Kamis, 25 Maret 2021 / 11 Sya'ban 1442 H

Nasional

Aliansi Ormas Sumut Sesalkan Media Tak Jelaskan Penyebab Kerusuhan Aceh Singkil

Aliansi Ormas Islam Sumut
Bagikan:

Hidayatullah.com- Aliansi Ormas Islam Sumatera Utara menegaskan bahwa peristiwa kerusuhan di Aceh Singkil, pada 13 Oktober 2015 lalu tidaklah berdiri sendiri.

Ada serangkaian kekecewaan masyarakat Aceh Singkil terhadap Pemerintah Kabupaten Aceh setempat sejak tahun 1979, yang tidak bergerak cepat menertibkan gereja-gereja liar di Aceh Singkil.

Kesabaran umat Islam Aceh Singkil selama 36 tahun yang lalu sangat beralasan jika kehadiran gereja dan undung-undung yang tak berizin di wilayah ini dibiarkan begitu saja. Bahkan jumlahnya semakin banyak.

“Padahal sebelumnya pernah ada kesepakatan antara umat Islam dengan kaum Nasrani yang berdomisili di sini, bahwa hanya boleh dibangun 1 gereja dan 4 undung-undung. Berganti tahun, keberadaan gereja dan undung-undung (sejenis langgar) yang tak sesuai dengan SKB 2 Menteri malah semakin menggurita, ” ujar Ketua Rombongan Aliansi Ormas Islam Sumut, Rahmad Gustin kepada anggota Jurnalis Islam Bersatu (JITU) di Aceh Singkil, Sabtu (17/10/2015).

Pemerintah Aceh yang punya kekhususan dalam regulasi pembangunan rumah ibadah, tidak diindahkan oleh pihak Nasrani, sehingga mereka tanpa izin membangun gereja liar. Inilah yang ditengarai membuat masyarakat Muslim Aceh Singkil resah.

“Sebetulnya, dua hari sebelum kejadian (11/10), pihak keamanan sudah mengetahui masalah ini, stabilitas cukup memanas di Aceh Singkil. Pihak aparat beralasan, tak punya personil yang memadai untuk mengamankan sejumlah titik konsentrasi massa.”

Tuntutan masyarakat Muslim Aceh Singkil saat itu adalah mendesak agar Pemkab Aceh Singkil membongkar 20 gereja liar yang tak berizin. Seharusnya, rencana pembongkaran itu dilakukan pada tanggal 19 Oktober, namun umat Islam Singkil Aceh yang sempat berdemo ke kantor Bupati akhirnya bertindak sendiri. Pemkab Aceh Singkil dinilai lamban untuk melakukan pembokaran secepatnya.

“Ada kesan, Aceh Singkil ingin dibuat seperti DOM di masa lalu. Situasi di mana tentara menenteng senjata di mana-mana. Ini menimbulkan ketidaknyamanan warga pendatang dan penduduk yang bermukim di sini. Kita serukan kepada pihak keamanan untuk segera meredam dan menyelesaikan masalah di Kabupaten Aceh Singkil,” ungkap Rahmad Gustin.

Tim Pencari Fakta bentukan Aliansi Ormas Islam Sumut, selain melakukan investigasi dan advokasi terhadap korban yang terkena tembakan, juga  mendampingi tiga tahanan dari pihak muslim Aceh Singkil yang kini ditahan Polres Aceh Singkil.

Hasil investigasi Tim Pencari Fakta yang telah terbentuk ini diharapkan dapat mengetahui dan menjelaskan kepada masyarakat tentang kejadian yang sebenarnya.

“Sangat disayangkan, jika media yang mengedepankan prinsip bad news is a good news hanya memberitakan sisi pembakarannya saja, tapi tidak diurai penyebab dan latar belakang kenapa kerusuhan di Aceh Singkil bisa terjadi. Akibatnya timbul asumsi publik seraya menjustifikasi, seolah muslim Aceh intoleran,” kata Rahmad Gustin.*/Des 

Rep: Achmad Fazeri
Editor: -

Bagikan:

Berita Terkait

Pasal Berlapis Menunggu Bintang Video Mesum

Pasal Berlapis Menunggu Bintang Video Mesum

Komisi I: BSSN Harus Mampu Antisipasi Berbagai Serangan Siber

Komisi I: BSSN Harus Mampu Antisipasi Berbagai Serangan Siber

MUI Kecam Sikap Asal Tembak Densus 88

MUI Kecam Sikap Asal Tembak Densus 88

Dua Gepok ‘Uang Damai’ untuk Keluarga Siyono Dibongkar, Isinya Rp 100 Juta

Dua Gepok ‘Uang Damai’ untuk Keluarga Siyono Dibongkar, Isinya Rp 100 Juta

Terkait ‘Kriminalisasi’ Ulama dan Aktivis, Komnas HAM Akan Panggil Presiden

Terkait ‘Kriminalisasi’ Ulama dan Aktivis, Komnas HAM Akan Panggil Presiden

Baca Juga

Berita Lainnya