Senin, 5 Juli 2021 / 26 Zulqa'dah 1442 H

Nasional

Pondasi-pondasi Membangun Masjid sebagai Pusat Kejayaan Umat

muh. abdus syakur/hidayatullah.com
Masjid Agung Al-Azhar di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, dijepret pada Ahad (15/10/2017).
Bagikan:

Hidayatullah.com– Membangun masjid menjadi pusat kejayaan umat bukan mustahil untuk kembali dilakukan. Dalam memantapkan bangunan tersebut, ada beberapa pondasi atau basis yang diperlukan.

Hal ini terungkap dari acara dialog kepemudaan bertema “Mengembalikan Masjid sebagai Sentra Kejayaan Umat Islam”, digelar  Youth Islami Study Club (YISC) Al-Azhar di Auditorium Arifin Panigoro kompleks Masjid Agung Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Ahad (15/10/2017).

Pondasi pertama adalah tauhid. Tidak ada yang paling utama dari masjid kecuali tauhid. “Urusan yang paling harus digalakkan,” tegas Pembina Relawan Sahabat Tauhid Masjid Daarut Tauhid Cipaku, Hari Sanusi, sebagai salah satu pembicara.

Dalam hal ini, sebuah masjid harus menggalakkan program-program pembelajaran ketauhidan, keagamaan. Terkait itu, menurut Sanusi, sila pertama dalam Pancasila, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, merupakan ketauhidan.

Baca: Adhyaksa: Jadikan Masjid Berfungsi Strategis untuk Umat dan Negara

Pondasi selanjutnya adanya basis wakaf, dimana diperlukan manajemen pengelolaan aset sosial. Dalam hal ini, kata dia, masjid idealnya memiliki aset-aset wakaf.

Misalnya masjid punya ambulans, aula, kamera, dan lain-lain sebagainya, yang mana semua itu bisa memberikan manfaat bagi masyarakat, khususnya di sekitar masjid itu berada.

“Itu sangat bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan umat,” ujarnya, antara lain dengan menyewakannya atau pengelolaan lainnya.

Pondasi berikutnya adalah lembaga amil zakat (LAZ). Lewat lembaga pengelola zakat ini, masjid kemudian bisa mewadahi jika suatu saat ada warga atau jamaah yang membutuhkan bantuan.

Di samping itu, diperlukan pendataan atas pendapatan LAZ masjid maupun atas semua jamaah masjid. Dalam pendataan itu, dibuat peta sosial jamaah atau warga sekitar masjid.

Pemetaan jamaah itu antara lain dalam hal kondisi sosialnya, mana yang dhuafa mana yang bukan. Atau pemetaan dalam hal tingkat kerajinan warga shalat berjamaah di masjid.

Pemetaan ini menurutnya berkaitan dengan pengelolaan, peruntukan, serta pendistribusian zakat, infaq, sedekah untuk jamaah masjid atau warga sekitar.

Baca: Pemuda Al-Azhar Ingin Masjid Kembali Jadi Pusat Kejayaan Islam

Pondasi selanjutnya dalam membangun masjid sebagai pusat kejayaan umat adalah keberadaan para relawan masjid.

Mereka ini yang secara sukarela berbuat untuk masyarakat sesuai dengan kompetensi masing-masing. Sanusi mengistilahkan mereka sebagai ‘mujahid’.

“Ternyata di masyarakat dibutuhkan para mujahid yang banyak,” imbuhnya.

Para relawan itu, kata dia, menyumbangkan keahlian/ilmunya masing-masing untuk jamaah lewat keberadaan masjid. “Jadi masjid itu kumpulan relawan yang mengajarkan ilmunya,” jelasnya.*

Rep: SKR
Editor: Muhammad Abdus Syakur

Bagikan:

Berita Terkait

BUMN jabatan

Refleksi Isra’ Mi’raj, Sekjen MUI Ingatkan Pentingnya Shalat

DPR Tetap Akan Awasi Pelaksanaan Haji

DPR Tetap Akan Awasi Pelaksanaan Haji

ISAC Minta Ruhut Sitompul Hormati Muhammadiyah dan Komnas HAM

ISAC Minta Ruhut Sitompul Hormati Muhammadiyah dan Komnas HAM

Kuasa Hukum 02: MK Tidak Melakukan Aktivisme Yudisial

Kuasa Hukum 02: MK Tidak Melakukan Aktivisme Yudisial

Nanggok, Sedekah Untuk Tamu

Nanggok, Sedekah Untuk Tamu

Baca Juga

Berita Lainnya