Kamis, 25 Maret 2021 / 11 Sya'ban 1442 H

Nasional

Din Syamsuddin: Ahok Merusak Kerukunan yang Sedang Dirajut Bangsa

muhammad abdus syakur/hidayatullah.com
Din Syamsuddin pada Muktamar Muhammadiyah 2015 di Universitas Muhammadiyah Makassar.
Bagikan:

Hidayatullah.com– Ketua Umum PP Muhammadiyah periode 2005-2015, Prof Din Syamsuddin mengatakan menolak Gubernur (non-aktif) Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok bukan karena Ahok seorang non-Muslim atau Tionghoa.

Bukan pula karena Din mendukung salah satu dari dua pasangan calon lain pada Pilkada DKI Jakarta 2017.

“Kerukunan antar agama dan antar suku/ras tengah kita rajut, tapi Ahok merusaknya,” ujar Din soal alasannya menolak Ahok sebagaimana keterangan tertulis diterima wartawan di Jakarta, Ahad (13/11/2016) malam.

Din mengaku, dirinya menolak Ahok adalah karena hati nuraninya meyakinkan bahwa Ahok bukan pemimpin yang cocok bagi masyarakat Jakarta, apalagi Indonesia.

Din Syamsuddin-Amien Rais Batal Hadiri ILC Dikabarkan karena Ada Syafii Maarif

Sangat Patut Diduga Korupsi

Menurutnya, kiprah Ahok selama memimpin DKI Jakarta tidak sepi dari kelemahan-kelemahan mendasar. Seperti sangat patut diduga melakukan korupsi dalam kasus RS Sumber Waras dan Reklamasi Pulau-pulau di Teluk Jakarta.

“Reklamasi Teluk Jakarta untuk siapa?” ujarnya mempertanyakan.

Pada kasus-kasus itu, kata Din, KPK seolah tidak berdaya menyeret Ahok sebagaimana KPK menyeret para tersangka yang diduga menerima suap dalam jumlah kecil sekalipun.

Sumber Waras, Reklamasi dan Dinasti Ahok

“Sepertinya ada kekuatan besar yang membelanya (Ahok. Red), dan pihak pemangku amanat dan penentu kebijakan seperti tidak berdaya bekerja dengan hati nurani,” jelas Din.

Ia menambahkan, rasionya menyimpulkan bahwa Ahok bukanlah pemimpin mumpuni, apalagi bekerja untuk rakyat kecil. Melainkan lebih bekerja untuk para pengusaha besar.

“Prestasinya memimpin Jakarta selama ini, lebih karena opini yang dibangun media-media pendukungnya yang tidak menampilkan keburukan-keburukannya,” ungkap Ketua Dewan Pertimbangan MUI ini.

Kepemimpinan Ahok Dinilai tidak Sesuai dengan Amanat Bangsa

Ia mengungkapkan, apa yang dianggap sebagai keberhasilan Ahok sesungguhnya sudah dimulai sejak masa Gubernur Joko Widodo, bahkan Gubernur Fauzi Bowo dan Sutiyoso.

Dinilai Berambisi Kekuasaan

Din juga menyoroti debut Ahok yang dianggap loncat-loncat dari partai yang satu ke partai lain. Dimana, kata dia, itu menunjukkan ambisi kekuasaan Ahok yang sangat oportunistik.

Menurutnya, melupakan partai atau orang yang berjasa mendukungnya juga merupakan perilaku tidak etis dari seorang  pemimpin.

“Bagi saya, Ahok adalah problem maker (pembuat masalah. Red), bukan problem solver (pemecah masalah. Red),” tandasnya.

Din mengatakan, kini takdir Allah yang memelesetkan Ahok dengan ujaran kebencian di Kepulauan Seribu (27/09/2016). Ujaran itu kemudian mendorong reaksi besar yang merupakan tanda bahwa kekuasaan dan keadilan Ilahi sedang menempuh jalannya.

Ahok Dikecam Bilang “Jangan Percaya Dibohongi Pakai Surat Al-Maidah”

“Kepada kaum beriman dan umat beragama jangan abaikan itu. Kita semua harus bersama-sama tergerak untuk menyelamatkan bangsa ini dari ketersanderaan dan perpecahan,” pungkas Din berpesan.

Dalam pesan-pesannya tersebut, tidak dijelaskan Din menolak Ahok untuk atau sebagai apa.*

Rep: Yahya G Nasrullah
Editor: Muhammad Abdus Syakur

Bagikan:

Berita Terkait

Gerakan Peduli Sehat IMS yang terus Bergeliat

Gerakan Peduli Sehat IMS yang terus Bergeliat

Wapres Akan Buka Kegiatan Ijtima Ulama

Wapres Akan Buka Kegiatan Ijtima Ulama

Jangan Sampai Komoditas Andalan Indonesia Dikriminalisasi

Jangan Sampai Komoditas Andalan Indonesia Dikriminalisasi

MUI Tegaskan, Pemerintah Perlu Ciptakan Ekonomi Berkeadilan

MUI Tegaskan, Pemerintah Perlu Ciptakan Ekonomi Berkeadilan

Lulusan Pesantren Bisa Unggul di Bidang Sains Jika Diberi Kesempatan

Lulusan Pesantren Bisa Unggul di Bidang Sains Jika Diberi Kesempatan

Baca Juga

Berita Lainnya