Jum'at, 26 Maret 2021 / 12 Sya'ban 1442 H

Nasional

Majalah Horison Berhenti Dicetak, Taufiq Ismail: Versi ‘Online’ Lebih Baik

medanbagus.com
Sastrawan Taufiq Ismail
Bagikan:

Hidayatullah.com– Majalah Horison berhenti menerbitkan versi cetaknya dan akan fokus ke versi berbasis jaringan (online).

“Penyebabnya adalah ongkos penerbitan yang tinggi dan jumlah langganan yang terbatas,” ujar Taufiq Ismail saat dikonfirmasi hidayatullah.com melalui pesan singkat, Rabu, 22 Syawal 1437 H (27/07/2016).

Taufiq Ismail, salah satu pendiri majalah sastra tersebut, mengakui jika versi online lebih baik.

“Dengan online lebih murah dan jumlah pembaca besar sekali. Hal ini berlangsung di seluruh dunia masa kini,” jelas budayawan Muslim ini.

Taufiq menjelaskan, Horison Online sudah dimulai 6 tahun yang lalu.

“Kami akan membuatnya lebih menarik untuk pembaca,” ungkapnya berjanji.

Disinggung soal persaingan bisnis dengan media-media sastra lain, Taufiq mengatakan, “Horison tidak menganggap mereka pesaing, tapi partner dalam memajukan sastra.”

Sudah 50 Tahun

Seperti diketahui, peralihan fokus kinerja redaksi Horison disampaikan Taufiq dalam peringatan 50 tahun Horison di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Selasa (26/07/2016).

Saat ini, pemimpin redaksi Horison Online dijabat oleh Sastri Sunarti, seorang penyair yang juga pegawai negeri sipil di Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Dalam sambutannya pada acara di TIM tersebut, Taufiq Ismail berterima kasih atas bantuan semua pihak kepada Horison selama ini, terutama pecinta kesusastraan Indonesia.

Majalah sastra Horison terbit perdana Juli 1966 dengan para pendiri antara lain sastrawan Mochtar Lubis, pelukis Zaini, tokoh pers PK Ojong, cendekiawan Arief Budiman, dan Taufiq Ismail.

Dinilai Sudah Tepat

Sementara itu, menurut budayawan Emha Ainun Nadjib, hijrahnya majalah sastra itu merupakan langkah tepat.

Karena, kata dia, akan fokus menyasar generasi millenial yang dekat dengan teknologi informasi dan menjadi pelaku utama kegiatan online.

“Generasi millenial mendominasi perilaku kebudayaan di Indonesia. Mereka juga memiliki kecenderungan produktif terhadap sastra, terutama dalam hal kebebasan berpikir dan kebebasan rohaniah,” ujarnya.*

Rep: SKR
Editor: Muhammad Abdus Syakur

Bagikan:

Berita Terkait

Jateng Krisis Energi, Jatim Surplus Energi

Jateng Krisis Energi, Jatim Surplus Energi

MUI Tolak Program Dai Bersertifikat karena Berpotensi Jadi Alat Kontrol Kehidupan Keagamaan

MUI Tolak Program Dai Bersertifikat karena Berpotensi Jadi Alat Kontrol Kehidupan Keagamaan

Ledia Hanifah: Materi Khutbah Tak Perlu Diatur, Cukup Beberapa Petunjuk

Ledia Hanifah: Materi Khutbah Tak Perlu Diatur, Cukup Beberapa Petunjuk

Ketua KPK: Ada Tekanan Kuat saat Menangani Kasus Besar

Ketua KPK: Ada Tekanan Kuat saat Menangani Kasus Besar

Di Sidang MK, Caleg PBB Ungkap Pelatihan Saksi TKN Ajarkan Kecurangan

Di Sidang MK, Caleg PBB Ungkap Pelatihan Saksi TKN Ajarkan Kecurangan

Baca Juga

Berita Lainnya