Tata Ruang Kawasan Strategis Pantai Utara Jakarta (RTRKS Pantura) dan Rancangan Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (RZWP3K) belum diterbitkan.

“Celah hukum pembatalannya ada, tinggal mau menggunakan atau tidak. Ternyata kan BPN memilih tidak menggunakannya. Padahal Pemprov DKI sudah bersedia menerima konsekuensi dari pembatalan ini. Itu tadi kenapa kenapa saya sampaikan menghentikan reklamasi ini bukan hanya pekerjaan berat tetapi juga pekerjaan besar. Banyak pihak yang harus disadarkan bahwa reklamasi ini bermasalah,” tukasnya.

Baca: Pemerintah Diharapkan Lebih Mendengar Aspirasi Masyarakat Tolak Reklamasi

Fahira mengingatkan pihak-pihak yang begitu kukuh reklamasi harus dilanjutkan bahwa saat ini, isu proyek reklamasi saat ini bukanlah lagi isu yang eletis atau isu yang hanya dipahami segelintir orang.

Soal reklamasi sudah menjadi obrolan di warung-warung kopi, perbincangan hangat di media sosial, topik panas di forum-forum diskusi mahasiswa, dan dijadikan isu perlawanan berbagai komunitas dan organisasi kemasyarakatan.

“Warga Jakarta sudah resah. Warga sudah paham apa yang terjadi. Kepentingan siapa yang dilindungi dalam proyek ini. Siapa yang paling diuntungkan dari proyek ini. Kerusakan lingkungan seperti apa yang sudah dan akan dihasilkan. Pelanggaran dan penerabasan hukum seperti apa yang sudah terjadi dan dibiarkan begitu saja dalam proyek ini. Mohon Pemerintah Pusat jadikan keresahan ini sebagai perhatian,” pungkas Fahira.*

Rep: SKR
Editor: Muhammad Abdus Syakur

Bagikan:

Berita Terkait

Sukses Dengan Manajemen Islami

Sukses Dengan Manajemen Islami

SI Adakan Pelatihan Wirausaha Muslim

SI Adakan Pelatihan Wirausaha Muslim

ECPAT: 379 Anak jadi Korban Kejahatan Seksual pada 2018

ECPAT: 379 Anak jadi Korban Kejahatan Seksual pada 2018

Kemenag Targetkan PP Undang-undang JPH Selesai Secepatnya

Kemenag Targetkan PP Undang-undang JPH Selesai Secepatnya

PMI Kunjungi Gereja dan Kelenteng untuk Atasi Kelangkaan Darah

PMI Kunjungi Gereja dan Kelenteng untuk Atasi Kelangkaan Darah

Baca Juga

Berita Lainnya