Selasa, 23 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Nasional

Tindakan Presiden Jokowi Tinggalkan Aksi Damai 411 karena Informasi Intelijen yang Menyesatkan

Bagikan:

Hidayatullah.com—Aksi Presiden Joko Widodo yang meninggalkan peserta Aksi Damai Bela Quran (Aksi Damai 411) ke Bandara Cengkareng, dinilai berdasar masukan intelijen yang salah.

Presiden Jokowi diberi masukan, aksi 411 ini hanya diikuti oleh kelompok radikal, dan maksimal dihadiri 18 ribu orang saja. Ternyata informasi dari Intelijen  keliru, sebab peserta aksi 411 justru mencapai jutaan orang dan dari lintas elemen umat Islam.

Menanggapi hal ini, pengamat intelijen Jaka Setiawan mengatakan, dalam Aksi Damai 411 Presiden Jokowi justru menjadikan intelijen sebagai kambing hitam.

“Intelijen dalam aksi 411 justru dijadikan kambing hitam atau bamper untuk menutupi kebijakannya yang salah total dalam menyikapi 411,” kata Jaka saat dihubungi hidayatullah.com Rabu (09/11/2016).

Menurut Jaka, justru yang digunakan Jokowi untuk menilai aksi 411 adalah media çrawl dan buzzer analisis dari sosial media.

“Wajar kalau kebijakannya amburadul khususnya dalam masalah keamanan dan politik,” tegas Jaka yang juga Direktur Pengkajian Kebijakan Strategis Pusat Hak Asasi Muslim Indonesia (PUSHAMI) ini.

Padahal, lanjut Jaka, Jokowi beberapa waktu yang lalu baru mengangkat staf presiden bidang intelijen.

“Ini perlu di evaluasi,” ujar alumni S2 Kajian Intelijen Strategik UI ini.

Sebagaimana diketahui, pasca Aksi Damai Bela Quran yang dihadiri lebih satu juta orang,  Presiden Joko Widodo sempat menyoal data intelijen terkait data peserta Aksi Damai Bela Islam Jumat 4 November 2016.

“Perkiraan kalkulasi (jumlah demonstran) harus didetailkan lagi,” tegas Presiden Jokowi di gedung Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (08/11/2016).

Sebagaimana diketahui, sebelum ini pada kesempatakan acara di Gedung Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (08/11/2016).

Didatangi Ratusan Ribu Peserta Aksi Bela Al-Quran, Jokowi Resmikan Acara Lain

Presiden Jokowi mengatakan, sebelum demo, dirinya mendapat informasi jumlah peserta hanya sekitar 18 ribu orang. Namun fakta di lapangan jumlahnya justru di atas satu juta sementara jumlah aparat yang dikerahkan hanya 16 ribu.

Sementara itu, tindakan presiden yang memilih mengindar dari umat Islam dalam Aksi Damai 411 dimungkinkan karena informasi sepihak, yang boleh jadi dari intelijen yang tidak netral, dalam hal ini, jelas-jelas kontra ideologi pada peserta aksi damai.

Intelijen estimate itu harus netral dan objektif, jika pun berpihak maka harus berpihak kepada National Interest. 2 point ini klo terjadi berbahaya untuk negara,” tutupnya mengimbau.

Menurut Jaka, memang benar Jokowi mendapat informasi dari intelijen, tetapi informasi itu keliru. Ada 2 kemungkinan. Pertama, Intelijen  yang memberikan informasi; awam. Kedua, Intelijen  yang memberi info punya kontra ideologi dengan Gerakan Aksi Damai 411.*

Rep: Achmad Fazeri
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Gubernur Jatim: 23 Lokalisasi segera Susul Dolly

Gubernur Jatim: 23 Lokalisasi segera Susul Dolly

“Blunder Twit Porno Kemlu RI akan Termaafkan, Jika Men-twit Putus dengan Vanuatu”

“Blunder Twit Porno Kemlu RI akan Termaafkan, Jika Men-twit Putus dengan Vanuatu”

Rektor ITS: Kami tak Ingin ke ITS Karena Gelar, Tapi Karena Ridho Allah

Rektor ITS: Kami tak Ingin ke ITS Karena Gelar, Tapi Karena Ridho Allah

Dapat Surat Peringatan, Kebaktian Pindah ke Aula Kecamatan

Dapat Surat Peringatan, Kebaktian Pindah ke Aula Kecamatan

Mendikbud: Guru Jangan “Copy Paste”

Mendikbud: Guru Jangan “Copy Paste”

Baca Juga

Berita Lainnya