Jum'at, 26 Maret 2021 / 12 Sya'ban 1442 H

Nasional

Kiai Cholil Nafis: Tahun Baru Hijriyah Momentum Bermuhasabah

Zainal A/hidayatullah.com
KH Cholil Nafis, Ketua Komisi Dakwah MUI Pusat.
Bagikan:

Hidayatullah.com– KH M Cholil Nafis, Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, mengajak umat Islam untuk memanfaatkan momentum tahun baru Hijriyah sebagai sarana mengevaluasi diri.

Hari ini, Rabu, 20 September 2017 bertepatan dengan Kamis, 1 Muharram 1439 H alias tahun baru Islam.

“Seyogianya kita bersama bermuhasabah (evaluasi) diri, apakah sudah melakukan hijrah dan memantapkan hijrah dalam menjalani kehidupan sehar-hari,” ujar Kiai Cholil kepada hidayatullah.com Jakarta lewat pernyataan tertulisnya, hari ini.

Baca: Janji Allah untuk Kaum Terusir, Hijrah, dan yang Dihinakan

Menurutnya, kata hijrah akhir-akhir ini jadi tren di kalangan anak muda penggiat keagamaan untuk menunjukkan dia sudah taubat dan kembali pada jalan yang benar.

“Hijrah itu ungkapan yang menunjukkan dirinya insaf dari dunia kelam atau maksiat menuju kesadaran beragama,” ujarnya.

Sebenarnya, jelas Kiai Cholil, kata hijrah mulai dikenal sejak zaman Nabi Ibrahim Alaihissalam saat diucapkan bahwa ‘saya berhijrah kepada Allah’ (“inni muhajirun ila Rabbi”, dalam Al-Qur’an Surat ke-29 ayat 26).

“Lima ribu tahu kemudian di zaman Nabi terakhir, mulai dikenal lagi ungkapan hijrah saat Sayyidina Utsman diizinkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk hijrah (pindah) ke Habasyah,” terangnya.

Baca: Salim A Fillah: 4 Bekal Penting Harus Dimiliki Orang yang Berhijrah

Kemudian, lanjutnya, kata hijrah lebih populer saat peristiwa besar dan babak baru perjuangan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ketika hijrah (pindah) dari Makkah ke Madinah pada tahun 622 M.

Dimana kata dia peritiwa hijrah itu oleh Sahabat Umar bin Khattab dijadikan nama Tahun Islam atas saran Sahabat Ali bin Abi Thalib dalam musyarah para sahabat tahun 14 H.

Hijrah yang dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam seuntai antara fisik dan jiwanya. Ia hijrah dari Makkah ke Madinah, hijrah dari lingkungan yang mengusik ke lingkungan yang penuh keakraban, sekaligus menunjukkan hijrah yang utuh dalam keimanan.

“Menurut Al-Qusyairi, hijrah itu ada dua: hijrah maknawi dan hissi atau biasa disebut hijrah zhahir dan batin,” sebutnya.

Baca: Jadikan Tahun Baru Islam Momentum Persatuan, Jika Tak Ingin Dijadikan “Hidangan”

Hijrah batin adalah pindah dari kekufurun menuju iman dan dari berserah diri kepada makhluk menuju penyerahan diri seutuhnya kepada Allah Subhanahu Wata’ala, terangnya.

“Adapun hijrah zhahir adalah meninggalkan kemungkaran menuju keshalihan, dari pakaian terbuka menuju berhijab dan meninggalkan dunia kelam menuju hidayah,” jelasnya.

“Selamat berhijrah menuju ridha Allah Subhanahu Wata’ala,” pungkas Kiai Cholil.*

Rep: Dadang Kusmayadi
Editor: Muhammad Abdus Syakur

Bagikan:

Berita Terkait

LPA Indonesia: Belum Ada Teknis Sanksi Pemberatan Kasus Prostitusi Online Anak-anak

LPA Indonesia: Belum Ada Teknis Sanksi Pemberatan Kasus Prostitusi Online Anak-anak

Gandeng Trans Media, September  CNN Indonesia akan Mengudara

Gandeng Trans Media, September CNN Indonesia akan Mengudara

Amal, Ciri Ulama yang Sering Terlupakan

Amal, Ciri Ulama yang Sering Terlupakan

Ketua Syabab Jatim Instruksikan Nobar Film G30S/PKI

Ketua Syabab Jatim Instruksikan Nobar Film G30S/PKI

LP Cipinang Pindahkan Ahok ke Mako Brimob Depok, Ketua JPU: Terserah Dia

LP Cipinang Pindahkan Ahok ke Mako Brimob Depok, Ketua JPU: Terserah Dia

Baca Juga

Berita Lainnya