Sabtu, 23 Januari 2021 / 9 Jumadil Akhir 1442 H

Nasional

Indonesia Diajak Hijrah dari Demokrasi Liberal Menjadi Syuro

SII
Silaturahim dan Puncak Peringatan 100 Tahun Zelfbestuur National Congres Central Sarekat Islam di Bandung (14/08/2016).
Bagikan:

Hidayatullah.com– Di usia 71 tahun kemerdekaannya, Indonesia dinilai oleh Syarikat Islam Indonesia (SII) masih tertindas. Rakyat pun perlu mencari jalan keluar dari situasi tersebut.

SII, melalui acara Silaturahim dan Puncak Peringatan 100 Tahun Zelfbestuur National Congres Central Sarekat Islam, menawarkan jalan keluar. Yaitu, sesuai tema acara tersebut, “Hijrah Untuk Negeri”.

“Hijrah yang dimaksud adalah hijrah dari demokrasi liberal menjadi syuro. Sebab demokrasi liberal meluluhlantakkan suara umat Islam untuk menentukan pemimpin yang amanah,” ujar Muflich Chalif Ibrahim, Presiden LT SII, belum lama ini.

Acara tersebut berlangsung di GOR C-Tra, Kota Bandung, Jawa Barat. Diikuti ribuan kader dan simpatisan SII se-Indonesia, Ahad, 11 Dzulqa’dah 1437 H (14/08/2016) lalu.

Hijrah kedua, jelas Muflich, adalah hijrah ekonomi, dimana umat Islam menjadi mayoritas pemimpin gerakan ekonomi yang berbasis kerakyatan.

“Yang ketiga adalah yang terpenting, yaitu hijrah kebudayaan dengan pendidikan berlandaskan tauhid sebagai kata kunci,” tegas Muflich melalui siaran persnya hidayatullah.com. [Baca juga: SII: 71 Tahun Merdeka, Indonesia Masih Tertindas]

100 Tahun Zelfbestuur

Dijelaskan, acara tersebut dalam rangka memperingati 100 Tahun Zelfbestuur. Acara ini dihadiri beberapa tokoh nasional seperti Ketua DPR RI Ade Komarudin, sejarawan Dr Aji Dedi Mulawarman, dan para tokoh masyarakat.

SII mengungkap sejarah Zelfbestuur. Pada tanggal 18 Juni 1916, di hadapan puluhan ribu peserta Rapat Akbar (Vergadering) yang memadati lapangan alun-alun Kota Bandung, Haji Omar Said (HOS) Tjokroaminoto mengumandangkan “Zelfbestuur (pemerintahan sendiri)”.

Hari itu merupakan acara hari kedua dari perhelatan akbar, agenda Voordracht dari HOS Tjokroaminoto, Voorsitter, Ketua CSI, Sang Raja Tanpa Mahkota, atau oleh Belanda disebut “De Ongekroonde Koning van Java” (Raja Jawa yang Tak Dinobatkan).

Perhelatan itu rangkaian dari 8 hari Kongres Nasional Pertama Central Sarekat Islam atau disebut 1e Nationaal Congres Centraal Sarekat Islam, 17-24 Juni 1916.

HOS Tjokroaminoto, salah satu tokoh nasional muda saat itu yang berani mengumandangkan kata magis “Kebangsaan (Natie)” dan “Zelfbestuur (pemerintahan sendiri)”, sebagai kata lain dari Kemerdekaan Nasional, pertama kali di hadapan publik.*

Rep: SKR
Editor: Muhammad Abdus Syakur

Bagikan:

Berita Terkait

Kader Parpol Jadi Penegak Hukum dinilai Sangat Mengkhawatirkan

Kader Parpol Jadi Penegak Hukum dinilai Sangat Mengkhawatirkan

Terkait Dugaan Penghinaan, Polda Metro Mulai Sidik The Jakarta Post

Terkait Dugaan Penghinaan, Polda Metro Mulai Sidik The Jakarta Post

Tawuran Antar Warga, Pemprov DKI Harus Serius Lakukan Pembinaan

Tawuran Antar Warga, Pemprov DKI Harus Serius Lakukan Pembinaan

AFKN Wisuda 61 Santri Papua Lulusan Perguruan Tinggi

AFKN Wisuda 61 Santri Papua Lulusan Perguruan Tinggi

Kamis Ini  Matahari Melintas Atas Ka’bah, Muslimin Diminta  Sesuaikan Arah Kiblat

Kamis Ini Matahari Melintas Atas Ka’bah, Muslimin Diminta Sesuaikan Arah Kiblat

Baca Juga

Berita Lainnya