Kamis, 25 Maret 2021 / 11 Sya'ban 1442 H

Nasional

Pengamat Berharap Poso Tak Lagi Jadi Panggung Sandiwara “Terorisme”

RoL
Operasi Meleo di Poso: Poso jangan jadi panggung sandiwara 'terorisme'
Bagikan:

Hidyatullah.com- Operasi perburuan Santoso, Cs yang dilabeli sebagai kelompok ‘teroris’ kembali digelar mulai pekan ini di daerah Poso. Demikian disampaikan oleh Direktur The Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA), Harits Abu Ulya dalam rilisnya yang diterima hidayatullah.com, Sabtu (07/11/2015).

“Aparat gabungan Polisi dan TNI dikerahkan, mencermati dengan teliti jalan penyelesaian Poso seperti melihat jalan tidak berujung. Artinya tidak ada solusi tuntas terukur yang di gelar,” ujar Harist.

Harist menyampaikan bahwa kita semua berharap semoga Poso segera damai, tidak ada lagi ‘Operasi Maleo-Maleo’ berikutnya. Ini operasi Camar Maleo yang ke-4, dan menurutnya kemampuan pemerintah melalui aparat Polisi dan TNI untuk menormalisasi keamanan Poso diuji dan operasi kali ini menjadi parameter keseriusan pihak pemerintah untuk menyelesaikan problem yang menaun ini.

“Kita berharap daerah Poso tidak lagi menjadi panggung permainan untuk kepentingan-kepentingan opurtunis baik oleh orang lokal Poso maupun dari luar Poso,” imbuh Harist.

Menurut analisanya, sejak awal baik intelijen Polri maupun organ intelijen militer dan BIN mengetahui peta dan kekuatan kelompok sipil bersenjata yang ada di daerah Poso. Namun, operasi demi operasi juga tidak berujung tuntasnya masalah bahkan justru melahirkan masalah baru.

“Saat sekarang dengan di gelarnya operasi camar maleo hingga ke 4 justru menunjukkan adanya tarik ulurnya kepentingan para aktor penentu kebijakan di pihak pemerintah,” cetusnya.

Harist juga menambahkan, seharusnya tidak perlu berlarut-larut dengan menggelar operasi kesekian kalinya yang berdampak lahirnya situasi dan kondisi yang tidak kondusif bagi kehidupan agama, sosial, ekonomi dan budaya masyarakat Poso.

Dari awal jika mau serius, bisa saja presiden bersama parlemen membuat keputusan politik yang relevan. Misalnya mengirim pasukan Raider TNI atau yang punya kemampuan gerilya, karena yang dihadapi mereka adalah orang sipil bersenjata dengan taktik gerilya. Dan perlu di catat, bahwa kekuatan real kelompok Santoso cs tidaklah sebesar yang di beritakan oleh media.

“Poso butuh sentuhan kebijakan yang komprehensif dari pemerintah pusat, mengedepankan persuasif dan humanisme daripada pendekatan senjata untuk menyelesaikan,”

Jangan lupa bahwa mereka yang di buru adalah WNI, sikap perlawanannya dilatarbelakangi kompleksitas persoalan termasuk residu konflik masa lalu yang tidak tuntas hingga sekarang.

“Poso jangan lagi jadi panggung sandiwara dengan judul terorisme Poso. Masyarakat Poso sudah sangat lelah didera persoalan ini yang tidak kunjung beres mendapatkan solusi tuntas dan manusiawi,” tandas Harist.*

Rep: Achmad Fazeri
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Indonesia Musnahkan Ratusan Babi Hentikan Flu Burung

Indonesia Musnahkan Ratusan Babi Hentikan Flu Burung

Akun WA Hairul Anas Diretas, BPN: Kepanikan PKI sudah ke Ubun-ubun

Akun WA Hairul Anas Diretas, BPN: Kepanikan PKI sudah ke Ubun-ubun

Pemerintah Harus Pastikan Maskapai Bebas Narkoba

Pemerintah Harus Pastikan Maskapai Bebas Narkoba

Jelang Wafat, Ibunda sempat Sahur dan Tonton Video Ceramah UAS

Jelang Wafat, Ibunda sempat Sahur dan Tonton Video Ceramah UAS

Politisi PDIP Bantah Sebut Situs Islam Berbahaya dibanding Pornografi

Politisi PDIP Bantah Sebut Situs Islam Berbahaya dibanding Pornografi

Baca Juga

Berita Lainnya