Dompet Dakwah Media

Wapres JK: Penting Menggabungkan Pendidikan, Pengetahuan, Teknologi, dan Keimanan

“Zaman dulu orang mengandalkan ijazah tapi zaman sekarang ijazah tidak berarti lagi," ujar Jusuf Kalla.

Wapres JK: Penting Menggabungkan Pendidikan, Pengetahuan, Teknologi, dan Keimanan
muhammad abdus syakur/hidayatullah.com
[Kiri ke kanan] Adi Sasono, Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia Jusuf Kalla, dan Pimpinan Umum Hidayatullah Ustadz Abdurrahman Muhammad pada Silatnas Hidayatullah 2013 di Balikpapan.

Terkait

Hidayatullah.com– Wakil Presiden Jusuf Kalla (Wapres JK) menyampaikan pentingnya mengintegrasikan antara keimanan, pendidikan, pengetahuan, dan teknologi.

Ia menjelaskan, di era globalisasi saat ini, kemajuan suatu negara ditentukan oleh sejauh mana masyarakat dan rakyatnya memiliki pendidikan yang maju, dan keahlian terlebih dahulu.

“Karena itulah pendidikan menjadi hal yang sangat penting dan utama, khususnya juga bagaimana menggabungkan pendidikan, pengetahuan, teknologi, dan juga keimanan kita semua,” ujar Wapres JK saat peresmian Kampus II Pesantren Moderen  Ikatan Mesjid Musala Indonesia Muthahidah (IMMIM) Putra di Desa Moncongloe, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Sabtu (28/10/2017) lansir Setwapres.

Baca: Epistemologi Islam: Integrasi Ilmu dan Iman

Lebih lanjut, Wapres JK mengungkapkan, kriteria pendidikan modern yang dibutuhkan saat ini menekankan pada kreativitas dan inovatif. Sehingga, para peserta didik mampu menciptakan dan memperbaiki sesuatu yang bermutu serta mempunyai nilai tambah.

“Yang harus utamakan ialah suatu kreativitas suatu pengetahuan yang menimbulkan nilai tambah dan mempunyai kecerdasan yang baik. Itulah yang menjadi dasar kebutuhan (pendidikan) pada hari ini.

Itulah yang dimaksud modern pada dewasa ini, harus lebih kepada teknologi, sistem yang baik, dan penemuan yang baik. kita harapkan pada pendidikan yang akan datang semua telah berubah IT dan Teknologi,” terangnya.

Wapres menambahkan secara khusus pendidikan di IMMIM, harus didorong ke arah yang kreatif dan inovatif, untuk menjadi wirausaha muda bukan menjadi pegawai negeri sipil.

“Zaman dulu orang mengandalkan ijazah tapi zaman sekarang ijazah tidak berarti lagi, kenapa tidak berarti sekarang karena dulu ijazah dipakai untuk menjadi pegawai negeri, sedangkan yang diterima sekarang selama setahun paling tinggi hanya 50 ribu setahun, itupun mungkin kurang, sedangkan yang lulus 1 juta per tahun,” ujarnya.

Baca: Rapat Pleno Wantim MUI, Tiga “Skala Prioritas Pendidikan Nasional” Disampaikan

Untuk itu, Wapres inginkan pendidikan harus menciptakan pengusaha-pengusaha entrepreneur, sebagaimana yang dilakukan almarhum KH Fadeli Luran, Pendiri IMMIM, sebahai pedagang di samping mengurus umat.

“Apalagi pendiri (IMMIM) almarhum KH Fadeli Luran merupakan pengusaha. Beliau pengusaha percetakan, hubungan dagang, dan sebagainya, dari situ ia membagi waktunya dalam tingkat-tingkat suatu pendidikan,” tuturnya.

Pada kesempatan tersebut, Wapres mengungkap kenangan pribadinya dengan KH Fadeli Luran. “Pengurus IMMIM dan hadirin sekalian mendoakan almarhum orangtua kita semua, KH Fadeli Luran selaku pendiri IMMIM,” kenangnya.

Wapres juga menceritakan ketika ia berjuang bersama almarhum di awal pendirian IMMIM.

“Kami sering bersama dan saya jadi wakilnya, sementara di IMMIM saya menjabat sebagai Sekjen pertama. Apa yang dilakukan almarhum merupakan contoh bijak yang perlu kita jadikan pembelajaran,” pesannya.

Baca: Problem Serius Pendidikan Nasional

Sebelumnya, Ketua Yayasan Dana Islamic Centre (YASDIC) IMMIM, Ridwan Abdullah melaporkan, Ponpes khusus Putra dapat menampung sekitar 1.500 hingga 2.000 santri.

“Tahap pertama ini kapasitasnya hanya 350 santri. Sekarang sudah bisa menampung hingga 500 santri,” ucapnya.

Khusus IMMIM Putra di Moncongloe merupakan program pemindahan santri dari kampus Tamalanrea untuk tingkatan Madrasah Aliyah (MA). Untuk tingkat Madrasah Tsanawiyah (MTs) masih dipusatkan di Tamalanrea, yang berada di Makassar.

Seperti diketahui, pesantren IMMIM ini berada di Makassar dan dikelola oleh Yayasan Dana Islamic Center (YASDIC) Ikatan Masjid Mushalla Indonesia Muttahidah (IMMIM). YASDIC IMMIM didirikan pada tahun 1964 oleh KH Fadeli Luran sebagai organisasi kemasjidan yang berusaha menjunjung tinggi persatuan umat.

Baca: STIKMA Ingin Luluskan Sarjana Paham Teknologi dan Beriman

Saat ini, kampus ini berada di lahan seluas 8 ha, dilengkapi berbagai fasilitas pendidikan seperti perpustakaan, laboratorium, rumah pembina, dan fasilitas olahraga.

Ini salah satu pesantren modern pertama di luar Pulau Jawa. Saat ini membina sekitar 900 santri dan telah menamatkan lebih dari 6 ribu santri. Para alumni sekarang menyebar di berbagai daerah di Indonesia dengan beragam profesi.

Selesai peresmian, Wapres melakukan peninjauan pondok pesantren. Sebelum kembali ke rumah pribadinya, Wapres menyempatkan peninjauan taman Universitas Hasanuddin dan gedung PMI yang sedang dibangun.*

Rep: SKR

Editor: Muhammad Abdus Syakur

Dukung Kami, Agar kami dapat terus mengabarkan kebaikan. Lebih lanjut, Klik Dompet Dakwah Media Sekarang!

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !