Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Nasional

Hasil Autopsi Siyono Menunjukkan Perbedaan dengan Keterangan Kepolisian

hidayatullah.com/M Rifa'i Fadhli
Komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Siane Indriyani
Bagikan:

Hidayatullah.com – Komnas HAM dan Muhammadiyah telah mengumumkan hasil autopsi jasad Siyono berdasarkan uji laboratorium forensik. Dari fakta ilmiah tersebut, ditemukan beberapa perbedaan penyebab kematian Siyono yang disampaikan oleh pihak kepolisian.

Komisioner Komnas HAM, Siane Indriani menjelaskan, setidaknya ada empat hasil autopsi yang tidak sesuai dengan keterangan Polri. Pertama, soal klaim kepolisian yang mengatakan pihaknya sudah pernah melakukan proses autopsi terhadap jenazah Siyono.

“Hasil autopsi menyebutkan, bahwa yang dilakukan oleh tim dokter forensik Muhammadiyah adalah yang pertama kalinya. Jadi tidak pernah dilakukan autopsi sebelumnya,” jelasnya di Kantor Komnas HAM, Jakarta, Senin (11/04/2016).

Kedua, bahwa penyebab utama kematian Siyono adalah karena luka patah tulang di area dada yang mengakibatkan rusaknya organ bagian jantung.

“Diduga kuat akibat benda tumpul sehingga ditemukan adanya patah tulang di bagian rongga dada, iga bagian kiri patah 5 kedalam, sedangkan kanan 1 patah keluar,” papar Siane.

Hal itu, kata dia, bertolakbelakang dengan apa yang disampaikan Polri bahwa luka benturan di bagian kepala yang menyebabkan tewasnya Siyono.

“Memang ada luka di bagian kepala semacam ketokan, tetapi tidak menyebabkan kematian. Dan juga tidak ada pendarahan,” ungkapnya.

Ditambahkan Dahnil Ahzar Simanjuntak, Ketua Pemuda Muhammadiyah mengatakan, bahasa mudahnya sebagaimana yang dijelaskan dokter, otak Siyono tidak seperti bubur merah, tetapi bubur putih, yang berarti tidak adanya pendarahan disana.

“Agak aneh kalau misalnya polisi bisa tahu penyebab kematiannya adlah pendarahan di kepala, karena polisi tidak pernah melakukan otopsi kecuali CT scan,” tukasnya.

Inilah Hasil Autopsi Penyebab Utama Kematian Siyono

Terakhir, terang Dahnil, yang menjadi perbedaan dengan keterangan kepolisan adalah tidak ditemukannya luka yang mencirikan bentuk perlawanan atau luka defensif.

“Tidak ada luka tangkis misalnya di bagian-bagian tertentu yang menunjukkan adanya perlawanan,” ungkapnya sambil menunjukkan daerah lengan tangannya mencontohkan.

Dahnil berkesimpulan, hal tersebut menjadi persoalan penting sebagai jawaban dan mengingat pernyataan Polri tersebut menjadi informasi yang keliru bagi masyarakat.*

Rep: Yahya G Nasrullah
Editor: -

Bagikan:

Berita Terkait

Ormas Islam Dinilai Sudah Tepat di Jalur Dakwah, bukan Politik

Ormas Islam Dinilai Sudah Tepat di Jalur Dakwah, bukan Politik

1.000 Hektare Sawah Berkurang dalam Setahun di Bali

1.000 Hektare Sawah Berkurang dalam Setahun di Bali

Jumat ini, Ahok akan Dilaporkan ke Mabes Polri oleh Irena Center

Jumat ini, Ahok akan Dilaporkan ke Mabes Polri oleh Irena Center

Petugas Satpol PP Minta Maaf ke Habib Umar Assegaf

Petugas Satpol PP Minta Maaf ke Habib Umar Assegaf

Gunung Soputan Meletus, Pemerintah Imbau Masyarakat Tenang, Tak Sebar Hoax

Gunung Soputan Meletus, Pemerintah Imbau Masyarakat Tenang, Tak Sebar Hoax

Baca Juga

Berita Lainnya