Senin, 29 November 2021 / 23 Rabiul Akhir 1443 H

Nasional

Gus Solah: Di Masjid Salman ITB Enggak Ada yang Radikal

ist.
KH Salahuddin Wahid.
Bagikan:

Hidayatullah.com– Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj baru-baru ini diwarta media menuding, nilai-nilai radikal sudah menyebar ke sejumlah kampus perguruan tinggi di Tanah Air, termasuk lewat Masjid Salman Institut Teknologi Bandung (ITB).

Menanggapi itu, tokoh NU KH Salahuddin Wahid (Gus Solah) mengatakan tidaklah demikian.

“Setahu saya sih di (Masjid) Salman enggak radikal tuh,” ujar Pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang ini saat dihubungi hidayatullah.com di Jakarta, Rabu (24/05/2017).

“Bahwa mungkin ada satu dua sih mungkin saja,” tambahnya.

Alumni ITB yang dulu aktif di Masjid Salman tahun 60-an ini bercerita, saat beberapa kali ia diundang ke sana, ia melihat tidak ada yang radikal di sana.

Kata Gus Solah, kawan-kawan di Masjid Salman yang dikenalnya baik-baik. “Ndak ada yang kemudian bicara dengan bahasa yang kasar,” tuturnya.

Baca: Mustofa: Isu Radikalisme Sengaja Dibuat untuk Hancurkan Media Islam

Ia kemudian menilai tidak baik kelakar Said Aqil yang berbunyi, “Melihat film porno lebih baik daripada menonton ceramah provokatif dari teroris.” Jelas Gus Solah, lebih baik tidak melakukan kedua-duanya.

“Kalau saya tidak akan melakukan itu. Bercanda yang tidak pada tempatnya. Ayat al-Qur’an, kan, tidak bisa pakai bercanda,” tutupnya.

Sebelumnya diketahui, Ketua Umum PBNU Said Aqil menuding, nilai-nilai radikal sudah menyebar ke sejumlah lembaga pendidikan tinggi di Indonesia.

“Seperti di ITB, IPB, ITS, dan lainnya. Terutama ITB lewat Masjid Salman,” ujar Said pada peluncuran Pusat Komando dan Kartu Pintar Nusantara di kantor NU, Jakarta Pusat, Senin (22/05/2017) dikutip Tempo.co.

Baca: Wajah Islam; Radikal, Liberal atau Ramah?

Acara itu dihadiri Menteri Komunikasi dan Informasi Rudiantara, Plt Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat dan Presiden Direktur PT XL Axiata Dian Siswarini. Said meminta Kementerian Komunikasi dan Informasi semakin aktif membendung radikalisme yang berkembang di dunia maya.

Ia mencontohkan negara-negara di Timur Tengah yang sukses membendung konten pornografi. Dia yakin tayangan radikalisme juga dapat dibendung di Indonesia.

“Melihat film porno lebih baik daripada menonton ceramah provokatif dari teroris. Karena kalau lihat porno, pasti sambil beristighfar,” ujar Said berkelakar dalam pidatonya.* Andi

Rep: Admin Hidcom
Editor: Muhammad Abdus Syakur

Bagikan:

Berita Terkait

Ini Klarifikasi Kemensos Terkait Kabar “Oknumnya Diduga Nodai HUT RI”

Ini Klarifikasi Kemensos Terkait Kabar “Oknumnya Diduga Nodai HUT RI”

Agar Ikut Acara di Bundaran HI, Sejumlah Warga Dikabarkan Dibayar Rp 50 Ribu

Agar Ikut Acara di Bundaran HI, Sejumlah Warga Dikabarkan Dibayar Rp 50 Ribu

Irena Center juga akan Melaporkan Sukmawati ke Bareskrim Polri

Irena Center juga akan Melaporkan Sukmawati ke Bareskrim Polri

Wakil Ketua MPR Sebut Usulan Amandemen Perpanjangan Masa Jabatan Presiden Datang dari Luar MPR

Wakil Ketua MPR Sebut Usulan Amandemen Perpanjangan Masa Jabatan Presiden Datang dari Luar MPR

Baasyir dan Majelis Mujahidin Curigai Keterlibatan CIA

Baasyir dan Majelis Mujahidin Curigai Keterlibatan CIA

Baca Juga

Berita Lainnya