Rabu, 24 Maret 2021 / 11 Sya'ban 1442 H

Nasional

Pengamat Hukum: Lantaran Seorang Ahok, Satu Negara Gaduh

muhammad abdus syakur/hidayatullah.com
Massa Aksi Bela Islam II di Jakarta mengusung poster "Ahok memecah belah NKRI", Jumat (04/11/2016).
Bagikan:

Hidayatullah.com– Pengamat hukum dan hak asasi manusia (HAM), Nasrulloh Nasution menilai, kehidupan berbangsa di Indonesia saat ini sedang mengalami krisis.

Hal ini diungkapkan Nasrulloh pada saat diskusi dengan beberapa lembaga advokasi di bilangan Tebet, Jakarta Selatan, baru-baru ini.

Krisis kebangsaan, kata Nasrulloh, dapat dilihat dari banyaknya perselisihan yang terjadi di antara anak bangsa.

“Satu sama lain saling lapor (polisi), saling hujat dan mempertontonkan kekuatan masing-masing,” ungkap Nasrulloh yang aktif dalam diskusi bertajuk ‘Arah Penegakan Hukum setelah kasus Penodaan Agama oleh Ahok’.

NKRI dan Kebinekaan Terancam Jika Keadilan Tidak Ditegakkan

Ia menilai, gaduh politik dan hukum yang terjadi saat ini, diawali oleh kasus penistaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok di Kepulauan Seribu (27/09/2016).

“Sejak kasus itu, masyarakat Indonesia terpecah, dan hukum dijadikan alat untuk memuaskan hasrat masing-masing kelompok,” ujar Koordinator Persidangan Tim Advokasi Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia ini, rilis GNPF MUI.

Polisi di satu pihak, lanjut Nasrulloh, dipaksa untuk memuaskan syahwat dari kelompok tertentu dengan menindaklanjuti laporan yang sudah dibuat oleh pihak terkait.

Tersangka penistaan agama, Ahok (berkacamata), usai diperiksa Bareskrim di Mabes Polri, Jakarta (22/11/2016).

Tersangka penistaan agama, Ahok (berkacamata), usai diperiksa Bareskrim di Mabes Polri, Jakarta (22/11/2016).

“Akibatnya kepolisian disibukkan dengan banyaknya laporan, dimana laporan tersebut kalau dihubungkan masih terkait dan ada hubungannya dengan perkara Ahok sebagai terdakwa penodaan agama,” jelas pengacara publik ini.

Jadi menurutnya, sudah pantas dan selayaknya Ahok dihukum berat.

“Hulu dari kegaduhan adalah lantaran satu orang, akibatnya satu negara gaduh. Hukum menjadi pedang tajam yang siap menghunus, khususnya yang dianggap sebagai lawan dari penguasa,” tandasnya.

Ahok Disebut Berpotensi Memecah Belah NKRI

Netizen Kampanyekan #GaduhKarenaAhok

Sementara itu, Selasa (24/01/2017) kemarin, sidang lanjutan ketujuh kasus Ahok digelar Pengadilan Negeri Jakarta Utara di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan.

‘Mengawal’ sidang itu, masyarakat pengguna internet (internet) ramai-ramai menyuarakan kampanye bahwa Ahok sebagai sumber kegaduhan di Indonesia saat ini.

Pantauan hidayatullah.com, tanda pagar (tagar) #GaduhKarenaAhok pun saat itu menjadi salah satu tema paling tren dibahas para pengguna media sosial Twitter (trending topic Indonesia/TTI).

Teriak ”Bebaskan Ahok!”, Pria Diduga Mabuk Provokasi Massa Sidang Penistaan Agama

“Heran, negara jadi #GaduhKarenaAhok tapi biang kegaduhannya gak diilangin,” kicau netizen dengan akun RAGE AGAINTS ‏@Mesin_Kemarahan, Rabu (25/01/2017) dinihari.

“Indonesia damai bila penista agama kalau segera dipenjara,” kicau #InfoKotaJakarta ‏@InfoKotaJakarta.

Sementara J. C. Nugroho lewat akunnya ‏@jcnugie menulis:

“Rakyat lelah #GaduhKarenaAhok. Maka segera #PenjarakanPenistaAgama.”

Anri ‏@AnriCyberArmy menulis:

“Berbagai elemen masyarakat jadi bergesekan karena ulah si penista agama #GaduhKarenaAhok.”

Zidane ‏@Triball88:

“Sudah akui mulutnya bikin gaduh tapi belum sadar juga, masih kekeh bela diri atas penistaan al-Qur’an #GaduhKarenaAhok #GaduhKarenaAhok.

Ahok Dinyatakan Hina Al-Qur’an, #BasukiKeok2017 Jadi Trending Topic

Kata Ahok

Pada pekan-pekan awal bergulirnya kasus Ahok, setelah didesak dan dikecam publik berbagai penjuru, Ahok sudah mengaku meminta maaf atas kegaduhan yang terjadi.

Namun, dalam beberapa kesempatan temu media, Ahok membantah jika ia bermaksud melakukan penistaan agama atas pernyataannya menyinggung al-Qur’an Surat Al-Maidah ayat 51 di Kepulauan Seribu, 27 September 2016 lalu.

“Kamu bisa lihat tindak tanduk saya, ada enggak mau musuhin Islam. Makanya saya minta maaf untuk kegaduhan ini,” ujar Ahok di Balai Kota, DKI Jakarta, Senin (10/10/2016) lalu kutip Cnnindonesia.com.

Setelah Didesak Publik, Ahok Mengaku Minta Maaf

“Kalau saya membuat negara ini gaduh dan jadi susah, saya bersedia ditangkap, dipenjara,” ujarnya kemudian di Jl Ki Mangun Sarkoro, Jakarta Pusat, Sabtu (05/11/2016), lansir Kompas.com.* HK, SKR

Rep: Admin Hidcom
Editor: Muhammad Abdus Syakur

Bagikan:

Berita Terkait

Syarikat Islam Terus Kembangkan Kualitas Pendidikan

Syarikat Islam Terus Kembangkan Kualitas Pendidikan

Satgas Covid: Tetap Produktif dengan Iman, Aman, dan Imun

Satgas Covid: Tetap Produktif dengan Iman, Aman, dan Imun

Panwaslu Beberkan Kronologi Penggerebekan Surat Suara Tercoblos di Malaysia

Panwaslu Beberkan Kronologi Penggerebekan Surat Suara Tercoblos di Malaysia

Sampai 2013 Kemenkominfo Blokir 1 Juta Lebih Situs Porno

Sampai 2013 Kemenkominfo Blokir 1 Juta Lebih Situs Porno

Ketua BWI: Pengelola Wakaf Harus Beradaptasi dan Berinovasi

Ketua BWI: Pengelola Wakaf Harus Beradaptasi dan Berinovasi

Baca Juga

Berita Lainnya