Selasa, 23 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Nasional

Penelitian Ini Runtuhkan Teori Gay-gene, Homoseksual Bukan Genetik

ISTIMEWA
Novi Andayani Praptiningsih
Bagikan:

Hidayatullah.com – Seorang homoseksual bisa sembuh dengan berbagai terapi yang tepat, salah satunya melalui pendekatan komunikasi. Hal itu, juga dikarenakan perilaku homo bukan bersifat genetik.

Kesimpulan tersebut diungkapkan Novi Andayani Praptiningsih dalam disertasinya yang berjudul Etnografi Komunikasi Komunitas Gay “Coming Out” yang dipertahankannya beberapa waktu lalu dalam sidang promosi doktor di Program Doktor Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, Bandung.

Dalam penelitian di salah satu kelompok LGBT terkenal di Jakarta itu, ia membahas tentang pola dan aktivitas komunikasi seperti stigma, bullying, diskriminasi, gayphobia, heterophobia, kelompok organisasi baik yang pro maupun kontra, peran seksual, dan sebagainya.

“Ternyata sebagian dari para informan tidak yakin dengan gay-gene (homoseksual bawaan lahir) dan merasa bahwa dia juga ingin menikah,” ujar Novi saat dihubungi hidayatullah.com, Kamis malam (26/05/2016).

Dosen Fisip UHAMKA Jakarta ini menjelaskan, kebanyakan alasan seseorang menjadi homo karena mereka sudah nyaman, merasa terperangkap dan berfikir bahwa hal itu sudah given (kodrat).

“Sehingga mereka merasa tidak memiliki kuasa untuk menolak,” ungkapnya.

Dalam disertasi setebal 780 halaman itu, Novi memaparkan, terdapat 3 faktor besar yang membuat seseorang menjadi homoseksual.

Pertama, katanya, adalah faktor keluarga. Yang menyangkut pola asuh, orang tua yang galak, membedakan perlakuan, overprotektif, membiarkan bermain dengan permainan lawan jenis, dan sebagainya.

“Kedua, trauma psikologis. Seperti pernah dibully, disodomi, atau pelecehan seksual oleh keluarga dekat,” tukasnya.

“Terakhir faktor lingkungan pergaulan, dan ini faktor yang paling besar dan paling banyak dijumpai. Dan biasanya kalau diusir justru larinya ke komunitas, lingkungan yang justru menguatkan kekeliruan pemahamannya tentang homoseksual,” tambah Novi.

Masih dalam penelitiannya, ia menjelaskan, terapi dengan komunikasi persuasif lebih efektif dalam menyembuhkan perilaku homoseksual.

“Ada beberapa yang sudah melakukan terapi gagal semua, tapi ketika dengan persuasif dan pendekatan agama serta menciptakan trust dengan keluarga akhirnya bisa berhasil,” ungkapnya.

Sehingga berdasarkan kajian tersebut, Novi menegaskan, bahwa homoseksual bukan merupakan bawaan sejak lahir. Dan bisa terbentuk maupun berubah tergantung bagaimana pola komunikasi yang dibangun.

Untuk diketahui, Etnografi sendiri merupakan bagian dari penelitian kualitatif yang membahas tentang pola dan aktivitas komunikasi secara komperhensif. Bukan penelitian yang sebentar atau fenomenologi.*

Rep: Yahya G Nasrullah
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Mudah Belajar al-Quran dengan “Metode Hanifida”

Mudah Belajar al-Quran dengan “Metode Hanifida”

UIN Maliki Berupaya Jadi Kampus Kelas Dunia

UIN Maliki Berupaya Jadi Kampus Kelas Dunia

Bagaimana Mau ke Indonesia jika Tak Ada Kerjaan?

Bagaimana Mau ke Indonesia jika Tak Ada Kerjaan?

Sidang Itsbat Tetapkan 1 Ramadhan Sabtu Besok, Masjid-masjid Mulai Gelar Tarawih

Sidang Itsbat Tetapkan 1 Ramadhan Sabtu Besok, Masjid-masjid Mulai Gelar Tarawih

Saksi Bantah Sembako untuk “Merayu” Warga Dukung Bangun Gereja

Saksi Bantah Sembako untuk “Merayu” Warga Dukung Bangun Gereja

Baca Juga

Berita Lainnya