Ahad, 28 November 2021 / 23 Rabiul Akhir 1443 H

Nasional

Tolak Gugatan Pasal Kesusilaan, Alasan MK Dinilai Inkonsisten

Zulkarnain/hidayatullah.com
Gedung Mahkamah Konstitusi (MK) di Jakarta Pusat.
Bagikan:

Hidayatullah.com– Kuasa Hukum Pemohon gugatan Judicial Review (JR) atau Uji Materi terhadap 3 pasal yakni 284, 285, 292 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tentang Kesusilaan, Feizal Syahmenan, mengatakan, alasan penolakan Mahkamah Konstitusi (MK) terhadap gugatan tersebut cenderung inkonsisten.

“MK bukan mengatakan permohonan para pemohon ini salah lho. MK hanya berpendapat bahwa permohonan para pemohon lebih patut disampaikan ke DPR,” ujarnya kepada hidayatullah.com di Gedung MK, Jakarta, Kamis (14/12/2017).

Feizal menilai, alasan itu cenderung inkonsisten karena sejak awal MK tidak pernah menolak gugatan para pemohon. Bahkan sidang digelar sebanyak 23 kali dan berlangsung sepanjang setahun lebih.

Baca: MK Disebut Tak Menolak Gagasan Gugatan Pasal Kesusilaan

“Kalau MK tidak berwenang dari pertama kita sudah ditolak. Kan, ada pemeriksaan persiapannya. Tapi di situ kemudian diterima dan dilanjutkan,” ungkapnya.

Ia menyampaikan, MK berpendapat yang terjadi adalah kekosongan hukum. Dan kekosongan hukum itulah yang diajukan para pemohon untuk diputus oleh MK.

“Dan pada saat itulah mereka berbeda pendapat, lima hakim berpendapat harus lewat DPR, empat hakim berpendapat lewat sini (MK) bisa,” tandasnya.

Sebagaimana diketahui, MK menolak seluruhnya gugatan Uji Materi terhadap 3 pasal yakni 284, 285, 292 KUHP tentang Kesusilaan, nomor perkara 46/PUU-XIV/2016.

Baca: Singgung MK, Ketua MPR Nilai Homoseksual Intoleran dan Perusak NKRI

Keputusan itu diambil setelah mayoritas hakim menolak, dengan komposisi 5 (lima) hakim menolak, sedangkan 4 (empat) lainnya setuju terhadap gagasan atau gugatan yang disampaikan pemohon.

Adapun yang menolak adalah Hakim Maria Farida Indrati (Anggota), Hakim I Gede Dewa Palguna (Anggota), Hakim Suhartoyo (Anggota), Hakim Manahan MP Sitompul (Anggota), Hakim Sadli Isra (Anggota).

Sedangkan yang mendukung diantaranya Hakim Arief Hidayat (Ketua MK), Hakim Anwar Usman (Wakil Ketua), Hakim Aswanto (Anggota), dan Hakim Wahiddudin Adams (Anggota).

MK beralasan, pokok permohonan pemohon untuk memperluas makna zina dan norma hukum pidana seharusnya diajukan kepada pembuat ndang-undang yakni DPR dan pemerintah.*

Baca: ‘MK Tolak JR Pasal Kesusilaan Berdampak Makin Rentannya Kejahatan Seksual’

Rep: Ibnu Sumari
Editor: Muhammad Abdus Syakur

Bagikan:

Berita Terkait

Pendiri Arrahmah, M Jibriel Hadapi Putusan Sela

Pendiri Arrahmah, M Jibriel Hadapi Putusan Sela

KAMMI: Jangan Pilih Pemimpin Neoliberal, Hukum Berat Koruptor Pajak!

KAMMI: Jangan Pilih Pemimpin Neoliberal, Hukum Berat Koruptor Pajak!

Pengungkapan Kematian Petugas Pemilu untuk Kepentingan Bangsa

Pengungkapan Kematian Petugas Pemilu untuk Kepentingan Bangsa

PKS Jakarta Dukung Keputusan DPP Berhentikan Fahri Hamzah

PKS Jakarta Dukung Keputusan DPP Berhentikan Fahri Hamzah

MUI Dinilai Sudah Tepat Menyikapi Masalah Khitan Perempuan

MUI Dinilai Sudah Tepat Menyikapi Masalah Khitan Perempuan

Baca Juga

Berita Lainnya