Selasa, 26 Oktober 2021 / 19 Rabiul Awwal 1443 H

Nasional

SII: 71 Tahun Merdeka, Indonesia Masih Tertindas

SII
Silaturahim dan Puncak Peringatan 100 Tahun Zelfbestuur National Congres Central Sarekat Islam di Bandung (14/08/2016).
Bagikan:

Hidayatullah.com– Bertahun-tahun yang lalu bangsa Indonesia telah ditindas dengan ketidakadilan, kemiskinan, perbudakan, dan pembodohan. Itulah yang dirasakan oleh rakyat dulu.

Saat ini pun, setelah 71 tahun Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, masih terjadi penindasan serupa dalam konteks kekinian. Demikian pernyataan Syarikat Islam Indonesia (SII) kepada hidayatullah.com dalam siaran persnya, baru-baru ini.

Ahad lalu, 11 Dzulqa’dah 1437 H (14/08/2016), SII menggelar acara Silaturahim dan Puncak Peringatan 100 Tahun Zelfbestuur National Congres Central Sarekat Islam.

Ribuan kader dan simpatisan SII se-Indonesia memadati GOR C-Tra, Kota Bandung, Jawa Barat, mengikuti acara yang bertemakan “Hijrah Untuk Negeri” ini.

Ada beberapa makna hijrah dimaksud. “(Di antaranya), hijrah dari demokrasi liberal menjadi syuro,” ujar Presiden LT SII Muflich Chalif Ibrahim. [Baca juga: Doa yang Menghebohkan: Jauhkanlah Indonesia dari Pemimpin Khianat!]

Kerisauan SII

Menurut SII, kondisi perpolitikan bangsa saat ini sedang rancau. Terlihat dari para politikus berjubah kekuasaan yang tampak rakus, menguras uang rakyat pribumi.

Terlihat sekarang, ungkap SII, berbagai monopoli di negeri ini dipegang bukan oleh kekuatan bangsa Indonesia. Tetapi dipegang dan dikuasai oleh bangsa asing dan keturunan asing.

Sehingga, menurutnya, pribumi Indonesia yang merupakan setidaknya 90 persen penduduk Indonesia, dalam keadaan terjajah ekonominya.

Sementara kongkalikong, ungkapnya, menjadi ritual ketika sang penguasa memakai pakaian kekuasaan serta memperlihatkan kecongkakan dan kesombongannya.

Lebih parah lagi, dalam pandangan SII, kondisi sosial bangsa saat ini mengalami degradasi moral. Terbukti, begitu maraknya kasus pelecehan seksual, pembunuhan, pemerkosaan, perjudian, penyalahgunaan narkoba, dan sebagainya.

Proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 oleh Ir Soekarno, diyakini SII sebagai cikal-bakal dari buah perjuangan mendirikan zelfbestuur. Sebuah amanah yang diterimanya dari guru sekaligus mertuanya, HOS Tjokroaminoto.

Dalam kondisi kekinian, 17 Agustus sering diproklamirkan sebagai perayaan tahunan. Tetapi tidak menjadi perjuangan yang baru, hanya bak perayaan semata (simbolis), demikian kerisauan SII. [Baca juga: Ini Salinan Lengkap Doa Menghebohkan di Sidang Paripurna MPR [1]]*

Rep: SKR
Editor: Muhammad Abdus Syakur

Bagikan:

Berita Terkait

Kekuatan Figur Ayah dan Ibu dalam Membentuk Kepribadian Anak

Kekuatan Figur Ayah dan Ibu dalam Membentuk Kepribadian Anak

Komisioner KPI Berjanji Tindak Lanjuti Laporan Tayangan “Jodha Akbar”

Komisioner KPI Berjanji Tindak Lanjuti Laporan Tayangan “Jodha Akbar”

‘THM Bandel di Jakarta Tinggal Menunggu Waktu Saja’

‘THM Bandel di Jakarta Tinggal Menunggu Waktu Saja’

Cegah Pemurtadan, MER-C Lakukan Rekonstruksi Sumbar

Cegah Pemurtadan, MER-C Lakukan Rekonstruksi Sumbar

PB Al Washliyah Minta Pemerintah Tegas Soal Ahmadiyah

PB Al Washliyah Minta Pemerintah Tegas Soal Ahmadiyah

Baca Juga

Berita Lainnya