‘AM Fatwa Pejuang Ikhlas, Bangsa Indonesia Berutang Budi’

"Dia rela tubuhnya didera, jiwanya dibelunggu, dan kebebasannya direnggut demi konsistensinya memihak kebenaran dan menyuarakan suara rakyat yang didzalimi. Dia rela kehilangan sebagian besar umurnya di penjara demi melihat Indonesia menjadi negara besar yang demokratis. Jika bicara konsistensi, keberanian, dan bertanggung jawab, AM Fatwalah orangnya," ungkap Fahira Idris.

‘AM Fatwa Pejuang Ikhlas, Bangsa Indonesia Berutang Budi’
rifa'i fadhly/hidayatullah.com
Anggota DPD RI asal DKI, AM Fatwa, saat mengunjungi kawasan penggusuran di Penjaringan, Jakarta Utara.

Terkait

Hidayatullah.com– Anggota DPD RI Fahira Idris turut berbelasungkawa atas kepergian Senator DPD RI asal DKI Jakarta, Dr AM Fatwa, Kamis (14/12/2017) pagi tadi, di RS MMC, Jakarta.

Fahira yang juga dari Dapil DKI Jakarta menuturkan, AM Fatwa baginya seperti keluarga sendiri.

“Dari awal saya mengganggap beliau itu sebagai ayah,” ujar Fahira yang juga Ketua Komite III DPD RI kepada hidayatullah.com saat dihubungi melalui sambungan telepon.

Fahira mengungkapkan, di Indonesia, tokoh seperti AM Fatwa bisa dihitung dengan jari.

“Kecintaan terhadap Indonesia membuat dirinya ikhlas menempuh resiko mengorbankan kebebasannya bahkan nyawanya sekalipun,” ungkapnya lewat penuturan selanjutnya.

Setiap rezim berubah menjadi otoriter, Pak Fatwa-lah tokoh yang berada paling depan melawan. Dia menjadi ikon perlawanan dan sikap kritis terhadap rezim Orde Lama dan Orde Baru, ungkapnya.

 

Baca: Tokoh Perlawanan Rezim Orde Baru, AM Fatwa Berpulang

“Dia rela tubuhnya didera, jiwanya dibelunggu, dan kebebasannya direnggut demi konsistensinya memihak kebenaran dan menyuarakan suara rakyat yang didzalimi. Dia rela kehilangan sebagian besar umurnya di penjara demi melihat Indonesia menjadi negara besar yang demokratis. Jika bicara konsistensi, keberanian, dan bertanggung jawab, AM Fatwalah orangnya,” tambah Fahira.

“Pak Fatwa, kami rakyat Indonesia berutang banyak kepadamu. Engkau telah mengajarkan kepada kami apa itu konsistensi, keberanian, dan tanggung jawab. Engkau telah tunjukkan kepada kami bagaimana cara mencintai Indonesia seutuhnya,” lanjutnya mengungkapkan.

Meskipun AM Fatwa kini telah tiada, namun Fahira mengaku akan selalu mengenang dan melanjutkan sepak terjang perjuangan almarhum.

“Walau ragamu sudah tiada, namamu terukir abadi di hati kamu. Apa yang telah engkau lakukan akan dicatat dalam tinta emas perjalanan negeri yang besar ini. Beristirahatlah dengan tenang Pak Fatwa, temui penciptamu. Izinkan kami melanjutkan perjuanganmu menjaga Indonesia,” pungkas Fahira yang mengaku sedang berada di Kendari, Sulawesi Tenggara.

Baca: AM Fatwa: Jangan Jadikan Pancasila Alat Pemukul Kelompok Tertentu

Diberitakan hidayatullah.com sebelumnya, Innalillahi wa inna ilaihi rojiuun. Indonesia dan umat Islam  kembali kehilangan salah satu tokoh pemberani yang pernah dianiaya di era Orde Baru, AM Fatwa dipanggil Allah Subhanahu Wata’ala hari Kamis (14/12/2017) pukul 06.25 WIB.

Pria kelahiran Bone, Sulawesi Selatan, 12 Februari 1939 bernama lengkap Andi Mappetahang Fatwa ini  mengembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit MMC, Jakarta. Senator dari DKI Jakarta dan dipercaya memimpin Badan Kehormatan (BK) DPD.

Almarhum dikenal sebagai ikon perlawanan Rezim Orde Lama dan Orde Baru, ketika militer masih kuat dan dominan.

AM Fatwa pernah didudukkan secara paksa oleh rezim otoriter Orde Baru dalam kasus Tanjung Priok berdarah tahun 1984. Dalam kasus ini,  dia  banyak mengalami penyiksaan, penuntutan, dan pengadilan yang tidak jujur.

Guna membantah tuduhan rezim otoriter Orde Baru, mantan Ketua MPR 2004-2009 ini harus membuat pledoi setebal 1.118 halaman,yang dibacanya sendiri di pengadilan tanpa bantuan orang lain, tanpa istirahat hingga menjelang tengah malam. Dalam pledoinya dia menuturkan mengalami penyerangan oleh rezim yang represif dan militer.

Baca:  AM Fatwa: Dulu Ali Murtopo Aktor di Balik NII

Ia juga mengalami teror dan tekanan. Dalam sebuah wawancara, Fatwa mengaku diteror intel yang menyamar menjadi preman hingga gegar otak. Yang paling parah saat menyetir, dia dibacok pakai celurit oleh orang tidak dikenal.

“Mandi darah saya. Kemudian, saya ke rumah sakit Angkatan Laut. Yang mendorong saya ke ruang operasi itu dua jenderal purnawirawan Jendral Ali Sadikin dan Letnal Jendral HN Darsono. Itu waktu saya sekretaris Petisi 50,” ujarnya atas usaha pembunuhan yang gagal kepada laman Merdeka, Maret 2017.

Semoga Allah menghapus dosanya, meringankan hisabnya, dan menerima semua perjuangannya.*

Rep: SKR

Editor: Muhammad Abdus Syakur

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , , , , , , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !