Kamis, 25 Maret 2021 / 11 Sya'ban 1442 H

Nasional

Anggota DPR Minta Pemerintah Tegas Soal Data Center

Bagikan:

Hidayatullah.com–Anggota Komisi I DPR RI Sukamta meminta Pemerintah mengurungkan niat  memberi kelonggaran aturan terkait penempatan data center, merujuk pada peraturan pemerintah (PP) nomor 82 tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik.

“Pemerintah mestinya punya sikap yang lebih tegas dalam upaya menguatkan industri telematika di Indonesia,” ujar Sukamta Kamis kemarin.

Sukamta  memberikan beberapa alasan; pertama, pasar data center di Indonesia sangat kompetitif dan saat ini cukup banyak tersedia SDM anak negeri yang profesional dan lebih murah ketimbang negara tetangga.

Selain itu dengan mengadakan data center di Indonesia, perusahaan digital dapat lebih meningkatkan layanan mereka dari segi kecepatan dan kestabilan akses karena dapat mengurangi hops route.

“Itu sebabnya sebagaian perusahaan data center di Singapura mulai mengalihkan data centernya ke Indonesia selain dengan pertimbangan ekonomis juga dianggap aman.”

Kedua, menurut Sukamta terkait keuntungan secara ekonomi. Penempatan data center di Indonesia akan memberikan kontribusi ekonomi.

Mengacu data Lembaga Riset Telematika Sharing Vision, kebutuhan data center di Indonesia diperkirakan mendekati 150.000 meter persegi (raised floor) dengan nilai bisnis Rp 4 triliun.

Pengguna internet di Indonesia hingga tahun 2015 mencapai 72 juta orang yang sebagian besar aktif menggunakan media sosial. Perlu penerapan dan penegakan aturan dan hukum yang ketat, sehingga Google, Facebook, WhatsApp, Yahoo, YouTube, dll dapat berkontribusi secara ekonomi, karena jelas mereka membuka space iklan.

“Bandingkan dengan saat kita mengirim SMS dengan operator tanah air saja kena PPN yang masuk ke kas negara.”

Ketiga terkait dengan cyber security, keamanan informasi, dan monitoring konten. Apabila data center ada di luar negeri maka berpeluang lebih besar data milik kita bisa dicuplik kapan dan dimanapun. Peraturan Pemerintah No 82 Tahun 2012 mengenai Transaksi Elektronik pasal 17 Ayat 2  menyebutkan Penyelenggara Sistem Elektronik untuk pelayanan publik wajib menempatkan pusat data dan pusat pemulihan bencana di wilayah Indonesia untuk kepentingan penegakan hukum, perlindungan, dan penegakan kedaulatan negara terhadap data warga negaranya.

Di tahun 2015 Pengadilan di Eropa  memutuskan perjanjian Safe Harbor tak berlaku sehingga pemain seperti  Facebook atau Twitter harus menjaga data pelanggan di Eropa tak disalahgunakan dan keluar dari negaranya tanpa izin.

“Saya kira penting pak Menteri menyampaikan data perusahaan asing yang belum memiliki data center di Indonesia dan apa kendalanya, apakah karena biaya mahal atau birokrasi perijinan yang ribet.”

Sukamta meyakini, dengan pengguna internet yang tumbuh pesat di Indonesia, perusahaan asing tidak akan keberatan memiliki data center di Indonesia.

Sebelum ini, Menteri Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Rudiantara mengatakan pihaknya masih membahas dengan perbankan terkait penempatan data center  di Indonesia.

Menurut dia, perbankan terutama perbankan asing harus menempatkan data center  di Indonesia untuk meningkatkan competitiveness.

Dia mengatakan, penempatan data center di Indonesia bisa meningkatkan daya saing Indonesia di dunia internasional, serta meningkatkan efisiensi dari proses bisnis dalam negeri.*

Rep: Ahmad
Editor: Muhammad Abdus Syakur

Bagikan:

Berita Terkait

Kritik Keras Burqa

Isu Larangan Cadar dan Celana Cingkrang Dinilai Blunder bagi Jokowi-Ma’ruf

FPI: Ada Upaya Penembakan Rombongan HRS, 6 Orang Laskar Hilang Diculik

FPI: Ada Upaya Penembakan Rombongan HRS, 6 Orang Laskar Hilang Diculik

KH. Sanusi Anwar: Tak Ada Kalimat Habib Rizieq yang Rendahkan Budaya Jawa Barat

KH. Sanusi Anwar: Tak Ada Kalimat Habib Rizieq yang Rendahkan Budaya Jawa Barat

MUI Adakan Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia ke-4

MUI Adakan Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia ke-4

Menteri Kabinet Jokowi Harus Berkompeten

Menteri Kabinet Jokowi Harus Berkompeten

Baca Juga

Berita Lainnya