Daurah JITU, Pentingnya jadi Jurnalis Muslim yang Tangguh dan Profesional

Yang terutama bagi anggota JITU, kata Mahladi, menjadikan al-Qur'an dan as-Sunnah sebagai acuan dalam segala aktivitas jurnalistiknya.

Daurah JITU, Pentingnya jadi Jurnalis Muslim yang Tangguh dan Profesional
skr/hidayatullah.com
Para jurnalis Muslim peserta dan panitia Daurah JITU 2017 di Cisarua, Bogor, Jawa Barat, Ahad (23/04/2017).

Terkait

Hidayatullah.com– Menjadi jurnalis harus tangguh dan profesional dalam menjalankan tugas dan profesinya. Begitu pula bagi para jurnalis Muslim.

Hal ini menjadi kesadaran tersendiri bagi perkumpulan para wartawan yang tergabung dalam Jurnalis Islam Bersatu (JITU). Pada Jumat-Ahad (21-23/04/2017) pekan kemarin, organisasi ini menggelar acara penerimaan anggota baru, Daurah JITU 2017, di Cisarua, Bogor, Jawa Barat.

Daurah bertema “Mencetak Jurnalis Muslim yang Tangguh dan Profesional” ini diikuti 22 peserta dari berbagai media dan daerah di Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, bahkan dari Makassar, Sulawesi Selatan.

Baca: JITU Selenggarakan Pelatihan, Tumbuhkan Jurnalisme Dakwah

Ciri jurnalis yang tangguh, disimpulkan dari acara ini, di antaranya pantang menyerah dalam menembus narasumber maupun mencari berita, data, fakta yang diperlukan, misalnya.

Sementara jurnalis yang profesional, salah satu contohnya adalah bersikap independen dalam pemberitaannya. Juga tidak terpengaruh dengan situasi dan kondisi yang tidak berhubungan dengan misinya dalam peliputan.

Ketika narasumber yang dihadapinya marah-marah, misalnya, seorang wartawan harus tetap tenang. “Jangan terpengaruh dengan hal-hal di luar tujuan wawancara,” ujar Artawijaya, salah seorang pemateri daurah yang juga mantan wartawan majalah Islam nasional, Sabili.

Sementara pemateri lain, Sekjen JITU Muhammad Pizaro mengatakan, salah satu peran jurnalis Muslim dengan berita-beritanya adalah mengadvokasi umat dan masyarakat. Membantu dalam menghadapi problematika keumatan yang dihadapi.

“Saya senangnya jadi wartawan itu kita banyak membantu orang yang kesulitan,” ungkap penulis berita-berita berbahasa Inggris dan Indonesia di berbagai media arus utama ini.

Baca: JITU Gelar Pelatihan Jurnalistik Untuk Mahasiswa

Selain itu, dalam bertugas, jurnalis Muslim juga harus memegang teguh kode etik yang telah ditetapkan. Khusus di JITU, tetah ditetapkan sejumlah kode etik bagi para anggotanya. Antara lain, menghindari berita bohong (hoax) dan tidak menerima uang dari narasumber.

Yang terutama bagi anggota JITU, kata Pemimpin Redaksi Kelompok Media Hidayatullah (KMH) Mahladi, menjadikan al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai acuan dalam segala aktivitas jurnalistiknya.

Tak kalah penting, jurnalis Muslim harus memiliki orientasi yang jelas dalam hidup dan profesinya, sebagai jurnalis sekaligus sebagai Muslim.

Seorang jurnalis Muslim harus memiliki cara pandang dan idealisme sebagai seorang Muslim. “Kita semua adalah pendakwah lewat tulisan,” ujar Ketua Dewan Syuro JITU, Ubaidillah Salman, Pemred Salam-online.com yang juga mantan Pemred Sabili.

Selain soal visi-misi dan orientasi jurnalisme, pada daurah ini para peserta juga dihidangkan materi terkait teknis peliputan khususnya dalam menginvestigasi suatu kasus. Selain Artawijaya, materi ini terutama disampaikan oleh Fajar Shadiq, Pemred Kiblat.net.

Baca: Syeikh Khalid: Jurnalis Muslim Berperan Besar Menyebarkan Kebaikan

Materi lain yang disuguhkan kepada para jurnalis tersebut adalah soal “Pers Islam dan Sejarahnya di Indonesia”. Beggy Rizkiyansyah, pegiat Jejak Islam untuk Bangsa (JIB), sebagai pemateri mengatakan, pers Islam pada masa-masa Orde Baru dulu cukup berkembang.

Bahkan, berbeda dengan sekarang, media-media Islam pada masa itu, kata Beggy, “Menjadi media mainstrem (arus utama).”

Hal lain yang penting diperhatikan para jurnalis Muslim adalah dalam menggiring opini publik lewat pemberitaannya. Misalnya, terkait hubungan sesama umat, ormas, ataupun pergerakan/kelompok Islam, jurnalis berperan menyatukan ukhuwah. “Memberikan nasihat (lewat tulisannya),” demikian pesan Cholis Akbar, Redaktur Pelaksana hidayatullah.com juga sebagai pemateri.

Sedangkan kepada mereka yang memusuhi dan hendak menghancurkan Islam, imbuhnya, jurnalis berperan dalam melakukan perlawanan.

Baca: Jurnalis Muslim Harus Patuhi Kode Etik Jurnalistik

Pada daurah yang dilengkapi shalat tahajud berjamaah dan permainan ringan ini, dilakukan pengukuhan keanggotaan bagi para peserta oleh Ketua JITU Agus Abdullah.

“Saya ingin menyatakan bahwa setelah melewati semua acara… nama-nama yang telah diwawancara saya nyatakan resmi menjadi anggota Jurnalis Islam Bersatu 2017,” ujar Agus sebelum menutup daurah yang juga diikuti jurnalis perempuan itu.

Daurah ini digelar atas dukungan berbagai pihak seperti IslamPosAid, Baitul Maal Hidayatullah (BMH), Muslimdaily.net, Sinergi Foundation, dan lain sebagainya.

“Panitia menyampaikan terima kasih pula kepada para donatur lain yang turut berpartisipasi, yang tak bisa disebutkan satu per satu,” ungkap panitia humas acara.*

Rep: SKR

Editor: Muhammad Abdus Syakur

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , , , , , , , , , , , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !