Kamis, 25 Maret 2021 / 11 Sya'ban 1442 H

Nasional

Hoax Tumbuh Akibat Ketidakpercayaan Terhadap Pemerintah dan Pers

Diskusi bertema 'Menuju Media Sosial yang Memberdayakan, Mungkinkah?' di Habibie Center, Jakarta, Selasa (31/01/2017)
Bagikan:

Hidayatullah.com – Pengamat Sosial Media, Ferry Koto mengatakan, salah satu yang menjadi penyebab maraknya hoax adalah karena ketidakpercayaan terhadap pemerintah dan pers.

Ia mencontohkan, bagaimana ketika ramai isu TKI ilegal dari China, pemerintah tidak mengakui meskipun di beberapa daerah terungkap.

Termasuk, informasi yang disampaikan pemerintah antar lembaga semisal kementerian berbeda satu dengan yang lain.

“Maaf saja kadang apa yang dikatakan presiden berbeda dengan yang disampaikan menterinya,” ujarnya dalam diskusi bertema ‘Menuju Media Sosial yang Memberdayakan, Mungkinkah?‘ di Habibie Center, Jakarta, Selasa (31/01/2017).

Hoax Muncul Akibat Hilangnya Kredibelitas terhadap Media Mainstream

Pers juga tidak dipercaya. Sehingga, kata Ferry, masyarakat lebih percaya kepada meme ataupun media alternatif.

Contohnya, ketika hari raya Idul Fitri media mainstream justru menyudutkan umat Islam dengan fenomena sampah. Termasuk juga framing terhadap FPI misalnya.

Penggagas Gerakan Muslim Kuasai Media ini menambahkan, respon pemerintah juga dinilai tambah memperkeruh suasana dengan melakukan pemblokiran terhadap situs atau portal yang dianggap kerap mengkritik pemerintah.

“Itu tindakan yang salah karena justru menimbulkan perlawanan,” ungkapnya.

Padahal, terangnya, portal itu muncul karena ketidakpercayaan kepada informai yang diproduksi oleh pemerintah dan pers tadi.

Rocky Gerung Sebut Pembuat Berita Hoax Terbaik adalah Penguasa

Dan memblok satu situs, lanjutnya, dalam waktu singkat dapat dengan mudah membuat hingga 10 situs serupa dengan hanya merubah domain saja.

“Sesungguhnya tidak efektif,” jelasnya.

Adapun solusinya terhadap permasalahan tersebut, kata dia, perlunya meningkatkan kepercayaan pada informasi atau berita dari pemerintah. Menciptakan pers yang bertanggungjawab dan dapat dipercaya.

Termasuk peran dewan pers harus adil. Jangan sampai ketika media mainstream memprodukai hoax tapi tidak ada tindakan.

“Jadi bukan dibiarkan begitu saja. Kalau terus-menerus pers memberitakan berita bohong maka masyarakat akan terdidik untuk menyebarkan hoax,” tandasnya.

Ferry menambahkan, termasuk solusi yang perlu dilakukan adalah dengan mengedukasi masyarakat atau literasi media, melakukan konten naratif, dan gerakan masyarakat.*

Rep: Yahya G Nasrullah
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

600 UU Indonesia Masih Warisan Kolonial, di Belanda Sudah 17 Kali Diubah

600 UU Indonesia Masih Warisan Kolonial, di Belanda Sudah 17 Kali Diubah

Lahan Wakaf Muslim Disiapkan untuk Pemakaman Korban Covid-19

Lahan Wakaf Muslim Disiapkan untuk Pemakaman Korban Covid-19

Prabowo Tegaskan Tak Boleh Ada Lagi Kriminalisasi Ulama

Prabowo Tegaskan Tak Boleh Ada Lagi Kriminalisasi Ulama

Humas Mabes Polri: Persekusi UAS Ada Unsur Pemaksaan

Humas Mabes Polri: Persekusi UAS Ada Unsur Pemaksaan

Perbankan Islam Tak Diikuti Ekonomi Islam

Perbankan Islam Tak Diikuti Ekonomi Islam

Baca Juga

Berita Lainnya