Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Nasional

Masalah Bank Muamalat Bukan Likuiditas

ANTARA
Bagikan:

Hidayatullah.com–Masalah yang membelit Bank Muamalaat Indonesia (BMI) bukan soal likuiditas. Tetapi soal cekaknya modal untuk melakukan pengembangan. Demikian ditegaskan Hery Syafril, Direktur Keuangan BMI, dikutip dari majalah Tempo edisi terbaru.

Likuiditasnya cukup baik.  “Saya pastikan likuiditas perusahaan membaik ke level 85 persen,” kata Hery.

Soal modal, akhir tahun lalu rasio kecukupan BMI hanya 12,7. Nilai ini di bawah standar rasio kecukupan modal yang sehat bagi perbankan sebesar 14 persen.

“Mana mungkin dengan rasio itu kami tumbuh,” ujar Hery.

Baca: “Jangan Sampai yang Masuk Bank Muamalat Membelokkan Nilai-nilai Islam”

Direksi BMI sebenarnya berharap tambahan modal baru. Tapi pimilik lama: Islamic Development Bank (IDB), National Bank of Kuwait, dan Grup Sedco menolak menyuntikkan dana segar dengan alasan masing-masing.

IDB kepentok aturan. Lembaga ini memegang saham sebesar 32,74 persen melebihi batas wajar 20 persen. Sedangkan bank Kuwait lebih fokus berinventasi di negaranya. Dia tak mau menambah saham yang saat ini mencapaia 30,45 persen. Adapun Grup Sedco harus membenahi portofolio keuangannya sehingga hanya mempertahankan 24,23 persen saham miliknya.

Imbas dari modal cekak, kata Hery, BMI tak bisa mengejar digitalisasi perbankan.

Baca: KH Ma’ruf Amin: Bank Muamalat Harus Kita Jaga

Tanpa modal segar, jajaran direksi kemudian melakukan langkah-langkah efisiensi. Di antaranya dengan menutup 120 kantor jaringan BMI setingkat kantor kas dan kantor cabang pembantu. Dengan langkah itu, tahun lalu BMI mampu menyisihkan biaya operasional hingga Rp 300 miliar. Hery menargetkan tahun ini akan ada efisiensi Rp 150 miliar.

Kabar baik bagi jajaran direksi, rapat umum pemegang saham luar biasa pada 20 September tahun ini memutuskan BMI menerbitkan saham baru sebanyak 80 miliar lembar saham. Bertindak  sebagai pembeli siaga adalah PT Minna Padi Investama Sekuritas (PADI). Padi menargetkan  pembelian 51 persen saham dengan valuasi Rp 4,5 triliun.

Untuk mencapai target tersebut, PADI akan menggandeng dua investor utama, Setiawan Ichlas dan Ilham Akbar Habibie.*

Rep: Bambang S
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Meski Terlacak di China, Kejagung Belum Bisa Tangkap Eddy Tansil

Meski Terlacak di China, Kejagung Belum Bisa Tangkap Eddy Tansil

Kancing Baju Berpotensi dari Tulang Babi

Kancing Baju Berpotensi dari Tulang Babi

DPR Usul Gambar Bulan Sabit Merah untuk PMI

DPR Usul Gambar Bulan Sabit Merah untuk PMI

Pelaporan Din Syamsuddin, PKS: Cermin Bobroknya Moral Elite karena Kedepankan Permusuhan

Pelaporan Din Syamsuddin, PKS: Cermin Bobroknya Moral Elite karena Kedepankan Permusuhan

Hadirin Tak Kuasa dan Menangis Lihat Muslim Rohingya

Hadirin Tak Kuasa dan Menangis Lihat Muslim Rohingya

Baca Juga

Berita Lainnya