Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Nasional

Pakar Hukum Internasional: Umat Islam Pemilik Saham Terbesar Republik Indonesia

Muhammad Abdus Syakur/hidayatullah.com
Atip Latipulhayat SH, LLM, PhD (dosen Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran Bandung) pada lanjutan Sidang Uji Materi Pasal Zina dan Homoseksual di Gedung MK, Jakarta, Selasa (23/08/2016).
Bagikan:

Hidayatullah.com–Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Pemuda Persis, Dr. Atip Latifatul Hayat, menyampaikan bahwa Umat Islam dan Indonesia ibarat gula dan manisnya yang tidak dapat dipisahkan. Hal itu disampaikannya saat mengisi Kuliah Jam’iyyah Pimpinan Cabang Pemuda Persatuan Islam Margahayu, Kab.Bandung, Ahad (05/02/2017).

Acara yang bertajuk “Mempertegas Peran Ummat Islam Sebagai Gerakan Pejuang dan Pemersatu Bangsa” ini merupakan respons terhadap isu-isu pemojokkan ummat Islam yang terjadi belakangan ini.

“Tujuan acara ini sebagai respons terhadap isu-isu yang berkembang sekarang yang teramat sering memojokkan ummat islam, seperti halnya isu radikalisme, anti NKRI, anti kebhinekaan, anti Pancasila, dan sebagainya,” kata Fajri Abdurofi, koordinator acara Kuliah Jam’iyyah.

Baca: Muhammadiyah: NKRI Anak Kandung Umat Islam

Atip yang juga merupakan Pakar Hukum Internasioal menegaskan bahwa Ummat Islam dan NKRI tidak mungkin dapat dipisahkan.

Doktor lulusan Monash University Australia ini mengatakan umat Islam dan NKRI seperti dua sisi mata uang. Jika hilang satu sisinya, maka tidak bisa disebut uang.

Dalam hal ini, Atip menyoroti momentum toleransi pasca penaklukan Konstantinopel. Ia mengambil contoh saat pemimpin Turki Utsmany, Muhammad al-Fatih membiarkan non-muslim menjalankan keyakinannya.

“Ketika Al-Fatih masuk ke Gereja Hagia Sopia, mereka (umat Kristiani) ketakutan, tapi ternyata al-Fatih mengatakan ‘hari ini adalah hari kasih sayang, silakan kalian beribadah sesuai keyakinan kalian’,” tandasnya.

Melalui fakta sejarah tersebut, Atip menjawab segala tuduhan intoleransi pada Ummat Islam di Indonesia.

“Yang bicara itu Sultan al-Fatih, seorang Muslim. Jadi, jangan mengajari ummat Islam toleransi yang absurd! Saya bersaksi tidak ada negara se-toleransi ummat islam Indonesia!” tegas Atip.

Baca: GNPF MUI: Umat Islam jangan Dimusuhi dan Bukan Ancaman

Atip menyebut bahwa yang turut serta alam perang melawan penjajahan adalah ummat Islam. Dengan demikian Ummat Islam tidak mungkin melawan republik yang didirikannya.

“Umat Islam terhadap negara ini adalah the true owner. Masak pemilik asli mau mencabik-cabik rumahnya sendiri!” lanjutnya.

Ormas Islam Pra-Kemerdekaan, lebih terang Atip menyebut seperti Syarikat Islam, Al-Irsyad, Muhammadiyah, Persis, NU, al-Washliyyah, PUI dan beberapa ormas Islam lain adalah pemegang saham terbesar kemerdekaan Indonesia.

“Pemegang saham terbesar republik, masak mau dibubarkan? tidak ada Indonesia tanpa umat Islam,” tambahnya.*/Ali Muhtadin

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Aksi 55, Wapres JK: Itu Kebebasan dalam Demokrasi

Aksi 55, Wapres JK: Itu Kebebasan dalam Demokrasi

IMS – DD Gelar Tabligh Akbar & Hapus Tato di LP Nusakambangan

IMS – DD Gelar Tabligh Akbar & Hapus Tato di LP Nusakambangan

Kemenkominfo: Uang Rakyat Indonesia Untuk RIM

Kemenkominfo: Uang Rakyat Indonesia Untuk RIM

Permainan Digital Dinilai Bikin Anak Anti Sosial

Permainan Digital Dinilai Bikin Anak Anti Sosial

Hamengku Buwono X: KUII Harus Bisa Bawa Aspirasi Umat

Hamengku Buwono X: KUII Harus Bisa Bawa Aspirasi Umat

Baca Juga

Berita Lainnya