Selasa, 23 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Nasional

Film G30S/PKI Dinilai Ingatkan Generasi Muda soal Pengkhianatan atas Pancasila

muhammad abdus syakur/hidayatullah.com
Diorama kekejaman PKI di Rumah Penyiksaan, salah satu situs di Monumen Kesaktian Pancasila, Lubang Buaya, Jakarta Timur.
Bagikan:

Hidayatullah.com– Inisiator Gerakan Anak Negeri (GAN), Pedri Kasman, menilai, rencana pemutaran film G30S/PKI yang dimotori Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dan beberapa pihak lain adalah sangat wajar dalam momentum 30 September.

Menurutnya, hal itu bisa dimaknai sebagai upaya mengingatkan bangsa akan sejarah kelam yang pernah terjadi. Bahwa pernah terjadi pengkhianatan terhadap Pancasila dan ideologi bangsa ini oleh Partai Komunis Indonesia (PKI).

“Bahkan pengkhianatan itu disertai dengan tindakan penyiksaan dan pembunuhan yang kejam dan tidak berperikemanusiaan,” ujarnya dalam keterangan tertulis diterima redaksi di Jakarta, Rabu (20/09/2017).

Baca: Film G30S/PKI, Aktivis: Peringatan 30 September Momentum Teguhkan Tap MPRS

Pedri berharap, selain dalam rangka mengingatkan generasi penerus bangsa, juga agar sejarah kelam itu tidak terulang.

“Jadi hal ini tidak dimaksudkan untuk menyudutkan pihak tertentu. Maka tidak perlu pula ada pihak yang mempersoalkan pemutaran film ini,” imbuhnya.

Ia menambahkan, jika ada pihak yang merasa dirugikan dengan konten film itu maka cara yang tepat adalah dengan memproduksi film baru.

Karena bagaimanapun, katanya, film adalah bagian dari karya seni yang bisa saja sang sutradara membumbuinya dengan dramatisasi untuk memikat penonton.

Baca: Muncul Usulan Pemutaran Kembali Film G30S/PKI, Fadli Zon Setuju

“Jadi silakan bikin film baru dengan menampilkan fakta lain yang dirasa belum terungkap. Kalau perlu kontennya lebih lengkap, ada fakta sebelum dan sesudah 30 September 1965. Lebih bagus lagi jika bisa menelusuri perjalanan PKI sejak awal bercokol di Indonesia. Sehingga rakyat disuguhi informasi yang cukup,” terangnya.

Walaupun, Pedri mencatat, bahwa film G30S/PKI garapan Arifin C Noer tersebut belum tentu menggambarkan kejadian yang sesungguhnya, kecuali film tersebut memang diambil langsung pada saat kejadian, atau sebagai dokumen resmi.

“Sepanjang dokumen resmi itu tidak ada maka faktor subjektif sang pembuat film tak dapat dihindarkan,” tutupnya.*

Rep: Yahya G Nasrullah
Editor: Muhammad Abdus Syakur

Bagikan:

Berita Terkait

Yusril: Alfian Tanjung Mestinya Dibebaskan oleh Pengadilan

Yusril: Alfian Tanjung Mestinya Dibebaskan oleh Pengadilan

FPI Tuntut Penghentian Pemutaran Film “?”

FPI Tuntut Penghentian Pemutaran Film “?”

Ketua Forum Habaib Jakarta: Jadikan Perbedaan Mahdzab Mendatangkan Rahmat

Ketua Forum Habaib Jakarta: Jadikan Perbedaan Mahdzab Mendatangkan Rahmat

Persis Sesalkan Doa Non-Islam Dibacakan di Depan Peserta Upacara Muslim

Persis Sesalkan Doa Non-Islam Dibacakan di Depan Peserta Upacara Muslim

Soetrisno Bachir: Pemerintah Lemah Tekanan Asing Kelola Minerba

Soetrisno Bachir: Pemerintah Lemah Tekanan Asing Kelola Minerba

Baca Juga

Berita Lainnya