Selasa, 6 Juli 2021 / 27 Zulqa'dah 1442 H

Nasional

Arswendo Mengaku tak Sengaja Menista Agama, tapi Dihukum 4 Tahun Penjara

ISTIMEWA
Arswendo (kiri) dan Ahok.
Bagikan:

Hidayatullah.com– Berdasarkan yurisprudensi, kasus video Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok di Kepulauan Seribu dinilai sudah dapat disebut sebagai tindakan penistaan agama.

Dalam ilmu hukum, yurisprudensi adalah keputusan-keputusan dari hakim terdahulu untuk menghadapi suatu perkara yang tidak diatur di dalam UU.

Dan keputusan-keputusan itu dijadikan sebagai pedoman bagi para hakim yang lain untuk menyelesaian suatu perkara yang sama.

Sejarah Pasal Penodaan Agama ini Patahkan Argumen ‘Tak Ada Niat Menista’

Menurut ahli hukum pidana, Teuku Nasrullah, sudah ada putusan hakim terdahulu terkait penistaan agama. Meskipun pelakunya meminta maaf atau berkilah tidak memiliki maksud atau sengaja menista agama.

Hal itu disampaikannya dalam ‘Diskusi Publik: Kasus Ahok Nista Islam dalam Perspektif Hukum Pidana’ di Rumah Amanah Rakyat, Menteng, Jakarta, Kamis (10/11/2016).

Kasus Arswendo

Nasrullah memberi contoh kasus Arswendo Atmowiloto pada tahun 1990. Saat itu, Arswendo membuat polling di Tabloid Monitor, siapa tokoh idola menurut para pembacanya.

Menurut hasil polling yang dirilis tabloid itu, nama Presiden Soeharto berada di urutan pertama. Disusul kemudian dengan nama BJ Habibie, Soekarno, lalu musisi Iwan Fals.

Nama Arswendo masuk ke dalam urutan ke-10, sementara Nabi Muhammad Shallallahu’Alaihi Wasallam berada pada urutan ke-11.

Jika Ahok tidak Dihukum, Orang akan Bebas Menghina Agama

“Kemudian, saat itu muncul kemarahan dari umat Islam. Mereka melaporkan Arswendo atas tuduhan menghina Nabi Muhammad,” kata dosen Universitas Indonesia ini.

Ketika itu, Arswendo berkilah tidak punya maksud atau sengaja menghina Nabi Muhammad Shallallahu’Alaihi Wasallam. Tapi dia tetap dijatuhi hukuman 4 tahun penjara.

“Kesengajaan di sini (dalam pasal penistaan agama. Red) bukan kesengajaan dalam maksud. Tapi kesengajaan yang dapat diduga mengetahui bahwa perbuatannya menista agama dan mengganggu ketertiban umum,” lanjut Nasrullah.

Dari Harian Djawi Hiswara, PKI Hingga Tabloid Monitor [5]

Arswendo dihukum karena patut mengetahui perbuatannya mengganggu ketertiban umum.

“Sebab, pasal 156 ada di bawah Bab Ketertiban Umum. Penistaan agama tidak di bawah pasal agama tapi di bawah Bab Ketertiban Umum. Ini tentang ketertiban umum. Setiap orang harus menjaga ketertiban umum,” ujarnya.

Pria kelahiran Aceh ini melanjutkan, kalau seseorang sudah bersekolah dan bisa berpikir, sepatutnya tahu perbuatannya bisa mengganggu ketertiban umum atau tidak.* Fajar Shadiq

Rep: Admin Hidcom
Editor: Muhammad Abdus Syakur

Bagikan:

Berita Terkait

281 Orang Meninggal, 1.016 luka-luka, 11.687 Mengungsi

281 Orang Meninggal, 1.016 luka-luka, 11.687 Mengungsi

BMH Luwuk-Banggai Gelar Sekolah Ramadhan Sebulan Penuh

BMH Luwuk-Banggai Gelar Sekolah Ramadhan Sebulan Penuh

Kasus Ulama Ditusuk, Din: Polisi Jangan Mudah Percaya Dengan Alasan Orang Tua Tersangka

Kasus Ulama Ditusuk, Din: Polisi Jangan Mudah Percaya Dengan Alasan Orang Tua Tersangka

Agrokultural Markaz Syariah Habib Rizieq, Ramadhan

Pesan Habib Rizieq di Ramadhan, Revolusi Akhlak dengan Cara Berakhlak

Kembangkan Dugaan Makar, Polri akan Periksa Panji Gumilang

Kembangkan Dugaan Makar, Polri akan Periksa Panji Gumilang

Baca Juga

Berita Lainnya