Selasa, 16 Februari 2021 / 5 Rajab 1442 H

Nasional

Anggota DPR RI Desak PBB dan ASEAN Ikut Hentikan Kejahatan Kemanusiaan di Rohingya

muh. abdus syakur/hidayatullah.com
Nasir Djamil.
Bagikan:

Hidayatullah.com–Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, M. Nasir Djamil mengutuk keras terjadinya kejahatan kemanusiaan yang dilakukan militer dan kelompok ekstrimis di Rohingyam Myanmar dan meminta agar kejahatan tersebut segera dihentikan.

Menurutnya, pembakaran kampung-kampung, pembunuhan warga khususnya anak-anak dan wanita merupakan kebrutalan yang mengarah kepada pembersihan etnis alias genosida yang termasuk kedalam kejahatan HAM berat.

“Pemerintah Myanmar telah mempertontonkan salah satu bentuk kejahatan serius dimuka bumi ini. Karena itu Atas dasar kemanusiaan, sudah seharusnya pembantaian yang mengarah pada genosida tersebut dihentikan dan diusut tuntas!” Tegas politisi Aceh tersebut, dalam rilisnya kepada hidayatullah.com, Kamis, (31/08/2017).

Baca: Hari Keenam Serangan Militer Myanmar terhadap Etnis Rohingya

Konflik Rohingya yang berujung pada pembataian kelompok muslim di Rohingya sudah berlangsung lama.

Karena itu, Nasir Djamil heran dan menyayangkan tidak ada langkah kongkret dari dunia baik itu PBB maupun ASEAN untuk memproses dan menghentikan pembantaian tersebut.

Sebagai Anggota Komisi III DPR, Nasir Djamil  menyerukan agar ada langkah-langkah kongkret yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia untuk dapat mengakhiri kejahatan HAM berat di Myanmar tersebut.

 Baca: MUI Desak PBB Tindak Tegas Pemerintah Myanmar

Pertama, Pemerintah dapat melakukan upaya diplomatik dengan mengultimatum Kedutaan Besar Myanmar di Indonesia agar Pemerintahan Myanmar menghentikan pembantaian. Apabila ultimatum tidak diindahkan, maka Duta Besar Myanmar harus diusir dari Indonesia sebagai bentuk protes keras. Termasuk juga memanggil duta besar Indonesia untuk Myanmar.

Kedua, Pemerintah  Indonesia dapat mendorong PBB maupun ASEAN untuk membentuk tim khusus untuk melakukan pencarian fakta sekaligus menjadi penjaga kedamaian dan melindungi kelompok minoritas muslim di Rohingya. Apalagi, telah ada kelompok gerilyawan Tentara Penyelemat Rohingya Arakan (ARSA) yang melakukan perlawanan ke militer Myanmar, sehingga jika dibiarkan berkonflik, maka akan semakin membuat rumit konflik di Rohingya, sementara warga muslim biasa hanya akan menjadi korban.

Baca: Berjuang dan Melawan! Pilihan Terakhir Pria Rohingya

Ketiga, Pemerintah Indonesia dapat mendorong komunitas internasional khususnya ASEAN untuk mengembargo Myanmar baik secara diplomatik maupun ekonomi. Embargo tersebut lazim diterapkan untuk menekan negara yang melakukan kejahatan kemanusiaan.

Selain itu, politisi PKS tersebut juga mendorong agar lembaga pemberi Nobel di Oslo Norwegia, mengevaluasi kembali bahkan mencabut pemberian hadiah Nobel perdamaian kepada tokoh Myanmar, Aung San Suu Kyi yang diam saja atas pelanggaran HAM di Rohingya. Diamnya Aung San Suu Kyi dinilai sebagai  bentuk persetujuannya atas pembantaian di Rohingya.*

Rep: Ahmad
Editor: Huda Ridwan

Bagikan:

Berita Terkait

Masyarakat Anti-Merokok Tak Ingin Perda Diubah

Masyarakat Anti-Merokok Tak Ingin Perda Diubah

Mendag Baru Harus Tetap Larang Minimarket Jual Miras

Mendag Baru Harus Tetap Larang Minimarket Jual Miras

Warga  Bantu Proses Autopsi, Muhammadiyah dan Komnas HAM Ucapkan Terimakasih

Warga Bantu Proses Autopsi, Muhammadiyah dan Komnas HAM Ucapkan Terimakasih

Ponpes Cipasung Tasikmalaya Siap Tampung Pengungsi Rohingya

Ponpes Cipasung Tasikmalaya Siap Tampung Pengungsi Rohingya

Pelajar di DKI Jakarta Deklarasi Setop Tawuran

Pelajar di DKI Jakarta Deklarasi Setop Tawuran

Baca Juga

Berita Lainnya