Kamis, 25 Maret 2021 / 11 Sya'ban 1442 H

Nasional

Anggota DPR: M. Natsir, Sosok Lengkap Negarawan

andi/hidayatullah.com
Diskusi “Menolak Lupa Peringati Mosi Integral Natsir 3 April 1950 Hadirkan NKRI” di ruang Fraksi DPR PKS, Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (03/04/2017).
Bagikan:

Hidayatullah.com–Anggota Komisi X DPR RI Mustafa Kamal menilai bangsa ini belajar banyak dari sosok Mohammad Natsir sebagai sosok yang lengkap sebagai seorang negarawan.

Tidak hanya seorang politisi (Ketua Partai Masyumi), tapi juga seorang pemikir, penulis, dan juga ideolog hadirnya NKRI.

“Semua kita belajar dari Masyumi, termasuk juga yang menjadi bagian dari kritiknya. Dia berpikir bukan untuk kepentingan keluarganya, kelompoknya, tapi untuk keumatan. Sosok pemikir, penulis, ideolog, aktivis, semua lengkap sebagai seorang negarawan,” jelas Mustafa Kamal dalam paparannya dalam acara Diskusi Publik bertema “Menolak Lupa: Peringati Mosi Integral M. Natsir Menghadirkan NKRI” di Ruang Pleno FPKS, Senin (03/04/2017) lalu.

Baca:  Anggota DPR: Para Politisi Harus Mencontoh Mohammad Natsir

Salah satu yang menjadi bukti kenegarawanan M.Natsir adalah saat lahirnya Mosi Integral tahun 1950, kala dirinya memimpin Partai Masyumi.

Dalam kurun waktu itu, Natsir mengusulkan kepada seluruh partai dalam sidang pleno parlemen untuk mengembalikan keutuhan Bangsa Indonesia dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan suatu kesadaran penuh, pasca terpecah menjadi 17 (tujuh belas) negara bagian di bawah Republik Indonesia Serikat (RIS) sebagai produk Konferensi Meja Bundar (KMB) tahun 1949.

“Natsir mencoba berdiri di tengah antara kubu federalisme atau unitarisme, dengan lebih kedepankan persatuan Indonesia. Proposal ini diterima oleh seluruh partai,” tegas Sekjend DPP PKS ini.

Oleh karena itu, Mustafa Kamal menegaskan cara-cara perjuangan M.Natsir seperti itu adalah bentuk penghargaan terhadap konsensus yang prosesnya berlangsung secara konstitusional.

Baca: Perjuangan Tokoh Masyumi Natsir Hadirkan NKRI

Sosok kenegarawanan M.Natsir juga ditunjukkan saat dirinya dibebaskan oleh Presiden Soeharto dari penjara pasca tahun 1966. Meskipun dibebaskan, jelas Mustafa Kamal, hak-hak politik tetap dicabut oleh Presiden Soeharto. Bahkan, Presiden Soeharto menggunakan kecermelangan M.Natsir untuk melakukan lobi-lobi politik di tingkat global.

“Meskipun kiprahnya tidak diakui juga, namun sosok kenegarawanan M.Natsir yang sederhana, santun, dan bernas sudah melekat dalam dirinya,” jelas Alumni Fakultas Sastra UI Jurusan Sejarah yang juga anggota Fraksi PKS DPR RI ini.

Hadir pula dalam kesempatan ini, Ketua Fraksi PKS Jazuli Juwaini selaku pembuka acara, Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid, Sejarawan Anhar Gonggong, Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Mohammad Siddik, dan Wartawan Senior Nashihin Masha.*

Rep: Ahmad
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

FPL Blokade Beberapa Ruas Jalan Masuk Dolly

FPL Blokade Beberapa Ruas Jalan Masuk Dolly

Ponpes Diimbau Tak Mengajarkan Paham Menyimpang

Ponpes Diimbau Tak Mengajarkan Paham Menyimpang

Muktamar As’adiyah XIV, Teguhkan Nilai Wasathiyah dalam Kebinekaan

Muktamar As’adiyah XIV, Teguhkan Nilai Wasathiyah dalam Kebinekaan

Ormas Islam Perlu Buat Peta Perjuangan Umat

Ormas Islam Perlu Buat Peta Perjuangan Umat

Ini Desakan MUI Kepada Pemerintah Terkait Tragedi Tolikara

Ini Desakan MUI Kepada Pemerintah Terkait Tragedi Tolikara

Baca Juga

Berita Lainnya