Sabtu, 27 Maret 2021 / 13 Sya'ban 1442 H

Nasional

Wagub Jatim Dorong Muslimat Hidayatullah Bentengi Anak dari Ancaman yang Merusak Keluarga

Bagikan:

Hidayatullah.com–Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf atau akrab disapa Gus Ipul membuka Musyawarah Nasional IV Muslimat Hidayatullah (Mushida) di Kampus Arrohmah Putri Pesantren Hidayatullah Batu, Malang, Jawa Timur, Kamis (07/01/2015).

Dalam sambutannya Gus Ipul mengatakan umat harus kuat diantaranya dengan melakukan pemberdayaan ekonomi tanpa melupakan aspek ukhrowi yang menurutnya harus selalu dinomorsatukan.

Jika seseorang takutnya hanya kepada Allah, kata Gus Ipul, di manapun dia berada akan merasa tenang baik dalam kesendirian maupun dalam keramaian.

“Kalau takutnya hanya pada Allah, pasti hati selalu tenang. Dimanapun berada,” katanya.

Lebih jauh Gus Ipul mengutarakan bahwa ada empat hal yang perlu menjadi perhatian umat Islam khususnya para muslimat dewasa ini dan mendorong untuk menjawab beragam isu penting tersebut.

Pertama, kata Gus Ipul, muslimat harus turut menjawab kian mewabahnya peredaran narkoba.

Dia menyebutkan, saat ini ada sekitar 6 juta orang Indonesia yang telah menjadi pengguna narkoba. Sementara di Jawa Timur sendiri ada sekitar 800.000 pengidap.

“Itu data resminya loh. Biasanya data yang tidak resminya bisa lebih hanyak dari yang resmi,” kata Gus Ipul.

Ironisnya, disebutkan Gus Ipul, peredaran narkoba dewasa ini tidak lagi pandang bulu bahkan telah menyasar kalangan anak-anak, kalangan santri dan Ustadz.

“Peredarannya pelan-pelan telah masuk ke ranah terkecil seperti keluarga. Muslimat Hidayatullah harus ambil bagian menjawab persoalan ini. Sebenarnya ini adalah tugas negara, tetapi rasanya itu tidak cukup. Kita harus terlibat aktif,” katanya.

Kedua, lanjut Gus Ipil, muslimat harus terlibat dalam menangkal maraknya kekerasan seksual teradap anak. Menurutnya, ini adalah fenomena global yang tidak saja terjadi di Indonesia.

“Perlu disadari bahwa kekerasan seksual teradap anak bisa mengenai siapapun sebab biasanya pelaku dan korban saling kenal,” katanya.

Karena itu, Gus Ipul mendorong dibangunnya kesalingpengertian antar angggota dan lingkungan masyarakat dalam menghadapi bahaya phedofil yang bahkan kerap disertai kekerasan ini.

Selain itu, Gus Ipul pula meminta keterlibatan aktif muslimat dalam menangkal tren penggunaan internet untuk pornoaksi dan pornografi. Dengan kehadiran teknologi informasi internet, terangnya, ia dapat saja mencelakakan penggunanya apabila tak capak dalam menggunakannya.

Gus Ipul menamsilkan internet layaknya sebuah pisau. Jika pisau itu dipakai tanpa pengetahuan tentang kegunaannya maka rentan memunculkan musibah. Sebab itu, ia mendorong pemanfaatan teknologi harus digunakan semata untuk kemaslahatan.

Terakhir, Gus Ipul menyoroti masalah radikalisme. Dia berpesan agar semua unsur masyarakat terlibat dalam menjaga keutuhan nasional dan memaknai Indonesia sebagai sebuah kesatuan, sehingga bibit radikalisme dapat dihilangkan.

Dikatakan Gus Ipul, Hidayatullah sama dengan NU, Muhammadiyah, dan ormas Islam lainnya yang beriman dan memiliki tanah air bernama Indonesia. Karena itu, lanjutnya, Hidayatullah dan semua ormas Islam penting memilliki tanah air dan menjaganya.

“Kalau mau lihat kekurangan bangsa ini memang banyak, bahkan sangat banyak, kalo kita liat realitasnya. Disitulah peluang kita untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut sangat terbuka. Kita bangga di Indonesia ada Hidayatullah, ada NU, ada Muhammadiyah, ada Matlaul Anwar, dan sebagainya yang disana terjaga ukhuwah bathiniyah dan ukhuwah bashariyah,” ujarnya.

Lebih jauh Gus Ipul mengapresiasi Munas IV Mushida yang mengusung tema “Dengan Keluarga Qur’ani, Tinggikan Martabat Bangsa” ini.

Menurutunya, keluarga adalah tempat segala sesuatu bagu anak generasi pelanjut dimulai.

“Keluarga yang menentukan masa depan anak. Keluarga menjadi benteng terakir dari berbagai pengaruh yang datang dari berbagai arah,” pungkasnya.*

Rep: Ainuddin Chalik
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Pengelola Wisma Setuju Dolly Ditutup

Pengelola Wisma Setuju Dolly Ditutup

Poligami, Solusi Mengatasi “Surplus” Akhwat

Poligami, Solusi Mengatasi “Surplus” Akhwat

Tokoh NU sebut Sudah tak Waktunya Dialog dengan Syiah

Tokoh NU sebut Sudah tak Waktunya Dialog dengan Syiah

Aktivis Malari: Jangan Sembarangan Tuduh Aksi Bela Islam Bayaran

Aktivis Malari: Jangan Sembarangan Tuduh Aksi Bela Islam Bayaran

Kasus Ibu Nuril: Jangan Sampai Hukum Kehilangan Hakikatnya

Kasus Ibu Nuril: Jangan Sampai Hukum Kehilangan Hakikatnya

Baca Juga

Berita Lainnya