Ketum Muhammadiyah: Problem Bangsa Kian Kompleks, Pentingnya Beramar Makruf Nahi Mungkar

Dalam pengalaman dan perjalanan Muhammadiyah, ungkapnya, justru membangun itu melalui kerja-kerja konkret, produktif, tersistem, berkelanjutan, dan hasilnya dapat dirasakan umat, warga, dan masyarakat luas.

Ketum Muhammadiyah: Problem Bangsa Kian Kompleks, Pentingnya Beramar Makruf Nahi Mungkar
muhammad abdus syakur/hidayatullah.com
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir (kanan) bersama jajarannya jumpa pers usai pertemuan dengan Presiden Jokowi di Pusat Dakwah PP Muhammadiyah di Jakarta, Selasa (08/11/2016).

Terkait

Hidayatullah.com– Menurut Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, semakin hari kian kompleks problem yang dihadapi bangsa Indonesia, umat Islam, dan Muhammadiyah.

Termasuk, menurutnya, hal-hal khusus yang tak sejalan dengan ajaran Islam maupun kepentingan umat Islam.

Terkait politik, budaya, dan ekonomi. Dari soal sistem sampai produk yang tak disukai dan bertentangan dengan misi dan kepentingan umat Islam, imbuhnya.

Kata Haedar, tentu positif bernahi mungkar agar ada kesadaran kritis. Tetapi bersamaan dengan itu, sama atau bahkan tak kalah pentingnya beramar makruf, membangun sesuatu yang sepadan dan lebih baik sebagai alternatif.

Baca: Di depan Presiden Jokowi, Muhammadiyah Sampaikan Berbagai Kritik Tajam soal Kondisi Bangsa

“Manakala kita tidak suka dengan politik yang liberal, maka kembangkan politik yang berbasis etika dan nilai-nilai Islam,” ujar Haedar dalam pernyataan tertulisnya diterima hidayatullah.com Jakarta, Ahad (02/07/2017).

Jika tidak suka dengan sistem ekonomi kapitalis, lanjutnya, maka bangun alternatif.

“Membangun sistem yang Islami tentu bukan sekadar merek dan verbal, tetapi isi dan kualitasnya yang sama atau yang terbaik,” ujarnya.

Menurutnya, pekerjaan membangun kekuatan umat Islam yang terbaik dan  unggul itu bukan sekadar wacana, ujaran, dan teori.

Baca: Muhammadiyah: Penistaan Agama Menyebabkan Suasana Kebangsaan Menjadi Keruh

Dalam pengalaman dan perjalanan Muhammadiyah, ungkapnya, justru membangun itu melalui kerja-kerja konkret, produktif, tersistem, berkelanjutan, dan hasilnya dapat dirasakan umat, warga, dan masyarakat luas.

“Semangat menggugat itu baik sebagai tanda kita memiliki militansi, namun semangat militan tersebut harus disertai dengan semangat dan kerja membangun agar ada hasilnya dan tidak berhenti pada perlawanan semata,” ungkapnya.

Ia mencontohkan, seperti bangsa terjajah bukan sekadar “freedom from (merdeka dari)”, tetapi “freedom for” alias “untuk apa merdeka”.

Masih menurut Haedar, saat ini umat Islam, Muhammadiyah, dan bangsa Indonesia memasuki fase baru hidup dalam persaingan tinggi.

Baca: Hidupkan Adab adalah Terapi Problematika Indonesia

Spirit melawan harus diiringi membangun. Jika tidak, imbuhnya, hanya akan merasa sukses dengan melawan melalui kata-kata, minus karya nyata yang unggul dan menjadi alternatif.

“Kalau kita tidak suka dengan jalan orang, bikinlah jalan sendiri yang lebih baik,” tegasnya.

Sudah tinggi waktunya umat Islam dan ormas Islam memberi jawaban-jawaban atas masalah yang pelik dengan pandangan yang luas dan langkah yang strategis. “Serta membuahkan hasil yang terbaik,” tegasnya.*

Rep: SKR

Editor: Muhammad Abdus Syakur

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , , , , , , , , , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !