Senin, 5 Juli 2021 / 25 Zulqa'dah 1442 H

Nasional

3 Makna Positif Peresmian Barus

dnaberita.com
Presiden Jokowi meresmikan tugu Titik Nol Islam Nusantara di Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, Jumat (24/03/2017).
Bagikan:

Hidayatullah.com– Pengamat Politik Internasional, Arya Sandhiyudha mengungkapkan, ada tiga makna positif dari diresmikannya Barus di Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, sebagai Titik Nol Penyebaran Islam di Nusantara.

Pertama, menurutnya, Barus sebagai titik nol adalah ralat resmi terhadap buku-buku sejarah yang menyebutkan datangnya Islam di Indonesia pada abad ke-13 dan menegaskan abad ke-7 merupakan awalnya.

“Ini artinya, betapa dekat jaraknya dari masa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan Khulafaur Rasyidin,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima hidayatullah.com, Kamis (30/03/2017).

Baca: Soal Barus Titik Nol Islam di Nusantara, Ini Penjelasan Sejarawan

Kedua, sambung Arya, abad ke-7 adalah bukti terjadinya sinergi dan harmoni antara unsur-unsur agama dan politik, bukan pemisahan atau antagonisme agama dan politik.

“Dalam serial sejarah kota Barus saat itu berada dalam wilayah Sriwijaya yang dipimpin Sri Indravarman, Raja Sriwijaya pertama yang beragama Muslim dan kerap ‘chating’ atau berkorespondensi dengan Khalifah Umar bin Abdul Aziz, cicit Umar Bin Khattab,” paparnya.

Ketiga, ia mengungkapkan, Barus juga sebagai titik nol Islam di Nusantara sekaligus ‘internasionalisme Islam’. Sebab di sana juga tercatat sebagai kampung Arab Muslim pertama di Indonesia.

Baca: Situs Sejarah Islam Barus Terancam Punah

Cara memaknai yang demikian, ungkap Arya, memperkokoh pesan bahwa kebangsaan Indonesia justru semakin eksis ketika dilandasi dasar yang utuh, kokoh, luas, dan global.

“Dari perkampungan Muslim di tepian, kemudian masuk ke pusaran kekuasaan Sriwijaya. Dari asimilasi dengan penduduk, hingga raja, adipati, atau penguasa setempat yang akhirnya masuk Islam. Tentunya dengan jalan damai,” pungkas Direktur Madani Center Development International Studies (MaCDIS) ini.*

Rep: Achmad Fazeri
Editor: Muhammad Abdus Syakur

Bagikan:

Berita Terkait

Cendekiawan Aceh: Disertasi Seks di Luar Nikah Halal Pemikiran Liberal

Cendekiawan Aceh: Disertasi Seks di Luar Nikah Halal Pemikiran Liberal

Aktivis HAM Khawatir TGPF Kasus Novel Hanya untuk Jawaban Debat

Aktivis HAM Khawatir TGPF Kasus Novel Hanya untuk Jawaban Debat

Negara Muslim Saatnya Jadi Produsen Informasi

Negara Muslim Saatnya Jadi Produsen Informasi

Cegah Kasus Daging Palsu, Penerapan UU JPH Harus Dikuatkan

Cegah Kasus Daging Palsu, Penerapan UU JPH Harus Dikuatkan

Permasalahan Papua Harus Diselesaikan secara Komprehensif

Permasalahan Papua Harus Diselesaikan secara Komprehensif

Baca Juga

Berita Lainnya