Selasa, 7 Desember 2021 / 2 Jumadil Awwal 1443 H

Nasional

DPR Didorong Gunakan Hak Angket, Presiden Diingatkan Sumpah Jabatannya

muhammad abdus syakur/hidayatullah.com
Gedung MPR/DPR/DPD RI di Senayan, Jakarta.
Bagikan:

Hidayatullah.com– Sekjen Pusat Advokasi Hukum dan HAM (PAHAM) Indonesia, Rozaq Asyhari, mendorong DPR RI untuk menggunakan haknya atas pengaktifan kembali Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sebagai Gubernur DKI Jakarta yang dinilai melanggar konstitusi.

“DPR memiliki kewajiban untuk melaksanakan pengawasan, karenanya pada kasus ini dapat menggunakan Hak Angket yang dimilikinya sesuai dengan ketentuan Pasal 20A ayat (2) UUD 1945.

Jika Ahok Tak Diberhentikan Sementara, DPR Dapat Gunakan Hak Angket

Kenapa ini perlu dilakukan, karena ini persoalan serius dan berpotensi terjadi pelanggaran sumpah jabatan,” ujarnya dalam keterangan tertulisnya kepada hidayatullah.com di Jakarta, Selasa (14/02/2017).

Rozaq menyampaikan, mendorong angket adalah pilihan paling rasional, dibanding menggugat ke PTUN yang memerlukan waktu cukup lama. “Padahal jabatan yang tersisa tidak sepanjang itu,” jelasnya.

Pemerintah Disebut Sudah Berkali-kali ‘Mengulur’ Pemberhentian Sementara Ahok

Jokowi Diingatkan Sumpah Presiden

Kepada Presiden Joko Widodo, Rozaq mengingatkan agar tidak melanggar sumpah jabatan sebagai RI 1. Menurutnya, itu adalah sumpah keramat seorang Presiden karena bunyi sumpah tersebut diatur secara langsung dalam pasal 9 UUD 1945.

Lebih lanjut, Rozaq menegaskan, salah satu tugas Presiden adalah memberhentikan sementara setiap Kepala Daerah yang menjadi terdakwa, sebagaimana diatur dalam Pasal 83 ayat (3) UU No 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintah Daerah.

“Aturan undang-undang ini harus dilaksanakan, karena salah satu isi dari sumpah Presiden akan menjalankan undang-undang,” jelasnya.

Dinilai Langgar Konstitusi, DPR Ajukan Hak Angket Aktivasi Ahok

Ia menerangkan, pasal itu sudah jelas dan tidak ada persyaratan khusus mengenai pemberhentian sementara tersebut.

Artinya, kata dia, sejak perkara tersebut terdaftar di register Pengadilan Negeri seharusnya sudah dilakukan pemberhentian. Padahal pada kasus Ahok ini sudah sampai sidang yang kesepuluh.

“Tentunya kita tidak ingin masyarakat melihat seolah Presiden mengistimewakan satu orang, padahal ada lima kepala daerah lainnya yang juga dinonaktifkan ketika menjadi terdakwa,” imbuhnya.

Keluarga Alumni KAMMI Desak Presiden Berhentikan Ahok Sesuai Aturan

Rozaq menambahkan, pihaknya tidak sepakat dengan ide penerbitan peraturan perundang-undangan (perpu), karena dinilai hal itu hanya manuver yang memaksakan untuk menyelamatkan jabatan Ahok.

“Apa yang mau dicari dari perpu, tidak ada hal ihwal yang memaksa. Prasyarat untuk mengeluarkan perpu tidak terpenuhi. Jangan sampai publik melihat ada usaha luar biasa untuk melanggengkan kekuasaan Ahok,” tandasnya.*

Rep: Ibnu Sumari
Editor: Muhammad Abdus Syakur

Bagikan:

Berita Terkait

Menag Terkonfirmasi Positif Covid-19, Kondisinya Baik

Menag Terkonfirmasi Positif Covid-19, Kondisinya Baik

Elektabilitas Rendah, Politisi Golkar Sarankan Jokowi Lakukan Reshuffle

Elektabilitas Rendah, Politisi Golkar Sarankan Jokowi Lakukan Reshuffle

NU dan  Muhammadiyah Mulai Puasa Hari Ini

NU dan Muhammadiyah Mulai Puasa Hari Ini

Siang ini, Suara Islam akan Tanggapi Syafii Maarif

Siang ini, Suara Islam akan Tanggapi Syafii Maarif

[Berita Foto] “Jangan Ngaku Pancasila Kalau Jiwamu PKI”

[Berita Foto] “Jangan Ngaku Pancasila Kalau Jiwamu PKI”

Baca Juga

Berita Lainnya