Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Nasional

Pentingnya Konsep Adab Dalam Bernegara

Dr Adian Husaini dan Gus Sholah dalam bedah buku 'Mewujudkan Indonesia Adil dan Beradab' di Hotel Sahid Surabaya, Rabu, (13/01/2016)
Bagikan:

Hidayatullah.com – Mengutip konsep adab Prof. Syed Naquib Al-Attas yang bertumpu pada tiga hal, yakni hikmah, adab, dan adil. Bahwa hikmah itu melahirkan adab, dan jika adab ditegakkan maka akan terjuwud al-adalah (keadilan).

Menariknya, tiga kata kunci diatas terkandung dalam konstitusi Indonesia, yakni Pembukaan UUD 1945 dan lebih khusus lagi dalam kelima sila Pancasila.

Pemaparan itu disampaikan Dr. Adian Husaini. MA pada saat acara launching buku karyanya berjudul ‘Mewujudkan Indonesia Adil dan Beradab’ di Hotel Sahid Surabaya, Rabu, (13/01/2016).

Adian mengatakan, bahwa konsep adab dalam bernegara merupakan suatu hal yang sangat penting. Sebab jika tidak dipahami, akan muncul 2 kutub.

“Satu adalah kutub pemikiran ekstrim dalam bentuk sekulerisme dan liberalisme. Ini berbahaya, karena memandang bahwa akidah dan syariat Islam harus disesuaikan dengan realitas kebhinekaan yang ada di Indonesia, sehingga dikembangkanlah gagasan Indonesia tanpa diskriminasi, fikih kebhinekaan, Islam Nusantara dan sebagainya,” jelasnya.

Satu kutub lagi, lanjut Adian, juga dinilai cukup ekstrim. Yakni harus memandang NKRI seolah sebagai ‘negara kafir’.

“Sehingga kaum Muslimin diharamkan memasuki sistemnya. Bahkan, menjadi anggota DPR dianggap sudah kafir,” kata Adian.

Untuk itu, Ia berkesimpulan, adab dalam bernegara sebagai seorang Muslim adalah meletakkan kesetiaan kepada Allah Subhanahu Wata’ala yang tertinggi.

“Itulah makna ketuhanan yang Maha Esa,” ungkap Ketua Progam Magister dan Doktor Pendidikan Islam Universitas Ibn Khaldun ini.

“Saya hanya ingin mengingatkan bahwa Munas alim ulama NU tahun 1983 di Situbondo merumuskan makna Ketuhanan yang Maha Esa adalah tauhid. Makanya tidak betul kalau ada yang mengatakan Indonesia itu negara netral agama, tokoh-tokoh kita dulu sangat cerdik mengkonsep ini. Jadi statusnya Indonesia ini sebetulnya adalah Negara Tauhid cara pandangnya, kalau memang ada bagian-bagian yang belum sesuai dengan syariat, ya itu tugas perjuangan,” pungkasnya.

Acara launching ini hasil kerjasama Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS) dan Bina Qolam Indonesia serta didukung oleh Yayasan Dana Sosial Al-Falah (YDSF).*

Rep: Yahya G Nasrullah
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Israel spyware Drone Myanmar

Kudeta Myanmar, Dinilai Perlu Langkah Konkret Pemimpin ASEAN Cegah Korban Jiwa Lagi

Kemendagri: Pemerintah Tak akan Gegabah Bubarkan FPI

Kemendagri: Pemerintah Tak akan Gegabah Bubarkan FPI

Gerindra: Efek Infrastruktur Rp 400 T Belum Maksimal, Malah Dirugikan

Gerindra: Efek Infrastruktur Rp 400 T Belum Maksimal, Malah Dirugikan

MUI: Kasus Singkil Berbeda dengan Tragedi Tolikara

MUI: Kasus Singkil Berbeda dengan Tragedi Tolikara

McJak: Masyarakat Terpengaruh Media, Padahal Banyak Pemimpin Muslim yang Lebih Baik

McJak: Masyarakat Terpengaruh Media, Padahal Banyak Pemimpin Muslim yang Lebih Baik

Baca Juga

Berita Lainnya