Rabu, 24 Maret 2021 / 11 Sya'ban 1442 H

Nasional

Ketua Umum DPP Hidayatullah: Peran Pesantren Bela Negara Tak Diragukan Lagi

hidayatullah
Nashirul Haq, kanan, pemateri dalam Workshop Pengembangan Pendidikan Bela Negara, digelar oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Kementerian Agama RI (Puslitbang Kemenag) di Hotel Grand Clarion, Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (08/06/2017).
Bagikan:

Hidayatullah.com– Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Nashirul Haq, mengatakan, peran pesantren dalam bela negara tidak diragukan lagi. Sejarah mencatat bahwa para ulama, kiai, dan santri menjadi garda terdepan dalam perjuangan kemerdekaan.

Beliau menyebutkan sederet nama seperti Imam Bonjol, Teuku Umar, Teuku Cik Ditiro, Pangeran Diponegoro, Sultan Hasanuddin, Pamgeran Antasari dan lainnya adalah ulama yang memimpin perjuangan membela NKRI.

“Perumusan Pancasila sebagai dasar negara kita juga melibatkan para tokoh Islam seperti KH. Wahid Hasyim, Ki Bagus Hadikusuma, dan KH. Abdul Kahar Muzakkir,” kata sebagai pemateri dalam Workshop Pengembangan Pendidikan Bela Negara.

Acara itu diselenggarakan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Kementerian Agama Republik Indonesia (Puslitbang Kemenag RI) di Hotel Grand Clarion, Makassar, Sulawesi Selatan, baru-baru ini, Kamis (08/06/2017).

Dalam workshop tersebut, Nashirul membawakan materi dengan tema “Peran Pesantren dalam Penguatan NKRI”.

Ia mengatakan, peran santri dan pondok pesantren dalam bela negara terus berlanjut. Api jihad untuk membela Indonesia senantiasa berkobar-kobar.

Ia menyebutkan, pada saat agresi militer Belanda dan sekutunya pada bulan Oktober 1945 yang berhasil menduduki beberapa wilayah. Maka rapat akbar PBNU yang dipimpin dan diinisiasi KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahab Hasbullah menetapkan Resolusi Jihad.

“Seruan inilah yang membangkitkan semangat juang kaum santri. Ketika meletus perang 10 November 1945, ribuan kiai dan santri mengalir dari berbagai daerah ke Surabaya,” terangnya.

Selain itu, Nashirul menambahkan, ketika Indonesia terpecah menjadi 17 negara bagian di bawah Republik Indonesia Serikat (RIS) sebagai produk Konferensi Meja Bundar (KMB) tahun 1949, Mohammad Natsir tampil menyatakan mosi integral pada sidang RIS 3 April 1950.

Berkat mosi integral Mohammad Natsir itulah, maka 17 negara-negara bagian bersatu kembali dalam bingkai NKRI sebagaimana cita-cita awal proklamasi.

Karenanya, peranan pesantren sangat penting karena diharapkan menjadi basis utama dalam menanamkan pendidikan bela negara. Pesantren adalah basis pendidikan Islam yang otomatis di dalamnya diajarkan soal bela negara.

Diharapkan nantinya para santri bisa memahami sejarah perjuangan bangsa Indonesia, serta menyiapkan diri untuk tampil melanjutkan estafet kepemimpinan dengan ikut serta mempertahankan keutuhan NKRI.

Nashirul mengharapkan, berbagai peran para ulama, tokoh Islam, kiai, dan santri terhadap bangsa ini perlu terus disegarkan, agar semangat perjuangan mereka dapat diwariskan kepada generasi masa depan.

“Kita perlu juga meluruskan sejarah yang cenderung mengaburkan dan mengecilkan peran umat Islam dalam memperjuangkan, membela, mendirikan, dan membangun bangsa dan negara ini,” tandasnya.*

Rep: Ainuddin Chalik
Editor: Muhammad Abdus Syakur

Bagikan:

Berita Terkait

Bersama BNN, IPM ajak Perangi Narkoba

Bersama BNN, IPM ajak Perangi Narkoba

Berukhuwah Sepenuh Hati

Berukhuwah Sepenuh Hati

Ada Kemungkinan Ongkos Haji Tahun Ini Naik

Ada Kemungkinan Ongkos Haji Tahun Ini Naik

Waspadai Isu Feminisme di Lembaga Dakwah Kampus

Waspadai Isu Feminisme di Lembaga Dakwah Kampus

Penerbangan Komersil Dilarang Mulai Dinihari Tadi Malam sampai 1 Juni 2020

Penerbangan Komersil Dilarang Mulai Dinihari Tadi Malam sampai 1 Juni 2020

Baca Juga

Berita Lainnya